*

Pages

Sunday, 21 February 2021

86 pertama!

 


Seperti yang dapat dilihat, gambar diatas menunjukkan laman kanal youtube-ku. Aku mencapai 86 subscriber pertamaku hari ini. Tbh, I’ve never been expecting subscribers. 86 mungkin bukanlah angka yang besar bagi kalian. Tapi buatku ini cukup “banyak”. Aku harus memikirkan baik-baik setiap apa yang kubagikan. Aku harus lebih bijaksana dalam berbagi insights. Karena setiap postinganku kelak akan dipertanggungjawabkan di dunia dan yang terberat, di akhirat. Setidaknya apa yang kubagikan ini kelak dapat mempengaruhi 86 kepala manusia di muka bumi.

Kilas balik ke tujuan utama aku membuka kanal youtube hanya untuk membagikan moment saat aku sedang berada di perantauan, Turki. Terbatasnya ukuran video yang dapat dibagikan melalui WhatsApp, membuatku berinisiatif untuk membuka kanal youtube ini. Tak kusadari, tujuanku semakin melebar. Berlanjut dengan membagikan buah pikiran ataupun kisah-kisah yang dapat diambil hikmahnya. Hingga hari ini aku selalu membagikan tentang belajar bahasa Turki. Jujur, kanal youtube kujadikan salah satu media dalam berinvestasi akhirat. Itu. Semoga Allah senatiasa meluruskan niat di dalam hati ini, agar terus dan harus membagikan hal yang baik demi generasi mendatang.

Setidaknya, jikalau nanti aku sudah tidak ada di dunia ini, aku masih dapat tetap hidup dalam pikiran orang-orang yang mengambil pelajaran atau manfaat yang kuberikan.. inshaaaAllah.

Wallahu a’lam.

Share:

Saturday, 2 January 2021

Teladan Menjadi Orangtua

 

Source: https://unsplash.com/photos/KhStXRVhfog
Source: https://unsplash.com/photos/KhStXRVhfog

Selalu ingin menuangkan teladan-teladan yang kuperoleh dari kedua orangtuaku kedalam sebuah tulisan. Baru sempat kali ini. semoga bisa bermanfaat ya. Ini hanyalah teladan sederhana dari kedua orangtuaku, ditulis dengan penuh kerendahan hati murni untuk berbagi.

 

Teladan dari ibu:

1.  Ibu super duper mandiri. Disini dalam artian tidak 100% bergantung pada ayah. Terkadang tidak perlu minta diantar oleh ayah untuk bepergian kesana kemari. Dahulu seringkali jika ada perlombaan-perlombaan ibu yang antar pakai mobil. Nyetir sendiri. Sejauh apapun. Keren! Tidak hanya dalam hal ini, termasuk dalam hal domestik rumah tangga.

2.  Ibu paling hebat dalam hal menjamu tamu. Dari ibu aku benar-benar belajar untuk selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain, apalagi itu tamu.

3.  Ibu sangat bersemangat dalam hal bersedekah, baik itu sedekah materi maupun menyedekahkan segala waktu dan tenaganya. Hal yang paling membuatku iri adalah ibuku selalu mendapatkan kesempatan untuk mengurus pemulasaraan jenazah, terutama memandikan. Tahu kan ganjaran dari memandikan jenazah itu apa? Kita akan seolah seperti bayi yang beru lahir, membersihkan dosa. Wallahu a’lam wa mashaaAllah.

“Barangsiapa memandikan mayit lalu menyembunyikan aib-aibnya, Allah akan mengampuninya dengan empat puluh kali ampunan. Dan barangsiapa menggali (kubur) untuknya maka akan diberikan pahala baginya seperti pahala orang yang memberikan tempat tinggal hingga hari kiamat. Dan barangsiapa mengkafani mayit, Allah akan mengkafaninya dengan sutra halus dan bludru dari surga di hari kiamat nanti.”

(HR Al-Hakim dalam Mustadrak : 1/354, 1/362, Ath-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir : 929 dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shaihut Targib Wat Tarhib : 3492 Lihat pula Ahkamul Janaiz : 69 oleh Imam Al-Albani).

4.  Memeluk ibu selalu menjadi hal paling menenangkan. Dikala kegundahan melanda, memeluknya bisa menjadi penawar. Believe it or not, hingga seusia ini aku masih suka memeluk ibuku, hehe. Ibu sih selalu mengatakan, “ih malu udah besar masih suka peluk-peluk ibu”. Tapi aku ingin selalu memeluk ibu selama aku bisa. Aku ingin selalu menggenggam tangannya selama aku mampu. Hal tersebut membuatku ingin menjadi seorang ibu yang bisa memberikan kehangatan dan ketenangan bagi keluarga.

5.  Ibu semacam memiliki sixth sense (?) Tentu saja tidak benar. Tapi feeling-nya selalu benar. Seringkali aku hanya berbisik, “duh ini kayaknya enak ya.”

Besoknya, tringgggg, apa yang kusebut di hari sebelumnya ada di rumah. Ini membuatku merasa harus lebih menajamkan lagi empati dan perhatianku pada sekitarku, tentunya. Mungkin hal tersebut terdengar wajar, karena bisa saja ibu mendengar dan mencatatnya dalam hati. Tapi yang terkadang membuat takjub adalah aku berbisik semacam itu disaat ibu tidak di sekitarku. Misal sepulang kuliah atau bekerja. Setibanya di rumah, bayangan sekelibat yang kubayangkan itu ada di hadapanku. mashaaAllah.

6.    Dan masih banyak lagi.

 

Ini tentang ayahku:

1.  Jika kami singgah dan shalat di masjid, ayah selalu mengajak untuk shalat berjamaah. Biasanya beliau memilih mundur ke belakang dan mendekat ke saf perempuan, dimana aku berada, namun tetap di balik hijab. Bagiku aksi sederhana seperti itu selalu menjadi hal paling romantis sepanjang hidupku.

2.  Ketika aku sedang mengerjakan sesuatu, kemudian ayah memintaku untuk melakukan sesuatu dan aku lakukan. Setelahnya ayah selalu doakan: “Semoga kerjaan kakak yang seharusnya selesai dalam 3 jam, bisa selesai dalam 30 menit. Aamiin.”. Do’a yang cukup unik namun sangat perlu diamini.

3.  Ketika duduk di bangku SMA, seringkali aku mengalami insomnia ataupun harus tidur lebih larut karena tuntutan tugas sekolah. Mengetahui hal tersebut, biasanya ayah selalu berusaha tetap terjaga agar dapat menemaniku hingga semua tugasku dapat dipastikan telah selesai dan tertidur dengan pulas (memastikan aku bias melawan insomniaku).

4.    Ketika berada di bangku SMA, aku pernah diberikan tugas mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Aku diharuskan menulis tulisan arab yang bersumber dari al-qur’an. Sayangnya, hari itu aku sedang berhalangan, sehingga aku tidak dapat menyentuh mushaf. Ketika kusampaikan hal tersebut pada ayahku, beliau dengan sigapnya memegangi halaman al-qur’an yang kutuju. Sehingga aku dapat menyalin tulisan al-qur’an tersebut dengan tenang tanpa menyentuhnya.

5.  Ketika SMP, aku mengikuti kursus bahasa Inggris di LIA Buahbatu. Karena jarak tempuh yang cukup jauh dari tempat kursus ke rumah, ayah selalu jemput sepulangnya. Tapi ada satu hari dimana ayah sangat terlambat menjemputku. Membuatku menunggu lebih dari 1 jam. Sementara sudah tidak ada lagi orang yang tersisa di tempat kursusku sore itu. Aku cemberut. Ketika ayah datang aku tidak menjawab sapaannya yang disertai wajah berseri-seri seperti biasanya. Aku juga tidak merespon jokes-nya yang ia gunakan demi mencairkan suasana. Hingga akhirnya ayah menghela napas panjang dan terdiam sejenak.

Ia berkata, “Kak, tahu nggak apa aja ‘two golden words’ itu?”

Aku menjawab singkat, “nggak”, sambil tetap cemberut.

Ayah melanjutkan lagi, “thank you and sorry”.

Entah apa yang terjadi, aku seperti tersihir. Hatiku langsung luluh dan memaafkan ayahku (tanpa mengatakan padanya jikalau aku telah memaafkannya). Ketika sudah tiba di daerah Kiaracondong, aku dengan perasaan bersalahku terhadap pria yang memboncengiku memuncak, lalu kupeluk ia dari belakang. Pertanda aku telah memaafkannya.

Mungkin jika kondisinya aku sudah sedewasa ini, nggak akan tuh ada drama-drama aku yang ngambek-ngambek seperti itu. Karena pastinya lebih paham juga, kalau ayah mungkin sedang ada kerjaan tambahan mendadak dan ingin cepat-cepat menyelesaikannya, sampai-sampai menghubungi pun tidak bisa. Maklum bocil. Tapi Alhamdulillah, tanpa kusadari kejadian itu cukup berdampak jangka panjang padaku. Nampaknya semenjak itu pula, lidahku ini sangat ringan dalam mengucapkan terima kasih ataupun memohonkan maaf. Sampai-sampai aku pernah ditegur orang, “Witsqa kenapa sih pake minta maaf segala, kan kamu nggak salah apa-apa.”

Hanya karna aku bilang, “oh gitu ya? Ih maaf aku nggak tahu.”

6.  Ketika SMA, masa-masa datang bulan selalu dijadikan alasan utama atas emosiku tak terkontrol, over-sensitive, dll. Secara alamiah sih dipengaruhi hormon, kalian juga pasti tahu lah ya. Nah, hingga akhirnya ayah pernah menegurku, “Kak, istigfar. Emosi itu datangnya dari syaithan. Kamu pasti bisa kontrolnya”. Semenjak itu, aku melatih untuk mengendalikan emosiku terutama saat datang bulan, dan alhamdulillah bisa karna terbiasa. Meski untuk ke-sensitive-an mungkin masih belum dapat sepenuhnya kukendalikan. Selalu aja ada alasan untuk overthinking.

7. Ayahku yang bukan seorang ulama. Tetapi kenal dan dikenal oleh ustadz-ustadz. Bangga? Alhamdulillah, itu semua benar-benar karunia Allah. Hal tersebut membuatku ingat agar selalu menjaga pergaulanku, circle-ku. Minimal, dengan tetap menjaga akhlakku.

8.    Dan masih banyak lagi.

 

Seperti halnya anak, orangtua pun terkadang ada alpanya. Bagaimanapun juga orangtua tidaklah langsung terlahir menjadi sosok orangtua. Yang senantiasa bisa lihai dalam menjalani bahtera rumah tangga tanpa cela. Mereka pastinya melalui proses kehidupan yang cukup panjang, pahit-getir-manisnya kehidupan. Mengalahkan egonya demi kebahagiaan pasangan dan anak-anaknya. Mengesampingkan segala hajat pribadinya demi mengutamakan kepentingan keluarganya. Ku yakin, ayah dan ibu pasti memiliki hal yang ingin digapai. Namun mereka urungkan jika itu berbenturan dengan pemenuhan kebutuhan pasangan dan anak-anaknya. Lagi-lagi bukan tentang siapa yang paling berkorban. Tapi keduanya yang selalu ikhlas dalam memberi.

 

Sempat ada banyak kekhawatiran yang menyerangku. Mampukah aku menjadi seorang pasangan dan ibu yang baik kelak di kemudian hari? Aku sudah mulai membaca dan memang secara alamiah tertarik dengan ke-parenting-an sejak bertahun-tahun silam. Semakin aku membaca, “wow, banyak sekali ilmunya, banyak sekali aturannya, banyak sekali yang harus diterapkannya. I’m kind of overwhelmed.”. Inilah tantangan pasutri dan orangtua di masa kini, overflowing information. Namun seberapa banyak buku yang dibaca, sebanyak apapun artikel yang dilahap, seberapa banyak video yang ditonton, dan sesering apapun mengikuti webinar atau seminar, semua itu akan percuma. Karena seberapa keras dan besarpun ikhtiar kita, hanya Allah satu-satunya yang dapat mampukan.

 

Lagipula kunci terpenting dari segala hal tersebut adalah ikhlas. Kebayang kan jika sebagai orangtua udah puyeng duluan dalam mengurus anak karena banyaknya tuntutan parenting style A, B, C, dst, anaknya bakalan seperti apa? Ikhlas dalam mengasuh, ikhlas dalam memberi, ikhlas dalam menuntut ilmu. inshaaAllah akan dimampukan. Aku mencapai kesimpulan-kesimpulan ini bukanlah berdasarkan pengalaman pribadi, karena pengalamanku masih nihil. Seujung kuku pun tidak. Namun, hal tersebut berdasarkan pengalaman teman-teman yang sudah lebih dulu mengarungi keindahan fase kehidupan yang belum kulalui tersebut.

 

Wallahu a’lam.



















Share:

Friday, 25 December 2020

Waktunya Bahasa Turki: Nama-nama musim dalam bahasa Turki


Wah-wah kita udah semakin banyak belajar bahasa Turki yaaa. Gimana menurut temen-temen? Apakah cukup bermanfaat? Seru? Kali ini kita akan mempelajari nama-nama musim dalam bahasa Turki. Untuk penjelasan dalam videonya bisa dilihat pada channel youtube saya yaa.

Nama-nama musim: 

  • Kış Musim dingin
Waktu: Biasanya bulan Desember sampai Februari
  • İlkbahar Musim semi

Waktu: Biasanya bulan Maret sampai Mei

  • Yaz Musim panas

Waktu: Biasanya bulan Juni sampai Agustus

  • Sonbahar Musim gugur

Waktu: Biasanya bulan September sampai November

Bentuk pertanyaan yang digunakan : Hangi mevsimdeyiz?

Jawaban :

  • Kışın (di musim dingin)
  • İlkbaharda (di musim semi)
  • Yazın (di musim panas)
  • Sonbaharda (di musim gugur)



Catatan:

Musim yang berbeda-beda menyebabkan jenis dan bahan pakaian yang digunakan juga berbeda. Bicara tentang musim, kita juga bisa mempelajari tentang kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan hawa dan suhu sekitar.

Share:

Saturday, 19 December 2020

Waktunya Bahasa Turki: Hari ini bagaimana ya cuacanyaa?


Halo teman-teman! Merhabaaa! Kalian pasti penasaran juga kan cara menyebutkan cuaca dalam bahasa Turki? Yuk disimak artikelnya. Kalau kalian ingin lihat penjelasannya dalam bentuk audio dan visual bisa cek channel youtube aku yaaa.


Bentuk pertanyaan yang digunakan : Bugün hava nasıl? (Cuaca hari ini bagaimana?)

  • Soğuk – dingin
  • Sıcak – panas
  • Ilık – normal / sedang
  • Yağmurlu – berhujan
  • Bulutlu – mendung / berawan
  • Rüzgarlı – berangin
  • Serin – Sejuk


Singkat banget dulu dari aku, semoga bisa bermanfaat yaa.
Görüşürüz!

Share:

Surat Cinta Terakhir Dariku yang Sedang Patah Hati

Jum’at / 18 Desember 2020 pukul 04.30 WIB

A beautiful soul has gone from this cruel world....

“Dunia adalah penjara bagi mereka yang beriman.”,
setidaknya engkau tidak lagi terkungkung dibalik jeruji besi perduniawian ya, ki.

 

Source: Dokumen Pribadi

Alm. Aki, bukanlah kakekku. Tapi beliau sudah seperti kakek kandungku sendiri. Ya meski tidak 100% sebebas dengan kakek kandung. Tapi dengan beliau, aku merasa seperti memiliki kakek lagi. Aku sangat bahagia. Dunia pun turut berbahagia saat aku bisa bercengkrama mengobrol berjam-jam dengannya.

Dikala aku sedang dalam kesulitan, dikala membutuhkan do’a dan support, atau memang ingin menyegaja bersilaturahmi, aku menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Namun kini ia telah tiada. Belum sempat aku memberikan kabar bahagia bahwa aku telah di wisuda. Belum sempat aku memberikan suka cita dengan bertegur sapa dengannya. Belum sempat kami (aku dan keluargaku) melibatkannya dalam momen-momen penting di hidupku (ini telah aku dan keluargaku rencanakan sedari dulu, saking kami menghormati dan menyayangi beliau layaknya keluarga sendiri). Padahal beliau juga sudah berpesan, “jika ada acara-acara, undang aki ya.”. Namun ternyata undangan dari Allah untuk tinggal bersama-Nya jauh lebih dulu tiba ya, ki. Semoga aki berbahagia dirumah barunya. Semoga nanti kita dapat berjumpa lagi di tempat yang lebih baik ya, ki. Semoga........

Ki, makasih pernah hadir di hidup Witsqa. Terima kasih karena telah memberikan Witsqa kesempatan untuk memiliki seorang aki (sekali lagi). Terima kasih telah menyirami hati Witsqa yang sempat kering. Terima kasih karena ternyata aki juga menjadi bagian penting dalam hidup Witsqa. Padahal Witsqa mah siapa? Tidak ada hubungan darah samasekali. Hanya ukhuwwah islamiyyah. Witsqa sangat bersyukur pernah dipertemukan dengan aki. Alhamdulillah bini’matihi tattimush shalihaat...

Oh iya, katanya aki berpulang di tanggal dan waktu yang sama dengan belahan jiwanya ya? Mungkinkah ini pertanda jodoh dunia akhirat? Pertanda cinta sejati? Tak perlu hiraukan cocoklogi ini. Yang jelas, hari itu adalah hari yang baik untuk aki kembali ke pelukan-Nya.

Nanti kalau Witsqa berkunjung ke rumah baru aki, semoga Witsqa bisa bawakan gepuk kesukaan aki, yaaa. Terima kasih ya ki untuk semuanya. Aki akan selalu terkenang. Sampai jumpa lagi, inshaaAllah!

 

 

Kutulis ini karena ku tak ingin lupa. Kalau pernah ada sebuah jiwa yang tulus berdo’a padahal tidak ada ikatan pertalian darah.

 

 

Share:

Wednesday, 16 December 2020

Waktunya Bahasa Turki: Hari (Günler)


Pasti penasaran banget kan, gimana sih cara mengungkapkan nama hari dalam bahasa Turki. Oh iya, mengenai artikel ini, untuk versi videonya kalian bisa cek channel aku yaaaaa.

  • Pazartesi – Senin
  • Salı – Selasa
  • Çarşamba – Rabu
  • Perşembe – Kamis
  • Cuma – Jumat
  • Cumartesi – Sabtu
  • Pazar – Minggu


Adapun keterangan lainnya yang tidak kalau penting, diantaranya:
Dün : Kemarin
Bugün : Hari ini
Yarın : Besok
Ertesi gün : Lusa
Gelecek .... : .... yang akan datang
..... gün önce : .... hari yang lalu                *) titik-titik diisi dengan angka
..... gün sonra : .... hari yang akan datang  *) titik-titik diisi dengan angka

Contoh penggunaan dalam percakapan:
Rabia : Bugün günlerden ne? (Hari ini hari apa?)
Nezihe : Bugün günlerden Salı. / Bugün Salı günü. (Hari ini hari Selasa)
Ayşe : Ne zaman matematik dersi yine göreceğiz? (Kapan ada pelajaran Matematika lagi?)
Burak : Gelecek Çarşamba, değil mi? / 2 gün sonra, değil mi?
(Rabu yang akan datang, iya nggak? / 2 hari yang akan datang, iya nggak?)

Keterangan: Asal usul kata Pazartesi dan Cumartesi. Pazartesi adalah gabungan dari kata Pazar dan ertesi, maknanya keesokan hari dari hari Minggu, yakni... Senin. Unik ya! Begitu pula dengan Cumartesi.

Share:

Sunday, 13 December 2020

Secercah Cerita Bunda

Ketemu postingan ini https://www.instagram.com/p/CIu866_Jl3-/ jadi ingin share sebuah cerita.

Beberapa teman seangkatanku qadarullah ada yang memang sudah bertemu dengan jodohnya bahkan dikaruniai keturunan. Nah, tiap kali menjenguk teman-temanku yang baru saja melahirkan, mereka selalu excited menceritakan pengalaman melahirkannya. Darisitu juga aku jadi mengetahui, kalau setiap orang akan mengalami hal yang berbeda. Ngilu? Iya pastinya. Wkwk. Pertama kali dengar kisah melahirkan dari seorang Bunda tuh saat masih duduk di bangku S1 dulu, dan saat itu aku bener-bener tidak kuat dan rasanya tidak mau mendengarnya. Tetapi seiring berjalannya waktu, entah dikuat-kuatin atau memang dengan sendirinya mulai berusaha bersikap biasa saja, akhirnya aku mampu. Namun tetap bertujuan memetik hikmah dan pelajarannya yang belum tentu aku bisa alami sendiri nantinya (ini aamiin banget sih, soalnya seriously ceritanya teh pada uwow sekali...)

Singkat cerita aku bertemu dengan seorang Bunda A ini. Bak seorang interviewer, aku membuka obrolan dengan membahas hal-hal yang biasa kubahas ketika bertemu dengan teman yang baru saja melahirkan. Kami memang terbilang cukup dekat. Beliau diatasku beberapa tahun, tapi entah rasanya seperti sahabat karib aja gitu. Sangat nyaman dalam bertukar cerita, canda, dan tawa. Sesungguhnya, dia memang tidak menceritakan pengalaman melahirkannya, karna Alhamdulillah terbilang lancar dan tanpa hambatan yang berarti. Namun yang tak kusangka, ia menceritakan pengalaman pasca melahirkan. Ia sangat terbawa suasana. Dia menceritakan dengan sangat gamblang apa yang pernah mengusik ketentraman hatinya pasca melahirkan.

Sembari terisak ia mengatakan,

“aku teh merasa bersalah ke anakku. Karena aku nggak bisa kasih ASI. Belum lagi omongan orang-orang yang menyudutkanku. Padahal aku tuh ingin banget bisa ngasih ASI. Aku merasa belum menjadi ibu yang sempurna.”

DEG! Disitu sesungguhnya aku bingung harus merespon seperti apa. Aku yang masih minim pengalaman, hanya bermodalkan empati hanya bisa berkata,

“aku emang nggak tau rasanya. Tapi kayaknya aku juga bakalan sedih kalau ada di posisi tersebut. Tapi inshaaAllah teteh udah jadi ibu terbaik buat anak teteh. Anak teteh bener-bener sangat beruntung memiliki ibu seperti teteh.”

Aku sangat percaya dia memiliki kekecewaan yang mendalam atas dirinya sendiri, tetapi saat yang bersamaan dia juga berusaha semaksimal yang ia bisa lakukan. Disitu aku sangat tidak tega, dan turut bersedih.

“aduh teh maafin aku ya. Aku jadi malah ngingetin teteh sama hal yang udah lalu.”

Aku mengerti dia pastinya mengalami baby blues syndrome (semoga tidak sampai post-partum syndrome). Dan lidah-lidah manusia hanya memperkeruh keadaannya. Termasuk lidahku.

Sejak itu aku lebih berhati-hati dalam bertanya. Nope. Lebih tepatnya, aku tidak menanyakan jika tanpa tujuan, apalagi untuk hal-hal sensitif seperti itu. Dear Bunda A, dan bunda-bunda lainnya: kalian kuat, kalian sangatlah hebat, kalian adalah superhero yang sesungguhnya. Setidaknya bagi anak-anakmu. Semoga kita dapat meningkatkan empati kita kepada sekitar ya. Maafkan daku huhuhu.

Share:

Tuesday, 24 November 2020

Waktunya Bahasa Turki: Nama-nama Bulan


Hai, apa kabarnya nih temen-temen semua? Semoga sehat selalu ya! Kali ini kita akan memperkaya kosakata bahasa Turki mengenai nama-nama bulan. Udah pada nggak sabar banget kan buat mempelajari nama-nama bulan dalam bahasa Turki. Yuk mari disimak!

Bulan - bulan (aylar)

  • Ocak – Januari
  • Şubat – Februari
  • Mart – Maret
  • Nisan – April
  • Mayıs – Mei
  • Haziran – Juni
  • Temmuz – Juli
  • Ağustos – Agustus
  • Eylül – September
  • Ekim – Oktober
  • Kasım – November
  • Aralık – Desember


Geçen ay     : Bulan kemarin
Gelecek ay  : Bulan depan
..... ay önce  : .... bulan yang lalu                 *) titik-titik diisi dengan angka
..... ay sonra : .... bulan yang akan datang    *) titik-titik diisi dengan angka


Contoh penggunaan dalam percakapan

Rabia : Hangi ayindayız? (Sekarang bulan apa?)
Nezihe : Ekim ayindayız. (Sekarang bulan Oktober.)


Ayşe : Ne zaman diş doktoruna gideceksin? (Kapan kamu akan pergi ke dokter gigi?)
Burak : Aralık ayinda diş doktoruna gideceğim / 6 ay sonra diş doktoruna gideceğim. (Saya akan pergi ke dokter gigi di bulan Desember. / Saya akan pergi ke dokter gigi 6 bulan yang akan datang)


Topik ini aku ulas juga di channel Youtube-ku. Sekian topik kali ini, semoga bermanfaat yaa!

Share:

Monday, 2 November 2020

Witsqa Masak: Bubur Sumsum

DISCLAIMER! Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasal dari mana saja; youtube, blog, resep turun-temurun, dll. Selamat mencoba!

Siapa yang nggak tahu bubur sumsum? Enak banget dimakan kalau kita sedang sakit, atau sekedar untuk camilan sore. Ternyata cara membuatnya itu mudah banget loh! Penasaran? Yuk cuss kita buat!

Bahan untuk bubur:

  • 700 ml air
  • 100 gram tepung beras
  • 1 bungkus santan kara @65ml
  • 1 lembar daun pandan
  • 1/2 sdt garam

Bahan untuk kuah:

  • 1 sdt tepung maizena (opsional)
  • 160 gram gula merah
  • 1 lembar daun pandan
  • 300 ml air

Langkah-langkah membuat kuah:

  1. Potong halus gula merah, agar mudah dilarutkan.
  2. Masukkan potongan gula merah, pandan, dan air, lalu aduk merata hingga semua gulanya larut.
  3. Saring campuran tersebut. Agar kotoran-kotoran dari niranya terpisah.
  4. (Opsional) Jika ingin agar kuah gula tersebut agak kental, dapat dituangkan tepung maizena / kanji yang telah dicairkan.
  5. Aduk hingga mencapai tingkat kekentalan yang diinginkan.

Langkah-langkah membuat bubur:

  1. Campurkan tepung beras, garam, santan yang sudah dicairkan, dan air.
  2. Aduk dengan menggunakan whisk hingga merata.
  3. Nyalakan api sedang, kemudian masukkan daun pandan.
  4. Terus aduk menggunakan whisk hingga bubur mencapai tingkat kekentalan yang diinginkan.
  5. Diamkan sebentar. Bubur siap dihidangkan.

Catatan:

  • Takaran santan kara dapat disesuaikan dengan tingkat gurih yang diinginkan.
  • Pastikan terus mengaduk dengan baik, jika tidak, bagian bawahnya akan gosong.
  • Bisa gunakan tambahan candil / biji salak agar hidangan bubur sumsum semakin nikmat.
  • Dapat dimakan panas-panas atau saat dingin.

Mudah banget kan ya! Pasti langsung berhasil kok bikinnya. Yakin deh!!

Referensi: https://www.youtube.com/watch?v=fxHlUA5Kujs&t=177s



Hehe. Kali ini nggak pakai foto, karena kelupaan memfotonya.

Share:

Wednesday, 28 October 2020

Waktunya Bahasa Turki: Kata Kerja (Fiil)

 

Dalam bahasa Indonesia dan Inggris kata kerja tidak mempunyai ciri khusus, sehingga untuk mengetahuinya kita harus menghafalnya satu persatu. Tapi tidak dengan bahasa Turki. Semua kata yang berakhiran –mak/-mek adalah kata kerja.

Contoh:
gitmek (pergi)
gelmek (datang)
yapmak (melakukan)
yemek (makan)
içmek (minum)
okumak (membaca)
yazmak (menulis)
dinlemek (mendengar)
almak (mengambil / membeli)
vermek (memberikan)
dokunmak (menyentuh)
ertelenmek (menunda)
gülümsemek (tersenyum)
vs. (ve saire = dan lain-lain)

Mengenai fiil kalian bisa lihat juga di kanal Youtube saya.


Waktunya Fakta!

Dalam bahasa Indonesia kita menggunakan struktur kalimat tersusun atas S-P-O, sedangkan dalam bahasa Turki adalah S-O-P.
Predikat atau kata kerja (dalam bahasa Turki: fiil) terdapat di akhir kalimat.
Contoh: Ben seni seviyorum (Aku sayang kamu).
Keterangan waktu maupun tempat biasanya diletakkan di awal kalimat.
Contoh: Yarın Istanbul'a gideceğim (Aku akan pergi ke Istanbul besok).

Untuk memperkaya kosakata bahasa Turki, berikut saya berikan resimli sözlük (kamus bergambar), untuk terjemahnya bisa kalian coba cari sendiri ya! Sekalian latihan mandiri. Kali ini bertemakan kata sifat.
Mengenai laman kamus online kalian bisa gunakan google translate (https://translate.google.com.tr) atau tureng (https://tureng.com/tr/turkce-ingilizce) ya.

Share:

Search in This Blog

Pesan untuk Penulis

Name

Email *

Message *

Another Blog

Tulisan Terbaru!

Witsqa Masak: Yumurtali Patates

DISCLAIMER!  Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasa...