*

Pages

Friday, 24 April 2020

"Berkarya!" adalah jawabnya


"Berkarya!" adalah jawabnya

Ayah dan Ibu pernah berkata,
Indonesia adalah tanah yang kaya
Kaya akan hasil pangannya
Hasil lautnya
Keindahan alamnya
Budayanya
Bahkan hasil kerajinan tangannya

Terkadang aku bertanya
Apakah Indonesia terlalu kaya?
Hingga akhirnya
Penebangan liar dimana-mana
Kebakaran hutan merajalela
Pengeksploitasian membabi buta
Dan, orang asing yang jadi bos protek-proyek besar kita!

Miris.. Miris hati ini
Ingin sekali mengubah negeri ini
Namun bagimana lagi?
Kita tak lebih dari seorang mahasiswi
Hanya potongan kecil dari bumi pertiwi

Tidak! Siapa bilang pelajar tak bisa berbuat apa-apa
Kita bisa mengubah negara yang kita cinta
Bagaimana?
"Berkarya!" adalah jawabnya
Karena….
Karya berbicara lebih tajam dan nyata




Puisi ini pernah saya kirimkan untuk LOMBA CIPTA PUISI FAM
14/01/2015 22:48 TRT
Share:

Ust. Salim A. Fillah - Iman Sebelum Al-Qur'an


Artikel ini berisi ringkasan materi atas ilmu yang diperoleh, dengan harapan membagikannya menjadikan amal jariyah. Allahumma aamiin.
Do’akan semoga istiqamah, ya!

"Iman Sebelum Al-Qur'an"
Oleh: Ustadz Salim A. Fillah

 

🎵 Iman tak dapat diwarisi 🎵
Sunan at-tirmidzi dalam suatu kaidah dalam bukunya, “Iman itu bertambah dan berkurang, naik dan turun, menguat dan melemah. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiaatan.”. Sehingga, cara menjaga iman adalah dengan ketaatan. Ini merupakan lingkaran malaikat, seperti diilustrasikan sebagai berikut.
 
Circle flow lingkaran malaikat
Courtesy: 
https://wfawitsqa.blogspot.com/

Begitu terus seharusnya. Tetapi sebagai manusia terkadang alpa, futur, sehingga ketika seperti itu, minimal kita tetap beribadah dengan tidak kehilangan yang fardhu (wajib) nya.

Cara menjaga fardhu, diantaranya:
1.    Menjaga komitmen kepada Allah SWT
2.    Bersama orang-orang yang benar / berada di lingkungan yang baik
     Karena ketika bersama orang, setidaknya ada yang mengingatkan, berbeda jika sendiri.
3.     Al-qur’an menyuburkan / menjaga keimanan
     Dari Ibnu Mas’ud, “Kami dahulu belajar iman dulu, baru al-qur’an turun. Maka iman kami menjadi kuat karena al-qur’an.”. Al-qur’an adalah penyembuh berbagai penyakit di dalam jiwa, misal sombong, dengki, tamak, rakus. Apa yang mau dipersombongkan? Ibadah? Tentu saja sudah kalah dari Iblis yang 4000 tahun berdiri, 4000 tahun rukuk, 4000 tahun sujud, itupun berakhir su’ul khatimah. Bahkan, nabi Sulaiman A.S. yang bahkan Jin saja tunduk padanya, berdo’a selalu berdo’a agar selalu dapat bersyukur pada-Nya.

Wallahu ‘alam bissawab.


Share:

Thursday, 23 April 2020

Buat Lu: Sani! (Jeritan Hati Seorang Sahabat)



“Nanda! Lu gak bisa ya pergi kemana-mana sendiri? Maunya ditemenin mulu.”, ujar Sani ketus.
Gue Nanda, 21 tahun, Mahasiswi Perfilman tahun terakhir, akhir-akhir ini gue udah terbiasa ngedenger omongannya Sani yang suka celetuk gitu aja. Kadang tanpa mikirin perasaan si lawan bicara. Gue gak tau, dari belahan bumi mana anak itu lahir, bisa jadi ampe kayak begitu. Yang jelas itu anak, kadang bikin gue keki, geleng-geleng kepala sendiri ampe puyeng.
Sebenernya Sani itu anak yang cerdas, pintar, cantik, baik, dan yang terpenting care sama sohib-sohibnya. Tapi, semua berubah semenjak negara api menyerang, eh, maksud gue semua berubah semenjak ada cowok yang berhasil mencuri hatinya dan merobohkan benteng pertahanan yang ia buat dengan susah payah dan sangat kuat.
Sebelum bareng sama si doi, Sani sering banget hangout sama gue. Kalau diibaratkan tuh ya, kita itu kayak sepatu deh! Yang gak mungkin jalan masing-masing. Pasti kudu ada sepasang. Gue cerita kayak gini bukan karna gue iri soalnya Sani udah ada yang ngegaet. Tapi ini udah keterlaluan. Kelewat batesan. Menyalahi hak asasi persahabatan yang udah kami berdua ikrarkan dibawah pohon cabe dibelakang rumahnya mpok Sari, yang cerewetnya minta ampun dah!
Emang semenjak sama si doi, Sani jadi rajin masak, dan makin cewek banget. Masakannya? Hmmm… Jangan ditanya. Maknyus dah! Kalah deh itu hotel bintang-bintang sama masakannya sohib gue yang satu ini. Yaaaa….. Itu awalnya doang sih, si Sani rajin masak makanan enak, terus gue disuruh jadi tester nya dulu sebelum mendarat di lidah sang pujaan hati. Gue mah seneng banget lah disuruh begituan. Makan enak dan gratis. Yuhuu. Eh, semakin lama hubungan mereka berjalan, Sani kayaknya lupa punya sahabat macem gue. Ketika dia masak, gue dikasih gorengan sebiji,  lah doi-nya? Sewadah. Itu juga hasil gue pasang wajah mupeng (muka pengen) aja di hadapan dia.
Sani bener-bener udah gak punya lagi waktu ama gue. Buat sekedar ngupil bareng juga kagak ada (ups Sorry!). Suatu hari gue ngajak dia buat makan diluar, karena di kost-an emang lagi kagak ada apa-apa dan gue lagi males berjibaku di dapur.
“San, maksi (makan siang) yuk! Lu yang traktir gue deeh. Heheh”, ajak gue sembari cengengesan.
“Lu pergi aja sendiri, gue mau makan bareng ama yayang gue nih.”, jawab dia lempeng.
“Lu beneran ya….”, ujar gue sungkan buat ngelanjutin.
“…”, dia cuma asik duduk sms-an sembari ketawa-ketiwi kayak mak lampir digelitikin bulu ayam.
***

Kali ini gue ngobrol santai ama Sani di kost-an.
“Eh, gue belum pernah ke taman jomblo loh. Gimana sih caranya kesana?”, tanya gue penasaran sembari ngarep dia mau nemenin gue kesana.
“Oh itu mah gampang. Lu tinggal jalan aja dari yang tulisan DAGO ampe sono. Pergi aja lu sendiri kesono, rame deh.”, jawab Sani super duper singkat.
Jleb! Biar gue tekenin lagi, Sani bilang, “…pergi aja lu sendiri kesono…”, sendiri! Oke cukup tau. Semenjak itulah gue kalau kemana-mana langsung cabut aja sendiri. Kagak pernah ajak-ajak orang.
San.. Kalau lu mau tau, bukannya gue gak suka melakukan apa-apa ataupun pergi kemana-mana sendiri. Tapi kalau sama lu (sahabat gue), bukankah hal sederhana bakal kerasa lebih menyenangkan?
***


Tulisan ini pernah saya kirimkan ke basabasi.co

02/09/2015 21:38 TRT
Disunting kembali pada 21/04/2020 17.31 WIB


Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam setiap postingan artikel yang saya buat.
Semoga dapat diambil manfaatnya..



Share:

Wednesday, 22 April 2020

Persahabatan dibawah janji Illahi


Halo perkenalkan, namaku Dhila. Aku adalah putri kedua dari dua orang bersaudara. Ya, aku si bungsu. Namun, tidak seperti anak bungsu pada umumnya, aku mandiri dan tidak manja, loh! Aku berani jamin deh. Alhamdulillah, aku terlahir dari keluarga yang memegang erat agama Islam. Jadi, kurang lebihnya aku sedikit memahami tentang Islam. Aku adalah mahasiswa tingkat tiga semester ganjil jurusan Statistika di salah satu Universitas ternama didaerahku. Sudah cukup kan berkenalan denganku?
Inilah hariku.
“cuit…cuit…cuit…”
Kicauan burung yang bertengger dekat jendela kamar di pagi hari ini membangunkanku dari tidur lelapku.
“Alhamdulillah. Sudah pagi.”, ujarku dengan penuh rasa semangat.
Tiba-tiba saja aku merasa ada yang kurang dipagi hari yang indah ini.
“Astagfirullah. Jam berapa ini? Duhhh..kesiangan shalat shubuh kan, Dhil!! Cepetan shalat, cepetan shalat.”
Lalu aku lekas mengambil air wudhu dan shalat shubuh. Tak peduli itu jam berapa, yang penting aku tak mau meninggalkan shalatku. Aku tahu, yang aku lakukan itu tak sepenuhnya benar, namun apa mau dikata, daripada tidak samasekali, kan?
Seusai shalat, aku bersiap-siap untuk bergabung sarapan bersama dengan keluargaku yang sederhana ini. Aku menuruni tangga untuk mencapai ruang makan keluarga kami.
“Selamat pagi, anandaku tersayang.”, sapa ibuku dengan penuh senyuman kehangatan, sembari menyiapkan sarapan untuk kami.
“Hari ini hari Sabtu, kamu ada acara gak, nak?”, tanya ayahku yang sedang asyik membaca koran pagi.
“Hmm…Rasanya aku punya janji. Oh, iya temanku dari luar kota mau datang kemari, mau menginap disini, boleh kan? Dhila juga mau ajak dia jalan-jalan disini.”, jawabku.
Tiba-tiba datang sesosok laki-laki bertubuh tambun dengan rambut agak keriting dan agak acak-acakan seperti belum disisir. Siapa lagi? Tidak lain tidak bukan, dia adalah kakak laki-lakiku, Ari.
“Ciye..asik nih yang temennya mau datang. Dari luar kota lagi! Cantik gak? Boleh dong, dikenalin sama kakak.”, timpalnya.
“Wuuh… maunya!!”, jawabku ketus.
***

Seusai sarapan aku bergegas kembali ke kamarku yang nyaman. Kutengok jam yang mengalun berdenting.
“Jam 8? Waaah.. harus cepat-cepat ini. Dhila kamu tuh ya..”, ujarku mengomeli diri sendiri.
Ya, ketika melakukan kesalahan ataupun lalai, aku terbiasa memarahi diri sendiri. Dan berharap keesokannya takkan terulang lagi. Namanya manusia, tidak 100% seperti apa yang diinginkan. Hehehe..
Janjiku bertemu dengan Lestari di stasiun kereta pukul 9 pagi ini, tak ingin aku hancurkan. Seusai mandi dan bersiap, aku dengan mengendarai motor bebek kesayanganku melesat ke stasiun Kereta Api di kawasan Cimanuk.
“Pukul 09.05 WIB, aduh aku terlambat nih. Sekar dimana ya? Jangan-jangan saking lamanya dia nunggu dia balik lagi deh ke Surabaya. Aduh gimana nih ya Allah? Sekar dimana sih kamu?”, bisikku pada diri sendiri.
“DORR!!! Dhilaaaaa…. Finally, kita ketemu lagi Dhil. Kangen kamu pake banget deh Dhil.”
“Duh.. kamu emang paling bisa ya ngagetin orang, tuh! Huh!”, aku berpura-pura marah padanya.
Sekar adalah temanku sewaktu di SMA Nusa Bangsa dulu. Kami bukan sekedar teman, aku merasa dia sudah seperti saudaraku sendiri. Kami memang dekat, sangat dekat. Sekar lebih memilih melanjutkan kuliah perfilman di Surabaya sana. Semenjak lulus SMA, kami berpisah. Raga boleh berpisah, namun hati tetap satu, kami tetap menjaga silaturahmi kami. Pernah pula aku mengunjungi dia di Surabaya, karena memang waktu itu ada saudaraku yang melangsungkan pelaminan di Surabaya.
“Yuk antar aku ke Otista.”, Sekar mengangkat bicara.
Otista itu adalah nama kerennya dari Otto Iskandar Dinata. Sebuah daerah di kotaku tecinta ini, Bandung.
“Ngapain ke Otista? Mau langsung jalan-jalan? Apa gak lebih baik simpan dulu barang-barang kamu, baru kita jalan?”, tanyaku penuh keheranan.
“Aku gak mau nginep ditempat kamu, ah! Ntar abang kamu gangguin aku lagi. Hehehe. Bercanda, Dhil. Keluarga sepupuku yang dari Jakarta rumahnya di Otista. Mereka baru pindah beberapa pecan lalu. Aku juga diamanatin buat nginep disana aja sama papa dan mamaku.”, ujarnya menjelaskan.
“Oh..”, jawabku singkat tanda aku mengerti.
Tanpa pikir panjang, langsung kutancap gas. Melesatlah kami ke Otista.
***

Aku tak pernah tahu Sekar punya sepupu laki-laki. Rafli namanya, tubuhnya semampai menjulur ke langit bak tangga untuk manjat pohon. Penampilannya rapi dan sopan, juga cukup menawan. Hus, istigfar!
“Kenalin ini bestfriend aku, Raf, namanya Dhila. Dhil, ini sepupu aku Rafli, ganteng kan? Hahaha. Rafli ini satu kampus loh sama kamu, Dhil. Dia satu tahun diatas kita, gak tau tuh makannya apaan dia pinter banget, SD sampai SMA kerjaannya dapet kelas akselerasi melulu. Makanya, jangan aneh ya kalau dia panggil aku mba.”, Sekar menjelaskan seluk-beluk sepupunya itu.
“Salam kenal. Aku Dhila, tahun ketiga jurusan Statistika.”, aku berusaha berkenalan dengan sesopan-sopannya.
“Aku Rafli. Jurusan Teknik Komputer. Tahun terakhir.
Eh, mba Sekar, makan dulu yuk. Terus nanti aku kenalin sama dua orang temanku.”, ujar Rafli yang kemudian mengacuhkanku, seolah aku tak ada.
“Mba udah makan, makasih Raf. Sekarang mba pengen beres-beres dulu terus mau jalan-jalan sama Dhila. Kamu sama teman-temanmu mau ikut?”, tawar Sekar kepada Rafli yang tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu.
Aku menatap Sekar berharap telepati hadir diantara kita. Namun, tidak, Sekar tidak memahamiku saat itu. Satu jam kemudian kami semua bersiap untuk jalan-jalan ke sebuah taman rekreasi. Berbekalkan makanan lezat yang dibuat oleh ibunya Rafli, kami berlima berangkat dengan mobil milik Rafli. Oh iya, hampir saja lupa. Kedua temannya Rafli bernama Fahmi dan Aditya.
Aku tidak berekspektasi terlalu banyak mengenai jalan-jalan kami hari ini. Namun, aku merasa ada yang berbeda. Sikap cuek Rafli memang tiada tara. Tapi tidak tahu mengapa, hati ini sedikit bergetar ketika berada didekatnya. Oh, Rafli….. Tidak!! Aku belum mau jatuh cinta. Ini belum saatnya. Jalanku masih panjang, banyak hal lain yang lebih penting yang harus kupikirkan.
Hari itu benar-benar indah, kami makan bersama dan berfoto bersama. Kuberikan flashdisk Toshiba 4GB yang berwana hitam milikku itu untuk meng-copy semua foto yang mengukir kenangan indah di hari itu. Entah aku yang berprasangka lebih atau apa. Kuakui setelah hari itu, Rafli tak pernah lekang dari pikiranku. Sungguh menggelikan! Tidak suka dengan keadaan seperti ini. Aku takut semua hanya anganku saja.
Kupandang lekat-lekat foto-foto kami berlima itu. Di beberapa foto kami berdiri berdampingan. Aku yang memiliki postur tubuh sedikit lebih tinggi daripada Rafli itu terlihat sangat menggelikan jika disandingkan berdua. Tidak! Khayalanku teramat jauh. Sudah melampaui batas. Kuputuskan untuk tidak menghiraukan getaran yang aku rasakan di hari itu. Mungkin itu hanya perasaanku. Mungkin karena selama ini aku jarang sekali berdekatan dengan lawan jenis sedekat itu. Ya, itu benar. Mungkin karena diluar kebiasaanku, jadi muncul perasaan diluar biasanya.
Hari demi hari berlalu, tak pernah kuhiraukan perasaan itu merajai kalbu. Kuacuhkan semua rasaku. Karna aku tahu pasti, perasaan ini salah, tak sebaiknya ada di waktuku sekarang ini. Jalanku masih panjang, banyak hal yang belum kutempuh. Hal sekecil ini tak boleh melenakanku.
Sayangnya, tekadku yang kuat itu berdiri tegap tanpa tameng penghalang. Sedikit sedikit aku mulai goyah. Setiap paginya aku selalu bertemu Rafli, tak bisa kuurungkan, rasanya ingin meledakkan perasaan ini. Aku berusaha menahan semuanya agar dalam kendali. Aku ingat Sang Illahi, memohonkan petunjuk untuk rasa yang membuatku gundah gulana berhari-hari. Hingga akhirnya kuputuskan, bersikap seperti biasa saja. “Ya!! Aku pasti bisa…”, ujarku meyakinkan diri sendiri.
***
Hingga tibalah di suatu hari yang cerah. Angin sepoi menyapu pipi ini, kami sedang terdiam di halaman kampus kami. Benar-benar tanpa sepengetahuanku Rafli ada disitu juga. Rasanya ingin melarikan diri dari tempat itu. Namun, aku bukanlah kucing yang takut dikejar anjing, aku berusaha biasa saja, seolah tidak menyadari kehadirannya. Lama kelamaan, terdengar suara langkah kaki mendekat, ya suara sepatu kets yang tidak asing di telingaku. Siapa lagi, kalau bukan Rafli. Dia mendekat, semakin mendekat. Jantungku berdetak cepat, rasanya ingin pergi dari sini L
“Dhila, sebenarnya aku suka padamu, bukan sejak awal kita berkenalan. Tapi semenjak awal masuk kuliah. Sadarkah kamu? Aku selalu memerhatikan gerak-gerik dirimu. Pertama kali aku melihatmu, biasa saja, namun seiring berjalannya waktu aku jatuh hati padamu. Kamu tau kenapa? Kamu sosok wanita yang shalehah, namun tidak mau terlihat lemah, itu yang aku kagumi pada dirimu. Kamu itu berbeda. Sangat berbeda. Kurang lebih tiga tahun aku memendam rasaku ini padamu, Dhil. Jangankan untuk menyatakan perasaanku padamu, untuk sekedar menyapa saja aku malu. Sekarang aku tlah mengumpulkan semua keberanianku, aku sudah menyatakan perasaanku yang sesungguhnya padamu dan sekarang aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Dhila maukah kamu menjadi kekasihku?”, tanya Rafli, setelah ia panjang lebar mengungkapkan perasaannya kepadaku.
Aku terdiam. Tenggorokanku seperti tercekat beberapa saat.
“Jujur, aku terkejut dan tersanjung, aku tak menyangka kamu menyukaiku selama ini. Dan sebenarnya aku juga memiliki perasaan yang sama padamu. Diawali pada saat kita berlima berjalan-jalan bersama. Tapi, aku ragu, Raf, aku takut. Setiap harinya aku berusaha menghilangkan perasaanku yang aku anggap salah ini. Sebenarnya perasaan ini tak salah, tapi kamu tahu kan didalam Islam tidak ada istilah pacaran? Aku takut, aku takut sama Allah, Raf. Aku harap kamu mengerti, Raf. Maaf L”, jawabku tanpa ingin sedikitpun menyakiti hatinya.
“Aku mengerti maksudmu, Dhil.”, senyum kecut tersungging di wajah rupawan Rafli.
“Mmmm.. Kali ini aku yang mau menyatakan sesuatu, boleh kan? Maukah kamu menjadi sahabatku, Rafli?”, tanyaku dengan suara agak bergetar.
Bisu tak ada jawaban, senyuman mengiris merekah dari bibir Rafli. Isyarat ia bersedia. Hati ini pun turut teriris namun merasa lega. Harapku, semoga inilah yang terbaik bagi kami. Persahabatan dibawah janji Illahi.
***

“Maukah kamu menjadi sahabat hidupku sampai akhir hayatku, Rafli.”, ujarku didalam hati, tak berani aku ungkapkan. Inilah yang sesungguhnya terbisik didalam hati, yang tak mampu, tak mungkin, dan belum saatnya untuk diungkapkan.
Ya Allah, jika dia jodohku dekatkanlah kami dimasa yang engkau ridhai dengan caraMu yang engkau ridhai pula. Namun jika dia bukan jodohku, maka berikanlah ia kebahagiaan dan berikanlah jodoh yang shalehah dan terbaik yang akan menemaninya hingga akhirat kelak.
“Nantikanku di batas waktu, Raf”, bisikku lagi didalam hati.

Lantunan lagu Edcoustic yang berjudul Nantikanku di Batas Waktu menemaniku seraya menutup hari itu.
***

“Aku akan selalu menunggumu Dhila, aku akan terus bersamamu hingga penghujung hidupku. Aku tahu, kamulah yang terbaik untukku. Kamulah tulang rusukku yang hilang.”, bisikan hati Rafli diam-diam.
***



Tulisan ini pernah saya kirimkan ke basabasi.co
02/09/2015 21:38 TRT
Disunting kembali pada 21/04/2020 17.31 WIB


Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam setiap postingan artikel yang saya buat.
Semoga dapat diambil manfaatnya..

Share:

Tuesday, 21 April 2020

Perempuan, Bibit Awal Pendidikan



Pendidikan merupakan topik yang biasa kita temui namun selalu menarik untuk diperbincangkan. Berbicara tentang pendidikan tentu mengundang pertanyaan - pertanyaan yang berputar dalam pikiran kita. Sebenarnya, pendidikan yang sesungguhnya itu dapat kita dapatkan dari siapa saja sih? Apakah pendidikan itu cuma bisa kita dapatkan dari bangku-bangku pendidikan formal saja? Hanya dari guru dan mentor ataupun pembimbing saja? Apa sih hakikat pendidikan yang sesungguhnya?
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan, yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.
Kita semua tahu, pendidikan itu sangatlah penting. Jika dianalogikan, pendidikan itu bagaikan pondasi rumah, yang tanpanya, hancurlah rumah yang akan kita buat. Begitupun dengan pendidikan. Tanpanya, hancurlah sebuah negara. Meski tidak ada jaminan akan 100% kehancuran sebuah negara yang diakibatkan oleh penerapan pendidikan yang kurang baik. Namun setidaknya, dengan tidak terlaksananya pendidikan dengan baik membuat negara tersebut tidak dapat menciptakan keadaan yang kondusif, yang ujung-ujungnya mengarah kepada ketidaknyamanan.
Menurut Bringham Young, jika kau mendidik seorang anak laki-laki, maka kau memang mendidik seorang laki-laki, namun jika kau mendidik seorang perempuan, maka kau mendidik sebuah generasi.
Dari pernyataan seorang gubernur Utah yang pertama tersebut, dapat kita kutip bagian “…namun jika kau mendidik seorang perempuan, maka kau mendidik sebuah generasi.”, yang membuat saya berpikir bahwa kunci pendidikan setiap insan itu berasal dari seorang perempuan, atau dengan kata lain bersumber dari seorang Ibu. Seperti yang telah kita ketahui, dalam sudut pandang sosiologi dapat kita kemukakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dan paling sederhana yang kita kenali sedari kita masih kecil. Dan jika kita mau menilik kembali akan definisi pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, tidak ada kata-kata yang menunjukkan bahwa pendidikan itu hanya bisa didapatkan dari seorang guru, mentor, maupun pembimbing, tetapi bisa kita dapatkan dari siapa saja atas usahanya memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru. Poin terpentingnya terdapat disini, memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru.
Hidup adalah tentang belajar. Keluarga dan lingkungan adalah guru dan mentor pertama dalam hidup kita. Disadari atau tidak, orangtua selalu berusaha mengajarkan hal-hal baru kepada kita sedari kita masih dalam buaian. Bermula dari belajar merangkak, berjalan, berbicara, hingga bersopan-santun. Semua itu adalah proses pembelajaran yang tidak dapat sedikitpun kita dapatkan di bangku sekolah jenjang manapun. Apa yang akan dikatakan seorang elemen pengajar didalam lingkungan kelas, jikalau mendapati salah satu muridnya ternyata berbicara saja belum bisa? Dan orang tua si murid itu hanya mengandalkan guru sekolah untuk mengajarkan segala hal kepada sang buah hatinya dari mulai nol? Tentu ini adalah sebuah hal yang absurd, bukan?
Lalu, apa hubungan antara semua penjelasan saya tersebut dengan upaya pembangunan pendidikan bangsa? Tentu ada hubungan erat antara keduanya. Sesuai dengan tujuan bangsa Indonesia yang tercantum didalam Pembukaan UUD 1945, yang berbunyi “….mencerdaskan kehidupan bangsa,…”, langkah awal untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan mencerdaskan segala sumber dari penerus bangsa itu sendiri, yakni mencerdaskan para perempuan. Dengan mencerdaskan para perempuan dapat menjadikan tonggak untuk dapat mencerdaskan generasi-generasi penerus lainnya.
Berbicara mengenai upaya pembangunan pendidikan bangsa, jika kita mau sedikit berkiblat pada sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah Finlandia, yang mana negara Finlandia ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai Negara dengan mutu pendidikan terbaik di mata dunia. Saya rasa, negara kita dapat sedikit ‘mencontek’ hal-hal yang dapat mendukung peningkatan pembangunan pendidikan nasional NKRI. Pertama, jika kita ingin tahu mengapa Finlandia bisa begitu sukses dalam bidang pendidikannya, dapat kita temukan jawaban diantaranya karena eleman pendidik disana tidak pernah sedikitpun memberikan pekerjaan rumah, dan 60% aktifitas anak-anak Finlandia didalam kelas itu dengan memahami dan menyelesaikan masalah atas pemikiran mereka sendiri, sedangkan 40%nya atas penjelasan dari guru / pembimbing mereka. Sehingga disini, dapat kita lihat bahwa keaktifan siswa dalam membuat maupun membentuk ide itu lebih dominan dibandingkan pemberian informasi secara instan dari elemen pendidik. (sumber: Video dokumenter salah seorang pengamat inovasi pendidikan dari Universitas Harvard, Dr. Tony Wagner)
Beberapa survey pun mengatakan bahwa menciptakan ide dalam benak siswa, merupakan cara yang sangat efektif dalam proses pembelajaran. Yang mana dengan meng-inovasi ide seperti itu membuat mereka tidak lupa akan apa yang telah mereka ciptakan maupun temukan selama proses belajar mengajar. Sehingga mempermudah siswa dalam mengimplementasikan segala bidang ilmu yang telah mereka pelajari.
Indikator apakah yang membuat saya merasa bahwa penerapan pendidikan di negara Finlandia tersebut mempengaruhi pembangunan bangsa? Dapat dilihat dari pendapatan perkapita yang mereka berbanding tipis jika dibandingkan dengan negara adidaya yang sudah sangat maju, jauh berada didepan, Amerika. (sumber: Video dokumenter salah seorang pengamat inovasi pendidikan dari Universitas Harvard, Dr. Tony Wagner)
Jadi dapat kita tarik kesimpulan, bahwa jika kita berkeinginan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, cukuplah dengan mencerdaskan para wanita yang kelak akan menjadi seorang Ibu tentunya. Dimana pendidikan dari sang ibu merupakan pendidikan paling mendasar dan jenjang utama, yang akan menjadi pengokoh kehidupan generasi selanjutnya. Mengenai contoh yang saya ambil dari penerapan pendidikan di Negara Finlandia, merupakan faktor pendorong eksternal yang sama-sama memiliki andil dalam roda kemudi pendidikan suatu bangsa.


Tulisan ini pernah saya kirimkan ke basabasi.co
02/09/2015 21.38 TRT

Share:

Friday, 17 April 2020

A Life Story: "Penghujung Keresahan"


Naskah ini pernah saya kirimkan ke media majalah nurhidayah Solo pada 07 Desember 2015 bertemakan Aku dan Ayah. Namun dikarenakan tidak ada informasi lebih lanjut, saya kira saya dapat mempublikasikannya disini. Naskah ini telah saya sunting kembali di April 2020.

“Penghujung Keresahan”
Oleh Witsqa Fadhilah Adnan

Tik tik tik..
Kulirik jam tangan yang menempel di pergelangan tangan kananku, yang sedari tadi berdetik seolah memahami suasana hati ini. Detikannya hanya menambah kegelisahan hati yang dibanjiri perasaan gundah gulana. Inilah aku, yang sudah berjam-jam lamanya diliputi perasaan gelisah akan suatu hal yang akan dihadapinya sesaat kemudian.
Aku berdiri termangu. Menatap penuh harap ke tiap sudut ruangan. Ya, disini aku sedang menunggu bagasiku menyembulkan dirinya. Bagasiku yang dijelmakan sebagai koper setiaku yang usang, berwana ungu cerah berukuran sedang. Tepat di ruang pengambilan bagasi di bandara Internasional Soekarno Hatta. Bersama puluhan orang lainnya kami berdesakkan, mondar-mandir tak sabar akan kemunculan koper dari masing-masing kami tersebut. Bagaimana tidak gelisah? Sewaktu melakukan transit di bandara Internasional Dubai aku dengan suka-ria dan penuh percaya diri mengabarkan bahwa aku akan tiba di Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB, sesuai dengan apa yang tercantum di boarding pass yang ada didalam genggamanku, dan kini waktu telah menunjukkan tepat pukul 17.00 WIB! Aku sangat terlambat. Aaarrrghh! Sejujurnya, hal yang paling tidak kusukai adalah membuat orang lain menunggu. Terlebih membuat ia menunggu diriku untuk kesekian kalinya. Setelah lebih dari dua tahun ia harus menunggu kedatanganku, bahkan kali ini ia rela harus menungguku lagi selama lebih kurang dua jam. Atau lebih tepatnya aku membuatnya menunggu.

Bandara Dubai
Sebenarnya hal itu sangatlah wajar, namun aku yang baru pertama kali pulang lagi ke tanah air dan memang sangat tidak banyak riwayat perjalananku di udara. Membuatku tidak memahami hal seremeh itu. Tapi nampaknya ia tak apa menungguku.
Pengap dan panasnya cuaca ibukota hari itu cukup mengendorkan ‘sedikit’ parameter kesabaranku di awal kedatangan di tanah air tercinta. Ya, aku sedang berjuang menimba ilmu nun jauh disana. Dan pada liburan musim panas kali ini aku bermaksud untuk pulang ke tanah air demi membayar dua tahun kebrsamaan yang hilang khusus diperuntukkan pada dirinya, orang yang sangat kusayangi.
“Ah itu dia! Alhamdulillah ya Allah..”, ucapku setengah berbisik.
Koper gembul yang terlihat seperti akan memuntahkan isinya dan didominasi dengan warna ungu yang dihiasi tali pelangi itu seketika menarik perhatianku. Tidak seperti saat berada di penerbangan Dubai, disana orang-orang berusaha membantuku untuk mengambil barangku, disini semua acuh. Sibuk bersiaga dengan mata elangnya yang siap mendeteksi keberadaan koper pribadinya masing-masing. Aku yang berbadan kurus seperti lidi nan jangkung ini berusaha menarik koperku, lalu…
“Buuum…”
Suara berdebum yang bersumber dari koperku sebagai bukti aku berhasil mendaratkannya di lantai bandara petang itu. Suara yang cukup bisa mengalihkan perhatian khalayak jika saja disana tidak dipenuhi dengan kebisingan hiruk-pikuk pencarian bagasi.
“Fiuuuuh…Alhamdulillah….Aduh harus cepet-cepet iniiii..”, bisikku pada diri sendiri.
Aku pun segera bergegas membawa koper, serta kantong ajaibku, eh maksudku kantong ransel khas lelaki yang berwarna hitam dan berukuran super jumbo.
Ilustrasi bawaan saya di tahun 2018,
tapi koper yang saya gunakan di tahun 2015 sama
Sembari tergopoh-gopoh menggeret koper gembulku, aku melirik kanan dan kiri. Celigukan kebingungan, mencari tahu bagaimana caranya untuk keluar dari bandara ini. Aku harus segera menemuinya! Titik.
Ku aktifkan Wi-Fi di telefon genggamku, namun tidak ada tanda-tanda terlacaknya sebuah jaringan Wi-Fi disekitar gedung tersebut. Bagaimana bisa aku menghubunginya? Untuk sekedar memberikan kabar bahwa aku telah sampai di Jakarta dan bermaksud untuk menanyakan dimana persisnya ia menungguku.
Setelah melewati berbagai proses imigrasi yang cukup memakan waktu tidak sebentar, kutemukan dua buah pintu yang masing-masing saling berlawanan arah. Aku kebingungan. Namun kulihat, kebanyakan orang memilih pintu kanan. Tak ada satupun yang memutuskan untuk keluar melalui pintu lainnya. Akhirnya kuputuskan untuk memilih keluar dengan menggunakan pintu sebelah kanan.
Setengah tergesa. Sembari berjalan mata ini berusaha mencari-cari sosok lelaki itu. Lelaki yang telah lama tak kutemui. Lelaki yang biasa menjadi tempat curahan hatilku. Pemberi solusi atas segala masalahku. Yang tak pernah lelah mengingatkanku agar selalu dekat dengan-Nya. Yang selama dua tahun terakhir ini hanya bisa bertanya kabar dan saling menguntai rindu lewat pesan.
Bak anak panah yang menancap pada sasaran tembak, pandanganku menancap pada sesosok lelaki yang berperawakan jangkung, jauh melebihi tinggi badanku, ia mengenakan kaus santai berhiaskan topi dengan segala kekhasannya yang tak pernah berubah sedari dua tahun yang lalu. Wajahnya yang mengisyaratkan kelelahan, dan kantung mata yang sangat besar tepat menggantung dibawah kelopak matanya, serta wajahnya yang dipenuhi dengan keriput-keriput halus bukti nyata akan banyaknya ia mengecap asam garam kehidupan. Namun wajahnya tersebut dihiasi dengan pandangan penuh keteduhan dan lidah yang senantiasa berdzikir mengucap asma-Nya, serta matanya yang berbingkai kacamata itu sangat awas mencari dengan teliti dimana putrinya berada. Menunggu dan mencari keberadaan putrinya diantara ratusan orang yang keluar dari pintu tersebut.
“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaah……”
Aku berlari disertai detak jantung tak menentu. Hentakan sepatuku yang berkolaborasi dengan decitan koper usangku bagaikan duet maut ditengah-tengah konser kehidupan. Aku mendarat tepat dipelukannya. Pelukannya masih sehangat dahulu. Aku menangis sejadi-jadinya dalam peluknya. Sudah dua tahun aku tak pernah merasakan pelukan sehangat ini. Aku sangat merindukan lelaki ini, aku sangat merindukan ayah.
Bersamaan dengan elektron dalam tubuhku yang meletup-letup tak karuan. Meletup pulalah semua memori-memori indah bersamanya. Hari dimana aku mengeluh karena kesusahan menghafal ayat suci-Nya, namun ia senantiasa membantuku, memungkinkan hal yang awalnya kuanggap tak mungkin.
“Udah tak ada yang perlu ditangisi, Qa.. Kan ayah udah disini..”,ujar ayahku menenangkanku seraya membelai halus kepalaku yang dibalut dengan kerudung pashmina.
Ia adalah alasan keresahanku beberapa waktu yang lalu. Ia alasan mengapa aku harus kembali ke tanah pertiwi. Melangkah dengan pasti. Karena hanya bumi pertiwi-lah tempatku kembali. Disini aku mempunyai sesuatu yang kusebut “rumah”.
Share:

Wednesday, 15 April 2020

Kekuatan 'Positive Words'




Bismillah...
Apa kabar, kawan-kawan? Semoga selalu sehat yaaaaa J

Pernahkah kamu merasakan bahwa dunia ini sangat menyesakkan? Seperti tak ada ujungnya? I have ever on that state. Nggak nyaman sekali. Tapi mungkin itulah bagian dari proses. Semoga sebuah proses yang mendewasakan, yang membuat hati semakin kuat ya! Pernah denger kata-kata ini kan, “What doesn’t kill you make you stronger.” By the way, pas barusan aku cari di mbah Google, aku baru menyadari kalau itu tuh bagian dari lirik lagunya Kelly Clarkson - Stronger (What Doesn't Kill You). Wehehe, maaf agak kudet ya aku mah.
Aku tuh sering banget kepikiran,
“Enak kayaknya ya kalau cerita sama orang, tapi yang dia nggak kenal sama sekali dengan kita. Jadi pasti bakalan no judge, lebih objektif.”
Wess.. ntar ada yang berkomentar dalam hati,
“Kan ada Allah, wits. Kenapa musti cerita ke orang sih?”
Yep pastinya, Allah itu udah jadi tempat bercerita, mengadu dan meminta no satu sejagat raya. Orang-orang mungkin melihatku sebagai seorang ekstrovert yang memiliki banyak teman, sehingga kalau mau cerita, ya tinggal cerita aja gitu. Big no! Salah banget. Karena aku termasuk orang yang memiliki insecurity nya tinggi. Entah kenapa. Aku selalu mikir dulu,
“Kalau aku cerita ke dia nggak apa-apa gitu ya?”
“Apa ya nanti dampaknya? Apa dia bakalan nge-judge aku abis-abisan?”


Jadi aku menjunjung kenyamanan. Harapannya setelah cerita tuh nggak ada efek sampingnya, gitu loh hehe. Entah mungkin ada traumatik dibawah alam sadarku juga. Wallahu alam. Catatan: Hopefully kalau nanti sudah memiliki pasangan mah bisa seterbuka mungkin lah ya, inshaaAllah. Hihihi. (karena aku sering banget dikasih nasihat oleh temen tentang ini)
Jika terdapat genangan air, lama-lama pasti keruh. Beda ceritanya kalau airnya mengalir, mungkin nggak ada jaminan juga airnya bakalan bersih dan jernih, tapi setidaknya ada possibility dia bakalan bisa jadi air  yang jernih dan bermanfaat. Ngerti kan analoginya? Jadi sebenernya disini aku hanya ingin menekankan bahwa, kalian, sebagai pendengar (bukan subjek yang merasa masalah yang harus diceritakan),
“Kamu tidak dituntut untuk dapat meyelesaikan masalah semua orang. Tapi, setidaknya kamu masih memiliki telinga untuk menjadi pendengar yang baik ATAU kesempatan untuk memberikan ‘positive words’.”
It’s really fine! ‘Positive words’ nya itu dapat berbentuk apresiasi. Apresiasi karena ia mampu bertahan hingga mencapai level tersebut. Itu tuh bener-bener melegakan ketika mendengarnya dan terasa meringankan sedikit beban yang ada di pundak. Tapi memang perlu diperhatikan pula, jangan sampai kata-kata yang kamu berikan tuh toxic positivity. Mungkin kalimat tersebut buat kamu biasa aja, tanpa disangka itu bisa memberikan dampak yang sangat besar untuk orang yang membutuhkan support seperti itu.
(Terharu mengingat positive words yang diberikan orang kepadaku, makasih!)

Terima Kasih. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembacanya.
Kritik dan saran bisa dilampirkan J
Mohon maaf jika banyak kesalahan dalam penulisan.
Share:

Monday, 13 April 2020

Koleksi Novel

Kurang lebih seperti itu isinya

Jika kalian senang membaca, bisa banget klik link ini. Berisi novel-novel dan bacaan maupun audiobook yang saya dapatkan dari paman saya sebagai hadiah milad hehehe (waktu saya masih duduk di bangku SMA kalau tidak salah.)


Share:

Ngomongin tentang #untiltomorrow challenge dan kawan-kawan

Tulisan ini sebenarnya telah saya terbitkan di feed instagram saya. Tapi guna pengarsipan, saya share juga di laman blog saya ini..



Menyoal #untiltomorrow challenge, bingo-bingo an dan challenge-challenge lainnya, it's okay buat have fun mainan seperti itu. Karena jujur pertama kali main isi bingo-bingo an tuh beneran happy, hormon endorfinnya bekerja maksimal banget kayaknya hehe. Sebagai seorang Ambivert yang cenderung ke ENFJ, cukup sekali atau beberapa kali aja sih kalau saya mah nyobanya, udah ngerasa satisfying. Udah gitu? Ya udah. Gak penasaran lagi. Hihi

Nah, disini saya ingin menyampaikan sebuah hal yang cukup relevan dengan 'wave' tersebut. No offense, yak!

Awal kisah, di suatu hari yang cerah saya bersama dengan beberapa teman saya pergi ke sebuah taman, ya betul kami berpiknik pas lagi Summer. Disana kami makan biji bunga matahari dan kudapan lainnya, saling bercerita dan bertukar pikiran dari A sampai Z. Nah muncullah sebuah ide yang diinisiasi oleh seorang teman saya untuk bermain ToD (Truth or Dare).

Di taman seperti itu kebanyakan orang males banget milih Dare, karena pasti bakalan disuruhnya yang aneh-aneh. Jadi orang-orang memilih jalur aman dengan melakukan Truth. Ternyata eh ternyata memilih Truth tidak serta-merta membuat kita tidak mendapatkan pertanyaan yang aneh pula ya. Kalian juga pasti tau sendiri, namanya temen ingin banget usilin temennya. Konteks Truth yang harus diungkapkan pada momen itu adalah mengenai “hal paling memalukan yang pernah dialami”. Bukan aku yang dapat giliran menjawab, Alhamdulillah. Kemudian yang mendapatkan giliran pun menjawab, "(Tuttt tuttt tutt tut)". *saya sensor ya.

Semua tertawa mendengar jawabannya, terkecuali saya yang agak berat jika harus menertawakan. Saya cenderung turut merasa malu atas jawaban tersebut, mungkin orang bakalan mikir kalau saya orangnya nggak fun kali ya? Tapi saya sebenarnya hanya mencoba memilah mana yang entertaining dan mana yang tidak seharusnya dijadikan bahan candaan.

Saat itu kami duduk melingkar di rerumputan, saya tidak menyadari juga bahwa ternyata ada orang  yang duduk tidak jauh dari saya juga tidak tertawa, dia hanya sibuk memainkan ranting kering sambil berkata setengah berbisik,
"Allah tuh udah baik banget nutupin aib kita, eh ini kok malah kita umbar-umbar. Terus  ngetawain lagi.", matanya masih terus menunduk memandangi ranting di tangannya yang ia adukan dengan rumput.

Jarak duduk kami nggak deket loh, tapi entah kenapa di ramainya suara tawa, celotehannya dia tuh bisa kedengaran dengan jelas dan terserap sempurna oleh pendengaran saya. Disitu Allah sedang bekerja, Allah ingin ingatkan saya melalui perantara teman saya tersebut. Wallahu ‘alam.

Lanjut ke ceritanya....

Jleb, disitulah saya seperti mendapatkan tamparan keras dari perkataan teman saya tersebut. Jangan-jangan selama ini saya menikmati respon orang atas aib yang diumbar.
Setelah hari itu saya mulai untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkata-kata dan bersenda gurau. Saya sadar sepenuhnya kalau saya masih jauh banget dari kata sempurna, mungkin kalian yang membaca ini bisa aja mengatakan, “Witsqa itu hypocrite, karena pernah juga ngelakuin hal tersebut.”, kalau iya, saat itu mungkin saya sedang khilaf. Maka tolong ingatkan, ya 😊

At least, here I want to share one of a great value that I've ever received in this unimmortal world.
Sayang banget kan kalau nggak dibagikan?

#ntms #tulisanWFA

Share:

Search in This Blog

Pesan untuk Penulis

Name

Email *

Message *

Another Blog

Tulisan Terbaru!

Witsqa Masak: Yumurtali Patates

DISCLAIMER!  Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasa...