*

Pages

Friday, 10 July 2020

Sebuah alasan.

Ini hanya sedikit opini dariku, seorang insan biasa yang masih sering melakukan salah dan dosa, tidak sempurna dalam mengamalkan apa yang keluar dari lisannya, tetapi selalu mengharap kasih-Nya. A note to myselfin case I forget why I decided this kind of choice.



Pernahkah kamu bertanya-tanya, “kenapa sih suka ada orang yang tidak berkenan memasang foto yang visual dirinya di ranah publik, feed instagram misalnya?

Mungkin ada pendapat yang saling sahut-menyahut seperti, “wah, doi insecure ini mah, pasti.” atau “ukhti-ukhti, wajar.” atau “nggak ada kuota kali ya”, dll.

Terlepas dari apapun alasannya, hal mendasar yang harus kita pahami adalah bahwa itu merupakan hak dirinya pribadi. Mau nge-post sesuatu atau tidak, tidak lantas membuat pengaruh yang signifikan dalam hidupmu, bukan? Lagipula, sudah seharusnya kita untuk selalu berusaha berhusnudzan kepada semua orang. Biar nggak bikin ribet diri sendiri, gitu aja sih.

 

Aku akan kilas balik ke kejadian beberapa tahun yang lalu, saat masih duduk di bangku kuliah S1. Mungkin ingatanku kurang sempurna dalam menggambarkan setiap detailnya, namun aku bertujuan untuk menyampaikan poin pentingnya.

Hari itu cukup cerah, betapa sumringah dan merekahnya hati ini ketika mendapatkan informasi bahwa akan ada kegiatan yang diselenggarakan di Wisma Duta KBRI Ankara. Bagaikan angin segar bagi para diaspora Indonesia disana, aku dengan sangat antusias ingin menghadirinya. “Modus” bagi para perantau yang berkesempatan hadir di kegiatan-kegiatan KBRI adalah bisa membayar rindu akan masakan nusantara yang agak sulit untuk di-eksekusi di dapur apartemennya masing-masing.

Tak kusangka selain hari yang cerah, hari tersebut juga cukup baik untuk mengubah persepsiku atas sesuatu yang awalnya tak kuanggap “serius”. Seusai kegiatan di Wisma, kami semua bergegas untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Bukan maksud hati mencuri dengar, tapi memang terdengar dengan sangat jelas di telingaku, sebuah percakapan yang membuatku tak enak hati jika tak bereaksi apa-apa. Percakapan antar anak lelaki sebayaku,

“eh, kamu tahu nggak si AAA (menyebut nama seorang gadis)?”, tanya anak laki-laki pertama.

“nggak, kenapa? Cantik nggak anaknya?”, tanya anak laki-laki kedua.

“beuh.. cantik banget. Gak percaya? Nih liat instagramnya.”, anak laki-laki pertama menunjukkan sesuatu.

“wah... si BBB juga oke tau (sambil mencoba mencari instagramnya)”, anak laki-laki kedua menyela.

Entah kalian mau menilai aku apa atas responku kemudian, tetapi aku sebagai seorang perempuan yang mendengar degan jelas hal tersebut, dan mereka tahu aku sedang berada di lingkungannya, merasa....sangat.....tidak....nyaman. Aku pun berkata halus pada mereka,

“ih kalian teh liat-liat instagram cewek.”, sambil berusaha mengontrol kata-kata yang akan kulontarakan.

“ya gak apa-apa lah, kan dianya juga upload (sembil terus scroll, karena ingin memperlihatkan foto yang katanya ‘oke’ tersebut)”, jawab laki-laki kedua santai sambil terus menatap layar telepon genggam di tangannya.

DEG! Disitu aku merasa TEMAN-TEMANKU TERSEBUT SEDANG MELIHAT-LIHAT KATALOG, terus scroll up - scroll down. Yep katalog? Yang menjual suatu produk. Dan aku tidak ingin menyamakan diri ini dengan sebuah produk, yang bisa sesuka hati dilihat-lihat.

Hari itu merupakan turning point bagiku. Aku disadarkan akan dark side dari media sosial, meskipun tidak sekelam itu. Tapi hal tersebut cukup memberikan tamparan yang keras bagiku. Memang akupun masih belum sempurna. Masih ada pula fotoku yang bertebaran, bahkan terkadang memang sengaja publikasi untuk tujuan “have fun”. Namun jauh di lubuk hati, aku inginkan untuk meminimalisir hal tersebut. Aku tidak ingin orang dengan mudahnya melihat-lihat “katalog” beratasnamakan diriku.

 

Oh iya, tentang kedua temanku tersebut. Tenang, mereka sesungguhnya anak yang sangat baik. Hanya berbeda perspektif denganku. Bisa jadi juga mereka memiliki intention lain dari hal tersebut. Kisah ini mengingatkan aku juga akan perkataan yang disampaikan oleh seorang teman yang lain,

“Wits, kamu kan aktif banget ya anaknya. Selalu ada di setiap kegiatan. Tapi kok nggak ada ya anak laki-laki yang ngomongin kamu?”, tanya temanku.

Aku sangat kaget mendengar pernyataan sekaligus diberikan pertanyaan seperti itu. Aku tidak menjawabnya, hanya menjatuhkan pandangan isyarat aku tidak memahami maksud dari ucapannya barusan.

“Iya kan kita cowok-cowok kalau kumpul tuh suka ngomongin cewek. Misalnya sih teteh A karena blablabla, teteh B karena bliblibli, atau C karena blublublu (secara fisik, karakteristik, dsb). Tapi kamu tuh nggak sama sekali. Aku nggak pernah denger ada yang bicara tentang kamu.”, katanya panjang lebar.

Sebenarnya itu hak mereka dan bukan urusanku juga. Tapi disitu, hati ini tidak bisa merasa tenang. Aku kesal karena merasa harga diri sebagai perempuan sedang dicabik-cabik saat itu. Meski yang dibicarakan bukanlah tentangku, tapi aku merasa tidak sampai hati mendengar yang dibicarakan tentang teman-temanku. Jujur setelah hari itu aku jadi seperti illfeel. Saat itu mataku juga seperti membendung air mata, tak kuasa menahan sesak di dada, namun aku tak boleh keluarkan. Aku menjawab,

“Hah? Kalian kalau ngumpul suka ngomongin perempuan? Kayak nggak ada kerjaan aja deh. Dan satu lagi, nggak ada cowok yang ngomongin aku? Alhamdulillah banget ya Allah. Aku mah bersyukur banget. Karena aku nggak mau dan nggak berharap juga ada cowok-cowok yang ngomogin aku untuk perihal semacam itu (bukan dalam konteks yang penting dan bermanfaat).”, cecarku.

Tidak ada sedikitpun rasa iri karena perempuan lain lebih sering dibicarakan. Aku malah akan merasa sangat takut jika ada orang yang membicarakanku dalam konteks seperti itu. Well, setidaknya hari itu aku jadi mengetahui setitik debu sudut dunia yang lain, dunianya anak laki-laki.

Dia malah bertanya lagi, “kalian kalau cewek-cewek suka ngomongin cowok nggak pas lagi ngumpul?”

“nggak lah (dalam konteks yang seperti mereka lakukan). Ngapain juga.”, jawabku yang mulai agak sewot dan malas menjawab pertanyaannya.

 

Dua kejadian yang bisa kukatakan cukup menaikkan pitamku namun memberikanku banyak ruang untuk membentuk sudut pandang yang baru agar lebih bijak lagi dalam bertindak. Kalau kalian perhatikan, aku menyebut teman-temanku tersebut sebagai “anak laki-laki”, karena imo not mature enough for doing such things. inshaaAllah di hari ini aku yakin, para “anak laki-laki” itu sudah menjadi para “pria” yang pastinya menghargai perempuan. Allahumma aamiin.

 

Kalau kata temenku, “I need a man, not a boy”.

Eh bentar kok jadi gak nyambung ya? Maap maap. WKWK


Share:

Sunday, 28 June 2020

Witsqa Masak: Rabokki (Ramyeon + Tteokbokki)

Rabokki merupakan akronim dari Ramyeon dan Tteokbokki, termasuk snack yang biasa dihidangkan di negeri ginseng. Ternyata membuatnya nggak sulit! Ada solusi sebagai pengganti dari gochujang, yang cukup pricy jika di Indonesia. Karena saya orang sunda, jadi emang seneng banget ama si tteok ini. Cobain deh! Semoga cocok juga ya di lidah kalian. Bahan-bahannya cukup mudah untuk ditemukan.
DISCLAIMER! Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasal dari mana saja; youtube, blog, resep turun-temurun, dll. Selamat mencoba!
Rabokki

Bahan-bahan:
Tteokbokki
·  Tepung beras 6 sdm
·  Tepung Tapioka 5sdm
·  Air mendidih 13-14 sdm
·  Garam ½ sdm

Saus
  • Saos sambal 3 sdm
  • Saus tiram 1 sdm
  • Saus tomat 1 sdm
  • Kecap manis 1 sdm
  • Cabe bubuk 1 sdm
  • Gula pasir 1 sdm
  • Air 250 ml
·        Ekstra
  •       Telur
  •       Mie instan kering
  •       Keju
·      
      Langkah-langkah:
Tteok
  1.  Sangrai tepung beras yang akan digunakan.
  2.  Campurkan tepung beras yang telah disangrai, tepung tapioka dan garam. Aduk merata.
  3.  Masukkan air mendidih.
  4.  Uleni hingga kalis.
  5.  Dipotong-potong seukuran tteok sesuai selera Anda.
  6.  Rebus tteok hingga matang

 Rabokki
  1.   Masukkan bahan sausnya ke dalam wajan.
  2.   Tuangkan 250 ml air, aduk hingga merata.
  3.   Masukkan tteok yang telah matang, telur yang telah direbus, mie instan kering, keju.
  4.   Tunggu hingga mie nya matang.
  5.   Rabokki siap dihidangkan.

 Tips:
  • Menyangrai tepung beras tujuannya untuk menghilangkan bau. Tapi, saya kelupaan nggak sangrai dulu, tapi tetap aman. Karena tepung tapioka yang digunakannya cukup banyak.
  • Uleni selagi panas. Jangan menunggu dingin. (harus gunakan air panas)
    Kalau terlalu panas, gunakan sendok dulu, kemudian setelah menghangat uleni dengan tangan sampai berbentuk adonan.
  • Supaya menjamin tteoknya matang hingga bagian dalam. Dapat dilubangi dengan tusuk gigi ataupun tusuk sate.
  • Untuk ekstra dapat menggunakan bahan-bahan sesuai selera. Bisa gunakan sosis, bisa taburkan daun bawang dan wijen, dll. 


Referensi:

Berikut adalah resep diatas dalam bentuk gambar




Share:

Wednesday, 10 June 2020

Diet Sosial Media dan Gadget

Pernah nggak sih kalian ngerasa penat banget? Tapi nggak tahu apa penyebabnya dan bagaimana solusinya? Disini aku bakalan share opiniku mengenai hal tersebut and how I cope with it.

Kesehatan atas pikiran kita adalah tanggung jawab dari diri kita masing-masing, setuju nggak? Di era yang semudah sentuhan jari untuk memperoleh berbagai informasi ini, nampaknya tidak selalu memberikan dampak yang positif. At least, buat aku. Hal ini aku sadari semenjak aku duduk di bangku kuliah S1, tidak ingat betul sejak tahun ke berapa, namun aku benar-benar mulai merutinkan self-detox dalam bentuk diet sosmed itu di awal tahun ketiga.

Aku merasa terlalu banyak informasi yang kuterima dengan aku membuka sosial media. Bahkan ada masanya informasi yang menurutku seharusnya aku bisa saja tidak mengetahuinya, jadi malah tahu. Contoh real-nya nih ya, di sosial media kan aku terhubung dengan teman-temanku dan ternyata dia disitu ada membagikan fotonya dengan seorang pria yang katanya kekasih hatinya. Di satu sisi, aku merasa tidak perlu mengetahui informasi semacam itu dan takutnya dari situ terpercik lah dosa meski sedikit demi sedikit. Intinya itu yang ada di mindset aku sewaktu dahulu. Kalian mungkin bakalan pikir, I was too naive. Tapi itu yang benar-benar aku pikirkan saat itu.

Aku nggak merutinkan diet sosmed-ku secara teratur sih. Hanya jika sudah mulai merasa overflowing by informations yang ditandai dengan emosi kurang stabil dan hilangnya kedamaian dalam pikiran. I stop for awhile. Lebih dari itu nggak hanya diet sosmed, aku juga lakukan diet gadget (utamanya handphone). Biasanya maksimal aku nggak lihat handphone itu sampai tiga hari (dengan kondisi memang tidak ada hal penting yang sedang kukerjakan yang menuntut koordinasi dengan orang lain), tapi untuk diet sosmed minimal durasinya selama satu minggu. Setelah itu biasanya aku merasa lebih segar lagi.

Tanpa disadari, banyak banget hal yang lebih bermanfaat yang kulakukan ketika diet sosmed dan gadget. Aku bisa lebih banyak bermuhasabah / berkontemplasi, banyak membaca (baik itu buku, berita maupun artikel), dan masih banyak lagi.

Aku mencoba mengidentifikasi lagi, apakah itu dikarenakan aku terlalu banyak bermain sosial media? Tidak juga. Aku mengatur batas waktu untuk tiap jenis aplikasi yang kugunakan. Yaaaa suka ngelanggar juga sih (soalnya alokasi waktu yang aku kasih hanya 1 jam untuk sosmed itu, guys wkwk), tapi aku merasa masih dalam batas manusiawi. Mungkin karena memang informasi-informasi telah terlalu bertumpuk di kepalaku tanpa kusadari, atau kondisiku pada saat itu sedang banyak yang harus dikerjakan, idk either. Kalau diilustrasikan, saat-saat seperti itu kepalaku itu isinya seperti benang yang kusut. Sehingga beberapa waktu berjarak dengan mereka adalah sebagai upaya untuk mengatur benang kusut tersebut agar kembali rapi dan lurus.

Ingat sekali ketika berkesempatan untuk diskusi dengan beberapa kakak angkatanku (ciwi-ciwi) saat S1 dulu, kami membahas tentang platform instagram. Seorang kakak kelasku mengatakan dengan penuh antusias bahwa instagram itu untuk refreshing. Scroll scroll untuk refreshing. Kemudian aku mengemukakan pendapatku yang sebaliknya, bahwa terkadang ia menambah kepenatan. Namun nampaknya aku minoritas disitu wkwk, bahkan hanya aku saja yang memiliki perspektif seperti itu. Oh iya, kenapa mesti banget aku mention kalau aku diskusi dengan ciwi-ciwi aka perempuan? Karena cara berpikir perempuan dan laki-laki itu jauh berbeda, katanya. Bisa jadi menurut laki-laki, hal sepele seperti ini mah bodo amat, yaaa aku nggak tahu.

Mungkin kalian bakal mikir, "njeh Witsqa ribet amat, yaudah close aja tuh sosial media."
Aku udah pernah lakukan itu berkali-kali, bukan karena engaging yang membuat aku kembali membukanya, tetapi dikarenakan masih ada kewajiban yang mengharuskanku memiliki sosial media dan banyak juga akun-akun yang aku ikuti dan memberikan faedah yang cukup banyak, yang nggak bakal lama aku temukan jika hanya mengurut dari buku bacaan. That's it. Mungkin aku yang harus lebih mengontrol diri aja dan menyaring informasi-informasi yang aku terima. Aku masih butuh banyak belajar. Apakah kalian memiliki pendapat?

Ini ceritaku, nggak ada yang benar dan nggak ada yang salah, yang ada hanya yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, setuju?!

Wallahu a'lam
Share:

Cerita tentang Berfokus

Beberapa waktu yang lalu, saya berjalan didalam rumah kemudian terduduk di bangku ruang tengah. Saya fokus dengan makanan yang sedang saya nikmati, karena saya purna menyelesaikan shaum saya di hari itu (bandelnya saya tidak makan di meja makan hari itu). Sewaktu saya berjalan, saya merasa kaki saya menginjak sesuatu, dan lagi-lagi cerobohnya saya, saya hanya coba singkirkan tanpa melihatnya. Saya yang sedang terfokus dan asyik dengan hidangan yang sedang dinikmati merasakan ada yang aneh dengan telapak kaki saya itu, seperti terasa perih.  

Ilustrasi

Saya pun melirik telapak kaki saya, kaget bukan main karena darah terlihat keluar dari telapak kaki saya tersebut. Saya kaget melihat darah sendiri dan badan ini seperti membeku. Ternyata bisa jadi serpihan kaca tersebut berasal dari jam dinding yang tergedor saat kami sedang memindahkan barang-barang beberapa hari sebelumnya.

Setelah direnungkan, value yang dapat disimpulkan dari kisah ini adalah....
Jika kita fokus dengan apa yang kita kerjakan, distraksi apapun dari luar bisa terabaikan.

Starve your distractions, feed your focus 😃

Note: I am still learning though
Share:

Thursday, 4 June 2020

Kematian




Hari ini tiba-tiba ibu membahas mengenai hal ini, kemudian kami bicara. 
"Ibu nggak mau kalau ditinggal ayah, maunya ibu yang duluan", sembari menitikkan air mata. 
"Kamu nggak tau rasanya, berbeda antara ditinggal orangtua dan pasangan.", melanjutkan.
Ya, mungkin karena kita hanya tinggal dengan orangtua hingga seperempat abad, namun bersama pasangan hingga penghujung usia. Oleh sebab itu pernikahan disebut dengan ibadah terlama.
"Dia yang sudah memahami baik buruknya kita dan bersabar dengannya, bersabar pula dalam menuntun menuju kebaikan. Teman yang selalu ada membersamai."
Aku hanya dapat menatap wajah ibu.

Usut punya usut, rupanya pagi sekali ayah membuka topik mengenai hal ini.
"Ayah gak bisa kayaknya kalau ditinggal ibu, ibu harus sehat. Inginnya nanti ayah yang duluan", katanya.
Ibu yang mendengar ucapan ayah merespon, “yaudah, berdoanya biar bareng-bareng aja”. 
Aku sesungguhnya tak kuasa menahan air mata saat itu. 

***

Teringat beberapa tahun silam ibu pernah mengungkapkan keinginannya untuk menghembuskan nafas terakhir di tanah suci. Alhamdulillah ibu sempat diberangkatkan haji pada tahun 2015, namun terpisah dengan ayah yang diberangkatkan pada tahun 2016, karena kekeliruan urusan administrasi membuat ayah dan ibu terpisah jauh.

Ingat kan apa yang terjadi pada angkatan haji tahun 2015? Terdapat kejadian crane yang roboh. Sesaat setelah mendengar informasi tersebut, aku sangat tidak tenang. Aku pun sulit menghubungi ibu. Ku telepon-telepon tapi tak ada jawaban. Sampai-sampai orang-orang yang mengetahui bahwa ibuku sedang beribadah di tanah suci, menghubungiku secara beruntun, menanyakan kabar dan keadaannya (ada beberapa yang langsung menasihati untuk siap bersabar dengan segala ketentuan-Nya).

Aku menangis dan menangis takut ibu dilanda kesulitan, tak pernah berani memikirkan kemungkinan terburuk. Saat itu tak ada ayah yang menemani ibu. Ibu berangkat seorang diri (meski pada praktiknya bersama rombongan). Aku pun teringat harapan ibu yang selalu diungkapkan di hari-hari sebelum keberangkatannya, tentang ibu yang ingin menghembuskan nafas terakhir di tanah suci.

Aku mengangkat kedua tanganku dengan berat dan namun terus berurai air mata, 
“ya Allah aku ikhlaskan segala ketentuan-Mu atas ibuku. Aku ikhlaskan segala skenario-Mu.”
Berat sekali aku mengungkapkan kalimat-kalimat itu. Tercekat di tenggorokanku. Tapi di lain sisi, muncul ketakutanku, jika doa-doaku sebelumnya malah memberatkan ibu. Ibu yang ingin menghembuskan nafas terakhir di tanah suci. Karena memang setiap berdoa aku selalu menyatakan ketidakmauanku ditinggalkan ibu, sangat tidak mau. Setelah itu, aku mempertanyakan diriku sendiri, 
"Apakah selama ini aku bukanlah anak baik? Karena tidak mengikhlaskan dan mengamini keinginan ibunya sendiri."

Tak berselang lama, beberapa jam atau hari setelah itu rasanya (aku lupa). Ada telepon masuk, ternyata dari ibuku! Beliau hanya dapat berbicara sebentar. Karena saat keberangkatan aku tidak di Indonesia, aku tidak dapat memastikan segala kebutuhan ibuku terutama mengenai komunikasi. Sehingga komunikasi kami seperti benar-benar terputus.

Setelah ibu menelpon, aku langsung mengisi pulsa telepon internasional dan menelpon ibuku. Rupanya selama ini ibuku terlalu memfokuskan diri beribadah sehingga tidak menyadari ada telepon dariku. Lalu, aku bermaksud memastikan keadaan ibuku dan menanyakan tentang kejadian crane jatuh tersebut. Qadarullah, Allah maha baik. Crane terjatuh sesaat setelah ibuku kembali ke tempat istirahat, kurang lebih satu jam selisih waktunya. Tipis sekali. 

Hanya sepuluh menit kami dapat berbicara, karena terbatas atas pulsaku yang habis dan ibu yang ingin melanjutkan beribadah. Tetapi hal tersebut sudah cukup membuatku merasa lega.

***

Mengingat kejadian tersebut, aku yang biasanya langsung menyatakan, "Jangan berdo'a kayak gitu"
Hanya bisa terdiam. Karena aku mulai memahami, bisa jadi itu adalah cita-cita tertinggi seorang hamba. Hamba dengan tulang rusuknya. Aku hanya bisa menangis dan memeluk ibuku erat.






Share:

Monday, 25 May 2020

Restarting my Life

Alhamdulillah, kemarin hari Ahad 25 Mei 2020, umat muslim telah merayakan hari kemenangannya. Meski raga sesama saudara tak dapat saling mendekat, semoga kita tetap mampu untuk memaknai Ramadan dan Idul Fitri 1441 H tahun ini. Allahumma aamiin. Semoga Ramadan kali ini menjadi Ramadan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Pernah muncul sebuah topik obrolan yang cukup menarik antara saya dan seorang teman saya. Teman saya berhasil mengaktifkan kembali sebuah sisi dari pribadi saya yang rasanya hilang beberapa saat (sebenarnya dapat dikatakan cukup lama hehe), Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Terima kasih atas perantara-Nya tersebut. Jadi, saya merasa ada beberapa 'ghirah' yang dahulu sempat sangat menggebu-gebu dan saya sendiri sangat antusias dalam menyambut dan menjalaninya, namun hilang begitu saja, seiring dengan tekanan duniawi yang semu dan menjemukan. Ya, saya sangat akui dan sepenuhnya sadar akan hal tersebut.


This is what are we gonna talk about.

Dari ilustrasi diatas sudah jelas terlihat tentang apa yang ingin saya utarakan disini. To be exact: After Ramadan Resolutions.
"Oh, setelah Ramadan.", ujar saya dalam hari.
Menarik. Mungkin sudah saatnya bagi saya untuk memperbaharui resolusi dan misi hidup ini. Alhamdulillahnya selama saya merasa kehilangan 'ghirah' ini saya tidak pernah barang sedetik pun terlupa akan visi hidup yang selalu saya genggam. Belajar dari masa-masa berjuang di S1 dahulu. Ada seorang kakak senior yang mengingatkan kalau terkadang terlupa akan visi hidup. Semenjak itu, saya selalu simpan lekat dalam pikiran dan hati. Agar diri mampu untuk tetap on the right track. On the left track juga gak masalah sih. yang penting masih dalam track, hehe. Paham sama jokes aku nggak ya? Haha.

Pada intinya adalah membuat resolusi setelah Ramadan di setiap tahunnya. Saya yang akhirnya tergerak untuk 'mencoba lagi' pun bangkit dan membuka buku planner yang pernah saya buat beberapa tahun lalu. Ya. Buku tersebut berisi rencana lima tahunan saya. Saya pandang lekat-lekat, baru dua yang saya beri check mark, serta satu buah yang saya coret (tanda tidak berhasil dipenuhi), dari sekian list yang saya tuliskan. Tulisan tersebut saya buat di tahun 2017, sekarang 2020, artinya saya masih memiliki kurang lebih dua tahun lagi untuk memenuhi perencanaan-perencanaan saya tersebut, inshaaAllah jika Allah izinkan dan ridhai.

So, poin penting yang bisa kita uraikan disini dan berdasarkan yang saya jalani adalah:

  1. Miliki, jaga dan pelihara visi hidup
  2. Tentukan misi dalam mencapai visi hidup (buat list yang banyak, realistis ataupun fantastis tak apa. inshaaAllah rezeki Allah dari hal yang tidak disangka-sangka.)
  3. Buat perencanaan tahunan
    Tak apa buat perencanaan setinggi mungkin. Sehingga kita akan mengusahan berbagai cara (yang diridhai Allah tentunya) untuk dapat memenuhinya.
  4. Buat perencanaan lima tahunan
  5. Evaluasi dari setiap perencanaan kita saat sudah masuk waktu jatuh tempo
Mohon maaf dikarenakan tulisan kali ini mungkin agak kurang terstruktur dengan baik. Tapi besar harapan saya dapat dipetik ilmunya yang hanya sedikit ini.
Share:

Thursday, 21 May 2020

Tasbih / Tally Counter



Apa yang terbesit dalam benak kalian ketika membaca judul yang aku sematkan? Sebagian besar dari kalian pasti bakalan jawab, ya itu mah alat bantu supaya pas lagi zikiran nggak lupa itungan aja sih ya. Atau ternyata ada hal lain? Boleh banget di-share di kolom komentarnya. Hehe



Disini aku nggak akan ‘men-tarbiyah’ tasbih itu apa, dzikir itu apa, dst. Tapi aku bermaksud membagikan hal yang mungkin terdengar biasa saja di telinga kalian, tapi ini tuh benar-benar membuat aku melek dan lebih aware lagi. Ini tentang hubunganku dengan mereka, tasbih digital itu, atau yang punya nama keren tally counter. Yang aku pahami tuh, yang namanya ibadah baiknya gak perlu diumbar-umbar, yes, pasti setuju semua dong. Nah, tapi aku sempat merasa ada satu hal yang kontradiksi gitu, “lah kok katanya jangan diumbar-umbar, tapi kenapa tasbih / tally counter ada di tangan, kan orang jadinya bisa liat”. Aku bertanya-tanya, tapi tetap dalam ruang husnudzan, inshaaAllah. Waktu itu mungkin aku juga lagi lupa, kalau ada sebuah hadits yang bunyinya seperti berikut. 

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِDari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Lagian kenapa pula aku mesti merhatiin sekitar ampe segitunya, kan? Tapi yang namanya kepo, tuh bikin pingin tahu banget (yaiyalah wkwk, kalau bikin jadi nggak pingin tahu malah aneh). Cuma gak mungkin juga kan tiba-tiba tanya stranger kayak gitu, bisa-bisa langsung kabur dianya.

Nah qadarullah, Allah tuh baik banget, ngasih aja gitu momen yang pas ke aku. Saat itu, aku lagi kumpul sama teman-teman, dan diantara teman yang ada tuh ada seseorang yang aku anggap paling paham dan ilmunya tinggi. Kutanya lah apa yang mengganjal di hati dan pikiranku selama ini. Kemudian dia diam sejenak dan menarik napas, lalu menjawab

“Gini teh. Memang betul segala bentuk ibadah itu baiknya hanya kita dan Allah saja yang mengetahui. Namun untuk kasus yang teteh tanyakan itu, situasinya agak berbeda. Berbedanya bagaimana? Kita ini manusia, seringnya lupa dan tak luput dari dosa. Jadi dengan adanya tasbih / tally counter di tangan kita, membuat kita yang awalnya sedang bengong aja itu, jadi ingat untuk merubah haluan jadi dzikiran. Anggap aja alat-alat tersebut itu sebagai perantara pengingat supaya tetap dan terus berdzikir. Gitu teh.”

Beliau menjawab dengan tenang, tertata dan lembut. Iya juga sih, terkadang kan ketika kita melakukan perjalanan dari rumah entah ke market, kampus, atau kemanapun itu, nah, pada saat di perjalanan mungkin malah bengong aja, memikirkan hal yang nggak jelas juga, tahu-tahu udah sampai aja di tempat tujuan. Agak sayang juga ya sama waktu yang ada yang sebenarnya bisa lebih bermanfaat.

Lagipula, berdzikir itu adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain dapat menenangkan hati, berdzikir juga bermanfaat untuk memberikan ketenangan pikiran. Rasulullah SAW juga sering menggunakan waktu luangnya untuk berdzikir. Karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk ibadah dan bisa dilakukan sebanyak-banyaknya. Sebagaimana yang tertulis dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 41, yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.”

Kemudian ibunda Aisyah r.a. berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
Artinya: “Rasulullah selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap kesempatannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Nah mungkin dari hal tersebut bakalan memicu pertanyaan selanjutnya, yaitu kalau nggak ada tasbih / tally counter bagaimana?
Inget ya, benda-benda tersebut tuh hanya perantara. Jangan sampai harus banget ada benda-benda tersebut (khawatir tanpa sengaja, kita jadi malah mencederai akidah jika bergantung pada keberadaannya). Jadi, dzikir itu mesti jalan terus ketika ada maupun tidak ada tasbih / tally counter ya! Tapi kalau tujuannya ingin keep on track udah berapa banyak dzikir kita, ini ada tips dari Wirda Mansur yang pernah aku lihat di channel youtube nya, diantaranya:
1.         Gunakan kertas yang disobek-sobek menjadi 33 bagian (kecil-kecil saja)
2.         Kemudian kertas-kertas tersebut dibuat bola-bola
3.         Ketika mau mulai berdzikir, simpan bola-bola tersebut di kanan (misal).
4.         Jika mulai menghitung, pindahkan bolanya ke kiri.
5.         Dan seterusnya.
Ada rasa menyenangkan juga, karena serasa sembari memainkan bola-bola tersebut, katanya.

Cerita Tentang Dzikir
Mungkin kita semua sudah tidak asing lagi dengan hadits berikut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi SAW bersabda,
كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694)

Nah, ada seorang temenku tuh yang mengamalkan ini, dia dawamkan terus. Voila! Kemudahan selalu menghampirinya. Lagi jalan, mau turun pakai lift (karena dia tinggal di lt. 5), eh liftnya langsung datang tanpa perlu dia nunggu lama. Ketika mau naik bis, sesampainya dia di halte tepat bersamaan dengan bis yang ingin ditujunya tiba. MashaaAllah banget lah kekuatan dzikir tuh.

Yaaa.... Aku memang belum ahlul dzikir, diantara kalian juga mungkin ada yang belum. Setidaknya kita semua berusaha ya! Kalau sudah ada kawan yang ahlul dzikir dan baca artikel ini, doakan kami para pejuang dzikir ini ya. Hehe

Oh ya, apakah teman-teman sudah pernah mendengar kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan tukang roti? Kisah ini tuh benar-benar melekat banget dipikiranku. Aku akan ceritakan ulang yaaa. Biar tidak menghilangkan esensinya, ceritanya ini akan aku sadur dari link ini.
Begini ceritanya...

Imam Ahmad bin Hanbal r.a. (murid Imam Syafi’i) yang dikenal sebagai Imam Hanbali. Di masa akhir hidup beliau bercerita, 
  “Suatu ketika (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak –dalam manaqib Imam Ahmad beliau menuju Bashrah.” 
Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat. Akhirnya Imam Ahmad bin Hanbal r.a. berangkat sendiri menuju ke kota Bashrah. 

Beliau meriwayatkan 
  “Saat tiba di sana waktu Isya’, saya ikut salat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian tiba-tiba saya ingin istirahat.”
Selepas salat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba sang marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya,
  “Kenapa Syaikh, mau ngapain di sini?" 
term “Syaikh” dalam tradisi Arab bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena imam Ahmad kelihatan sebagai orang tua.

Marbot tidak mengetahui kalau beliau adalah Imam Ahmad, dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. Di Irak, semua orang kenal siapa Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadis, beliau hafal sejuta hadis, sangat saleh dan zuhud. Ketika itu belum ada teknologi kamera dan media sosial seperti sekarang, sehingga orang tidak tahu wajahnya, hanya saja namanya sudah terkenal. Kata Imam Ahmad bin Hanbal r.a., 
  “Saya ingin istirahat, saya musafir.” 
  “tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”, jawab marbotnya.  
Imam Ahmad melanjutkan bercerita, 
  “Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, maka dikuncilah pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.” 
Ketika sudah berbaring di teras masjid marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad.
  “Mau ngapain lagi, Syaikh?” tanya marbot. 
  “Mau tidur, saya musafir,” jawab Imam Ahmad. 
Lalu marbot berkata, 
  “Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh.” 
Imam Ahmad diusir. 

(Disini sesungguhnya aku agak keki, kok gitu amat ngusir-ngusirnya. Tapi Allah Maha Tahu yang terjadi selanjutnya...)

Imam Ahmad bercerita, 
  “Saya didorong-dorong sampai jalanan”. 
Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang mengolah adonan roti, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Saat Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, 
  “Mari Syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.” 
Imam Ahmad menyetujuinya. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir). 

Penjual roti ini punya perilaku yang bisa dibilang unik, kalau Imam Ahmad mengajak berbicara, maka ia jawab. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar. Saat meletakkan garam mengucap istighfar, memecahkan telur dengan istighfar, mencampur gandum mengucap lagi istighfar. Selalu mengucap istighfar. 

Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu imam Ahmad bertanya, 
  “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?” 
Orang itu menjawab, 
  “Sudah lama sekali Syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”
Imam Ahmad bertanya, 
  “Apa hasil dari perbuatanmu ini?”
Orang itu menjawab, 
  “(berkah wasilah istighfar) tiada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah, langsung dikabulkan”.

Nabi SAW pernah bersabda: “Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya”. 
Lalu orang itu melanjutkan, 
  “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan.”
Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya, 
  “Apa itu?”
Penjual roti menjawab, 
  “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal.”
Sejurus kemudian Imam Ahmad bin Hanbal bertakbir, 
  “Allahu Akbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu.”

Penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Wallahu A’lam.

***

Jujur! Membaca kisah ini berkali-kali selalu memberikan efek yang sama ketika tiba di bagian akhir bacaan. Merinding dan terharu. Selalu begitu.

inshaaAllah kita juga bisa bercermin dari tersebut. Misal sedang cuci piring. Setiap sudah membasuh sebuah piring disertai satu istigfar, shalawat, maupun dzikir lainnya. Semoga dan semoga Allah senantiasa istiqamah dan dawamkan ya!
Allahumma aamiin.



Share:

Saturday, 9 May 2020

Kekuatan dari Bersandar pada-Nya



“Hehe.. enggak jadi, teh.”, katanya ringan.
Aku terbelalak, “APA? KENAPA?”
***

Hari itu seorang temanku terlihat sangat berseri-seri, lain dari biasanya. Dia baru saja menuntaskan pendidikan S1 dan langsung bekerja di sebuah rumah sakit sebagai bagian kerohanian. Jujur, itu merupakan hal yang sangat baru kudengar. Entah aku yang kurang awas atau memang tak pernah bersinggungan dengan topik divisi kerohanian di rumah sakit. Divisi kerohanian di rumah sakit bertugas untuk membimbing pasien-pasien yang tengah meregang nyawa. Membimbingnya dengan mengingat kalamullah dengan talqin maupun lainnya. Tentu banyak kewajiban lainnya pula yang dapat kusebutkan satu per satu.
“Oh mungkin dia berseri karena itu”, ujarku sekenanya dalam hati.
Hingga terlontarlah sebuah pertanyaan dari kawanku yang lainnya,
“Gimana teh? Jadi kalau nikahnya kapan?”, tanyanya.
“InshaaAllah, do’akan ya teh, semoga tahun ini.”, jawabnya semakin berseri.
MashaaAllah rupanya ada kabar membahagiakan lainnya. Alhamdulillah aku turut berbahagia. Jawabannya sangat mantap, membuatku semakin yakin bahwa memang ia telah memiliki calon pemimpin dan pendamping hidupnya.
Lama sekali tak bertemu dengannya. Kesibukannya dengan pekerjaannya membuat ia jarang hadir bercengkrama bersama kami. Hingga suatu hari qadarullah ia menampakkan lagi diri. Teteh bertubuh mungil, bersuara lembut, yang kebaikan hatinya terpancar dari senyuman ikhlasnya. Ah terkadang aku merasa...... belum cukup menjadi wanita sebaik-baiknya wanita (secara dzahir), meragukan kelemah lembutan, suara terkadang sebesar toa masjid (maklum, mantan danton Paskibra hehe, alesan.). Entah krisis kepercayaan diri melandaku ataukah aku hanya memberikan makan rasa penasaranku, sampai-sampai aku bertanya pada kakak laki-lakiku yang memang memiliki istri dengan suara dan tingkah yang lemah lembut,
“A, laki-laki tuh sukanya perempuan yang lemah lembut gitu ya? Duh gimana dong, ade kan gak gitu-gitu banget. Jauh. Bakal ada yang suka gak ya?”, tanyaku polos.
Kakakku hanya tersenyum dan mengusap pelan kepalaku seraya berkata,
“Ya ada, lah.”, jawabnya singkat.
Kalau kalian pernah baca cerita tentang kakakku, kalian akan mengerti kenapa ia menjawab sesingkat itu saja. Hehe.
Akhirnya pada suatu hari kami dipertemukan lagi, kami berpelukan erat seperti orang yang telah bertahun-tahun tidak bertemu. Kami mengobrol banyak. Tidak, banyaknya mendengarkan pengarahan. Karena kami semua akan diberi tugas untuk acara besar yang akan diselenggarakan. Hingga pada suatu kesempatan aku bertanya, yang entah apa dengan pertanyaanku ini melukai hatinya atau tidak. Tapi jika aku tidak bertanya padanya, aku tidak akan mempelajari suatu pelajaran hidup yang berharga.
“Teh, bagaimana rencana pernikahannya?”, tanyaku sambil memerhatikan ekspresinya.
Tenggorokannya nampak tercekat. Waduh, aku salah besar malah nanya!
Dia tersenyum, “Qadarullah teh, bukan jodohnya. Tidak jadi.”, ia menyunggingkan senyum manisnya.
“Ih teh maaf malah nanya. Harusnya Witsqa gak nanya ya teh. Tapi, kalau boleh tahu aja ini mah, dan tidak menyakitkan teteh. Kenapa nggak jadi?”, tanyaku masih penasaran sekaligus ada perasaan sedih menyempil dalam hati.
“Tenang ih teh. Nggak apa-apa kok. Ya gitu teh, jadi tante saya satu kantor gitu sama ikhwannya. Dan di kantor pun nampak perilakunya tidak terlalu baik. Jadi tante saya sarankan untuk jangan teruskan. Jadi nggak kami teruskan.”, jawabnya panjang lebar.
Terlihat ia menolak menyebutkan bentuk perilaku yang tidak terlalu baiknya itu seperti apa. Namun aku juga sudah tak sampai hati bertanya lebih jauh.
“Teh, teteh sedih nggak?”, tanyaku dengan wajah penuh kesedihan.
Karena jujur mendengarnya menyayat hatiku.
“Alhamdulillah nggak lah teh. Alhamdulillah Allah tunjukkan di waktu kami belum naik pelaminan, kalau udah? Wah bakalan jauh lebih susah kan.”, katanya dengan senyum yang pasti.
Disitu aku yakin betul bahwa kawanku itu memang tidak terluka sama sekali. Keyakinan dan kebergantungannya kepada Allah SWT yang membuatnya teguh. Aku yakin. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.
Usia seperempat abad memang sudah cukup rawan akan topik ini. dorongan akan stigma masyarakat terkadang menghantui, menghasilkan sebuah krisis, bernama quarter-life crisis. Aku termasuk yang menolak adanya krisis semacam itu, selama aku berdiri diatas kakiku dengan bersandar pada Yang Maha Esa dan terus berusaha,  aku merasa tak perlu ada yang di khawatirkan. Namun terkadang, inner circle dengan segala tuntutannya membuat diri tak bisa bersantai dalam menjalani hidup. Sebuah hal yang perlu dievaluasi sampai ke akarnya.
Dari cerita kawanku ini, membuat aku teringat akan sebuah nasihat. Jika kita gagal dalam suatu hubungan yang akan mencapai jenjang yang serius, “you are one step closer to the right person”. Biarkan Allah yang pilihkan berdasarkan penglihatan-Nya, apa yang terlihat baik di mata kita, itu hanya luarnya saja. Allah lebih tahu isi hati, luar dan dalam setiap hamba-Nya. Itu yang selalu kupegang teguh. Lagipula, apa-apa yang Allah takdirkan untukku, takkan pernah melewatkanku.
Kalau kata QS Al-Insyirah : 8 mah,
“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

“Tapi kudu usaha!”, ujar Ibu berulang kali. Hehehehehe.
***

Wits, kamu ngomong macem begini kayak yang pernah mengalami aja deh.
Who knows! 😉

Share:

Friday, 1 May 2020

Ust. Hanan Attaki - Siapa Orang yang Berusia 1400 Tahun?


Artikel ini berisi ringkasan materi atas ilmu yang diperoleh, dengan harapan membagikannya menjadikan amal jariyah dan menjadi pengingat dikala lupa. Allahumma aamiin.
Do’akan semoga istiqamah, ya!

“Siapa Orang yang Berusia 1400 Tahun?”
Oleh: Ustadz Hanan Attaki

 

Salah satu manfaat dari mempelajari sejarah terdapat pada Q.S. Hud ayat 120 yang berbunyi,
وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِى هَٰذِهِ ٱلْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
Terjemah: “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ = meneguhkan hati
Atau dengan kata lain, manfaat dari mempelajari sejarah adalah mempertajam nalar. Jadi ketika kita melihat sesuatu, kita mampu untuk langsung menyimpulkan dan memutuskan sikap apa yang harus diambil. Karena sesuatu tersebut bukanlah hal yang baru, melainkan pernah terjadi dan sudah ada hasilnya.

Sehingga, orang yang senang membaca sejarah bukanlah orang yang hidup 60 tahun, melainkan ribuan tahun. Sudah memiliki banyak pengalaman, sehingga takkan gelagapan dalam menghadapi suatu permasalahan. Ia bisa berusia 1000 tahun, 2000 tahun, tergantung sepanjang apa sejarah yang ia baca. Sejarah itu selalu terulang. Karena itu sunatullah. Jika mengikuti Rasulullah maka ini hasilnya. Jika mengingkari maka ini hasilnya.

Alur dampak dari banyak membaca sejarah

Realitas yang baru tetap harus dianalisa dan diperhatikan. Namun semua itu tidak terlepas dari pola kejadian sejarah. Realitas yang baru mungkin muncul pada hal-hal yang detail. Namun secara garis besar, hal tersebut pernah terjadi. Ingat pula kata para ahli, ”Siapa yang kehilangan akar / akses sejarah, maka ia kehilangan referensi bersikap.
    
Wallahu ‘alam bissawab.


Catatan: Tujuan saya menuliskan ceramah dari ustadz-ustadz yang saya dengar adalah sebagai obat saat terlupa. Baik itu lupa karena tidak dapat mengingat dengan baik, ataupun lupa karena khilaf. Terkhusus bagi saya, saya termasuk orang yang pelupa (tidak dapat mengingat dengan baik). Padahal saya sangat senang mendengarkan cerita sejarah, namun perihal nama tokoh dan waktu saya kurang dapat mengingatnya dengan baik. Harapannya dengan menuliskannya dapat menjadi obat. Obat ketika lupa dengan membacanya kembali atau dengan klik tautan videonya.

Dari penulis blog ini
Pada suatu waktu, saya sedang memiliki beban yang dirasa cukup berat dan dapat dikatakan cukup stressful dalam menghadapinya. Ternyata hal tersebut mempengaruhi ibu dan ayah saya dirumah, karena mereka senantiasa melihat aktivitas saya selama dirumah. Saya sungguh merasa bersalah karena membuat mereka memikirkan keadaan saya atas apa yang sedang saya rasakan saat itu, saya tidak pernah bermaksud melibatkan mereka. Segala cara telah ditempuh demi saya dapat merasa lebih tenang lagi dalam menjalani hari-hari. Alhamdulillah cukup berbuah. Meski kali ini saya lebih berhati-hati dikarenakan sesungguhnya tekanan itu masih ada, tapi saya coba sembunyikan dari mereka agar tidak membebani pikiran mereka yang pada dasarnya sudah memiliki banyak hal lain yang dipikirkan.
Situasi ini terjadi setelah sistem karantina dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19 dicanangkan, sehingga kami sekeluarga dapat shalat berjamaah dirumah lebih sering. Meski jadwal work from home (WFH) nya ayah silih bergantian dengan kolega kerjanya. Suatu hari, sebelum mendirikan shalat, ayah saya pernah bertanya kepada saya,
“Ka, apakah bisa ketika ada suatu masalah, terus bisa selesai gitu aja tanpa kita perlu ngapa-ngapain?”
Saya pun berpikir sejenak, karena saya menerka-nerka jawaban yang  ingin ayah dengar adalah candaan ataukah serius. Lalu saya menjawab,
“Kalau pakai logika manusia, nggak mungkin sih, yah. Tapi, kalau mau mengingat ke sirah nabawiyyah, kisahnya siti Maryam. Yang tiba-tiba Allah hadirkan buah-buahan....”
Belum juga saya menamatkan kalimat saya, ayah langsung memotong,
“Sip. Cukup. Nah itu paham, ya.”
“Rezeki itu datangnya dari arah tidak disangka-sangka”, saya ingin melanjutkan, namun ayah sudah langsung mengisyaratkan kepada saya agar segera mengumandangkan iqamah.
Disitu saya paham, sesungguhna orangtua saya juga sudah kebingungan untuk meng-encourage saya. Maafkan anandamu ini ya, ayah, ibu. Saya tak pernah bermaksud seperti itu.

Share:

Search in This Blog

Pesan untuk Penulis

Name

Email *

Message *

Another Blog

Tulisan Terbaru!

Witsqa Masak: Yumurtali Patates

DISCLAIMER!  Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasa...