*

Pages

Tuesday, 21 April 2020

Perempuan, Bibit Awal Pendidikan



Pendidikan merupakan topik yang biasa kita temui namun selalu menarik untuk diperbincangkan. Berbicara tentang pendidikan tentu mengundang pertanyaan - pertanyaan yang berputar dalam pikiran kita. Sebenarnya, pendidikan yang sesungguhnya itu dapat kita dapatkan dari siapa saja sih? Apakah pendidikan itu cuma bisa kita dapatkan dari bangku-bangku pendidikan formal saja? Hanya dari guru dan mentor ataupun pembimbing saja? Apa sih hakikat pendidikan yang sesungguhnya?
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan, yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.
Kita semua tahu, pendidikan itu sangatlah penting. Jika dianalogikan, pendidikan itu bagaikan pondasi rumah, yang tanpanya, hancurlah rumah yang akan kita buat. Begitupun dengan pendidikan. Tanpanya, hancurlah sebuah negara. Meski tidak ada jaminan akan 100% kehancuran sebuah negara yang diakibatkan oleh penerapan pendidikan yang kurang baik. Namun setidaknya, dengan tidak terlaksananya pendidikan dengan baik membuat negara tersebut tidak dapat menciptakan keadaan yang kondusif, yang ujung-ujungnya mengarah kepada ketidaknyamanan.
Menurut Bringham Young, jika kau mendidik seorang anak laki-laki, maka kau memang mendidik seorang laki-laki, namun jika kau mendidik seorang perempuan, maka kau mendidik sebuah generasi.
Dari pernyataan seorang gubernur Utah yang pertama tersebut, dapat kita kutip bagian “…namun jika kau mendidik seorang perempuan, maka kau mendidik sebuah generasi.”, yang membuat saya berpikir bahwa kunci pendidikan setiap insan itu berasal dari seorang perempuan, atau dengan kata lain bersumber dari seorang Ibu. Seperti yang telah kita ketahui, dalam sudut pandang sosiologi dapat kita kemukakan bahwa keluarga adalah unit terkecil dan paling sederhana yang kita kenali sedari kita masih kecil. Dan jika kita mau menilik kembali akan definisi pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, tidak ada kata-kata yang menunjukkan bahwa pendidikan itu hanya bisa didapatkan dari seorang guru, mentor, maupun pembimbing, tetapi bisa kita dapatkan dari siapa saja atas usahanya memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru. Poin terpentingnya terdapat disini, memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru.
Hidup adalah tentang belajar. Keluarga dan lingkungan adalah guru dan mentor pertama dalam hidup kita. Disadari atau tidak, orangtua selalu berusaha mengajarkan hal-hal baru kepada kita sedari kita masih dalam buaian. Bermula dari belajar merangkak, berjalan, berbicara, hingga bersopan-santun. Semua itu adalah proses pembelajaran yang tidak dapat sedikitpun kita dapatkan di bangku sekolah jenjang manapun. Apa yang akan dikatakan seorang elemen pengajar didalam lingkungan kelas, jikalau mendapati salah satu muridnya ternyata berbicara saja belum bisa? Dan orang tua si murid itu hanya mengandalkan guru sekolah untuk mengajarkan segala hal kepada sang buah hatinya dari mulai nol? Tentu ini adalah sebuah hal yang absurd, bukan?
Lalu, apa hubungan antara semua penjelasan saya tersebut dengan upaya pembangunan pendidikan bangsa? Tentu ada hubungan erat antara keduanya. Sesuai dengan tujuan bangsa Indonesia yang tercantum didalam Pembukaan UUD 1945, yang berbunyi “….mencerdaskan kehidupan bangsa,…”, langkah awal untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan mencerdaskan segala sumber dari penerus bangsa itu sendiri, yakni mencerdaskan para perempuan. Dengan mencerdaskan para perempuan dapat menjadikan tonggak untuk dapat mencerdaskan generasi-generasi penerus lainnya.
Berbicara mengenai upaya pembangunan pendidikan bangsa, jika kita mau sedikit berkiblat pada sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah Finlandia, yang mana negara Finlandia ini pernah mendapatkan penghargaan sebagai Negara dengan mutu pendidikan terbaik di mata dunia. Saya rasa, negara kita dapat sedikit ‘mencontek’ hal-hal yang dapat mendukung peningkatan pembangunan pendidikan nasional NKRI. Pertama, jika kita ingin tahu mengapa Finlandia bisa begitu sukses dalam bidang pendidikannya, dapat kita temukan jawaban diantaranya karena eleman pendidik disana tidak pernah sedikitpun memberikan pekerjaan rumah, dan 60% aktifitas anak-anak Finlandia didalam kelas itu dengan memahami dan menyelesaikan masalah atas pemikiran mereka sendiri, sedangkan 40%nya atas penjelasan dari guru / pembimbing mereka. Sehingga disini, dapat kita lihat bahwa keaktifan siswa dalam membuat maupun membentuk ide itu lebih dominan dibandingkan pemberian informasi secara instan dari elemen pendidik. (sumber: Video dokumenter salah seorang pengamat inovasi pendidikan dari Universitas Harvard, Dr. Tony Wagner)
Beberapa survey pun mengatakan bahwa menciptakan ide dalam benak siswa, merupakan cara yang sangat efektif dalam proses pembelajaran. Yang mana dengan meng-inovasi ide seperti itu membuat mereka tidak lupa akan apa yang telah mereka ciptakan maupun temukan selama proses belajar mengajar. Sehingga mempermudah siswa dalam mengimplementasikan segala bidang ilmu yang telah mereka pelajari.
Indikator apakah yang membuat saya merasa bahwa penerapan pendidikan di negara Finlandia tersebut mempengaruhi pembangunan bangsa? Dapat dilihat dari pendapatan perkapita yang mereka berbanding tipis jika dibandingkan dengan negara adidaya yang sudah sangat maju, jauh berada didepan, Amerika. (sumber: Video dokumenter salah seorang pengamat inovasi pendidikan dari Universitas Harvard, Dr. Tony Wagner)
Jadi dapat kita tarik kesimpulan, bahwa jika kita berkeinginan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, cukuplah dengan mencerdaskan para wanita yang kelak akan menjadi seorang Ibu tentunya. Dimana pendidikan dari sang ibu merupakan pendidikan paling mendasar dan jenjang utama, yang akan menjadi pengokoh kehidupan generasi selanjutnya. Mengenai contoh yang saya ambil dari penerapan pendidikan di Negara Finlandia, merupakan faktor pendorong eksternal yang sama-sama memiliki andil dalam roda kemudi pendidikan suatu bangsa.


Tulisan ini pernah saya kirimkan ke basabasi.co
02/09/2015 21.38 TRT

Share:

Friday, 17 April 2020

A Life Story: "Penghujung Keresahan"


Naskah ini pernah saya kirimkan ke media majalah nurhidayah Solo pada 07 Desember 2015 bertemakan Aku dan Ayah. Namun dikarenakan tidak ada informasi lebih lanjut, saya kira saya dapat mempublikasikannya disini. Naskah ini telah saya sunting kembali di April 2020.

“Penghujung Keresahan”
Oleh Witsqa Fadhilah Adnan

Tik tik tik..
Kulirik jam tangan yang menempel di pergelangan tangan kananku, yang sedari tadi berdetik seolah memahami suasana hati ini. Detikannya hanya menambah kegelisahan hati yang dibanjiri perasaan gundah gulana. Inilah aku, yang sudah berjam-jam lamanya diliputi perasaan gelisah akan suatu hal yang akan dihadapinya sesaat kemudian.
Aku berdiri termangu. Menatap penuh harap ke tiap sudut ruangan. Ya, disini aku sedang menunggu bagasiku menyembulkan dirinya. Bagasiku yang dijelmakan sebagai koper setiaku yang usang, berwana ungu cerah berukuran sedang. Tepat di ruang pengambilan bagasi di bandara Internasional Soekarno Hatta. Bersama puluhan orang lainnya kami berdesakkan, mondar-mandir tak sabar akan kemunculan koper dari masing-masing kami tersebut. Bagaimana tidak gelisah? Sewaktu melakukan transit di bandara Internasional Dubai aku dengan suka-ria dan penuh percaya diri mengabarkan bahwa aku akan tiba di Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB, sesuai dengan apa yang tercantum di boarding pass yang ada didalam genggamanku, dan kini waktu telah menunjukkan tepat pukul 17.00 WIB! Aku sangat terlambat. Aaarrrghh! Sejujurnya, hal yang paling tidak kusukai adalah membuat orang lain menunggu. Terlebih membuat ia menunggu diriku untuk kesekian kalinya. Setelah lebih dari dua tahun ia harus menunggu kedatanganku, bahkan kali ini ia rela harus menungguku lagi selama lebih kurang dua jam. Atau lebih tepatnya aku membuatnya menunggu.

Bandara Dubai
Sebenarnya hal itu sangatlah wajar, namun aku yang baru pertama kali pulang lagi ke tanah air dan memang sangat tidak banyak riwayat perjalananku di udara. Membuatku tidak memahami hal seremeh itu. Tapi nampaknya ia tak apa menungguku.
Pengap dan panasnya cuaca ibukota hari itu cukup mengendorkan ‘sedikit’ parameter kesabaranku di awal kedatangan di tanah air tercinta. Ya, aku sedang berjuang menimba ilmu nun jauh disana. Dan pada liburan musim panas kali ini aku bermaksud untuk pulang ke tanah air demi membayar dua tahun kebrsamaan yang hilang khusus diperuntukkan pada dirinya, orang yang sangat kusayangi.
“Ah itu dia! Alhamdulillah ya Allah..”, ucapku setengah berbisik.
Koper gembul yang terlihat seperti akan memuntahkan isinya dan didominasi dengan warna ungu yang dihiasi tali pelangi itu seketika menarik perhatianku. Tidak seperti saat berada di penerbangan Dubai, disana orang-orang berusaha membantuku untuk mengambil barangku, disini semua acuh. Sibuk bersiaga dengan mata elangnya yang siap mendeteksi keberadaan koper pribadinya masing-masing. Aku yang berbadan kurus seperti lidi nan jangkung ini berusaha menarik koperku, lalu…
“Buuum…”
Suara berdebum yang bersumber dari koperku sebagai bukti aku berhasil mendaratkannya di lantai bandara petang itu. Suara yang cukup bisa mengalihkan perhatian khalayak jika saja disana tidak dipenuhi dengan kebisingan hiruk-pikuk pencarian bagasi.
“Fiuuuuh…Alhamdulillah….Aduh harus cepet-cepet iniiii..”, bisikku pada diri sendiri.
Aku pun segera bergegas membawa koper, serta kantong ajaibku, eh maksudku kantong ransel khas lelaki yang berwarna hitam dan berukuran super jumbo.
Ilustrasi bawaan saya di tahun 2018,
tapi koper yang saya gunakan di tahun 2015 sama
Sembari tergopoh-gopoh menggeret koper gembulku, aku melirik kanan dan kiri. Celigukan kebingungan, mencari tahu bagaimana caranya untuk keluar dari bandara ini. Aku harus segera menemuinya! Titik.
Ku aktifkan Wi-Fi di telefon genggamku, namun tidak ada tanda-tanda terlacaknya sebuah jaringan Wi-Fi disekitar gedung tersebut. Bagaimana bisa aku menghubunginya? Untuk sekedar memberikan kabar bahwa aku telah sampai di Jakarta dan bermaksud untuk menanyakan dimana persisnya ia menungguku.
Setelah melewati berbagai proses imigrasi yang cukup memakan waktu tidak sebentar, kutemukan dua buah pintu yang masing-masing saling berlawanan arah. Aku kebingungan. Namun kulihat, kebanyakan orang memilih pintu kanan. Tak ada satupun yang memutuskan untuk keluar melalui pintu lainnya. Akhirnya kuputuskan untuk memilih keluar dengan menggunakan pintu sebelah kanan.
Setengah tergesa. Sembari berjalan mata ini berusaha mencari-cari sosok lelaki itu. Lelaki yang telah lama tak kutemui. Lelaki yang biasa menjadi tempat curahan hatilku. Pemberi solusi atas segala masalahku. Yang tak pernah lelah mengingatkanku agar selalu dekat dengan-Nya. Yang selama dua tahun terakhir ini hanya bisa bertanya kabar dan saling menguntai rindu lewat pesan.
Bak anak panah yang menancap pada sasaran tembak, pandanganku menancap pada sesosok lelaki yang berperawakan jangkung, jauh melebihi tinggi badanku, ia mengenakan kaus santai berhiaskan topi dengan segala kekhasannya yang tak pernah berubah sedari dua tahun yang lalu. Wajahnya yang mengisyaratkan kelelahan, dan kantung mata yang sangat besar tepat menggantung dibawah kelopak matanya, serta wajahnya yang dipenuhi dengan keriput-keriput halus bukti nyata akan banyaknya ia mengecap asam garam kehidupan. Namun wajahnya tersebut dihiasi dengan pandangan penuh keteduhan dan lidah yang senantiasa berdzikir mengucap asma-Nya, serta matanya yang berbingkai kacamata itu sangat awas mencari dengan teliti dimana putrinya berada. Menunggu dan mencari keberadaan putrinya diantara ratusan orang yang keluar dari pintu tersebut.
“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaah……”
Aku berlari disertai detak jantung tak menentu. Hentakan sepatuku yang berkolaborasi dengan decitan koper usangku bagaikan duet maut ditengah-tengah konser kehidupan. Aku mendarat tepat dipelukannya. Pelukannya masih sehangat dahulu. Aku menangis sejadi-jadinya dalam peluknya. Sudah dua tahun aku tak pernah merasakan pelukan sehangat ini. Aku sangat merindukan lelaki ini, aku sangat merindukan ayah.
Bersamaan dengan elektron dalam tubuhku yang meletup-letup tak karuan. Meletup pulalah semua memori-memori indah bersamanya. Hari dimana aku mengeluh karena kesusahan menghafal ayat suci-Nya, namun ia senantiasa membantuku, memungkinkan hal yang awalnya kuanggap tak mungkin.
“Udah tak ada yang perlu ditangisi, Qa.. Kan ayah udah disini..”,ujar ayahku menenangkanku seraya membelai halus kepalaku yang dibalut dengan kerudung pashmina.
Ia adalah alasan keresahanku beberapa waktu yang lalu. Ia alasan mengapa aku harus kembali ke tanah pertiwi. Melangkah dengan pasti. Karena hanya bumi pertiwi-lah tempatku kembali. Disini aku mempunyai sesuatu yang kusebut “rumah”.
Share:

Wednesday, 15 April 2020

Kekuatan 'Positive Words'




Bismillah...
Apa kabar, kawan-kawan? Semoga selalu sehat yaaaaa J

Pernahkah kamu merasakan bahwa dunia ini sangat menyesakkan? Seperti tak ada ujungnya? I have ever on that state. Nggak nyaman sekali. Tapi mungkin itulah bagian dari proses. Semoga sebuah proses yang mendewasakan, yang membuat hati semakin kuat ya! Pernah denger kata-kata ini kan, “What doesn’t kill you make you stronger.” By the way, pas barusan aku cari di mbah Google, aku baru menyadari kalau itu tuh bagian dari lirik lagunya Kelly Clarkson - Stronger (What Doesn't Kill You). Wehehe, maaf agak kudet ya aku mah.
Aku tuh sering banget kepikiran,
“Enak kayaknya ya kalau cerita sama orang, tapi yang dia nggak kenal sama sekali dengan kita. Jadi pasti bakalan no judge, lebih objektif.”
Wess.. ntar ada yang berkomentar dalam hati,
“Kan ada Allah, wits. Kenapa musti cerita ke orang sih?”
Yep pastinya, Allah itu udah jadi tempat bercerita, mengadu dan meminta no satu sejagat raya. Orang-orang mungkin melihatku sebagai seorang ekstrovert yang memiliki banyak teman, sehingga kalau mau cerita, ya tinggal cerita aja gitu. Big no! Salah banget. Karena aku termasuk orang yang memiliki insecurity nya tinggi. Entah kenapa. Aku selalu mikir dulu,
“Kalau aku cerita ke dia nggak apa-apa gitu ya?”
“Apa ya nanti dampaknya? Apa dia bakalan nge-judge aku abis-abisan?”


Jadi aku menjunjung kenyamanan. Harapannya setelah cerita tuh nggak ada efek sampingnya, gitu loh hehe. Entah mungkin ada traumatik dibawah alam sadarku juga. Wallahu alam. Catatan: Hopefully kalau nanti sudah memiliki pasangan mah bisa seterbuka mungkin lah ya, inshaaAllah. Hihihi. (karena aku sering banget dikasih nasihat oleh temen tentang ini)
Jika terdapat genangan air, lama-lama pasti keruh. Beda ceritanya kalau airnya mengalir, mungkin nggak ada jaminan juga airnya bakalan bersih dan jernih, tapi setidaknya ada possibility dia bakalan bisa jadi air  yang jernih dan bermanfaat. Ngerti kan analoginya? Jadi sebenernya disini aku hanya ingin menekankan bahwa, kalian, sebagai pendengar (bukan subjek yang merasa masalah yang harus diceritakan),
“Kamu tidak dituntut untuk dapat meyelesaikan masalah semua orang. Tapi, setidaknya kamu masih memiliki telinga untuk menjadi pendengar yang baik ATAU kesempatan untuk memberikan ‘positive words’.”
It’s really fine! ‘Positive words’ nya itu dapat berbentuk apresiasi. Apresiasi karena ia mampu bertahan hingga mencapai level tersebut. Itu tuh bener-bener melegakan ketika mendengarnya dan terasa meringankan sedikit beban yang ada di pundak. Tapi memang perlu diperhatikan pula, jangan sampai kata-kata yang kamu berikan tuh toxic positivity. Mungkin kalimat tersebut buat kamu biasa aja, tanpa disangka itu bisa memberikan dampak yang sangat besar untuk orang yang membutuhkan support seperti itu.
(Terharu mengingat positive words yang diberikan orang kepadaku, makasih!)

Terima Kasih. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembacanya.
Kritik dan saran bisa dilampirkan J
Mohon maaf jika banyak kesalahan dalam penulisan.
Share:

Monday, 13 April 2020

Koleksi Novel

Kurang lebih seperti itu isinya

Jika kalian senang membaca, bisa banget klik link ini. Berisi novel-novel dan bacaan maupun audiobook yang saya dapatkan dari paman saya sebagai hadiah milad hehehe (waktu saya masih duduk di bangku SMA kalau tidak salah.)


Share:

Ngomongin tentang #untiltomorrow challenge dan kawan-kawan

Tulisan ini sebenarnya telah saya terbitkan di feed instagram saya. Tapi guna pengarsipan, saya share juga di laman blog saya ini..



Menyoal #untiltomorrow challenge, bingo-bingo an dan challenge-challenge lainnya, it's okay buat have fun mainan seperti itu. Karena jujur pertama kali main isi bingo-bingo an tuh beneran happy, hormon endorfinnya bekerja maksimal banget kayaknya hehe. Sebagai seorang Ambivert yang cenderung ke ENFJ, cukup sekali atau beberapa kali aja sih kalau saya mah nyobanya, udah ngerasa satisfying. Udah gitu? Ya udah. Gak penasaran lagi. Hihi

Nah, disini saya ingin menyampaikan sebuah hal yang cukup relevan dengan 'wave' tersebut. No offense, yak!

Awal kisah, di suatu hari yang cerah saya bersama dengan beberapa teman saya pergi ke sebuah taman, ya betul kami berpiknik pas lagi Summer. Disana kami makan biji bunga matahari dan kudapan lainnya, saling bercerita dan bertukar pikiran dari A sampai Z. Nah muncullah sebuah ide yang diinisiasi oleh seorang teman saya untuk bermain ToD (Truth or Dare).

Di taman seperti itu kebanyakan orang males banget milih Dare, karena pasti bakalan disuruhnya yang aneh-aneh. Jadi orang-orang memilih jalur aman dengan melakukan Truth. Ternyata eh ternyata memilih Truth tidak serta-merta membuat kita tidak mendapatkan pertanyaan yang aneh pula ya. Kalian juga pasti tau sendiri, namanya temen ingin banget usilin temennya. Konteks Truth yang harus diungkapkan pada momen itu adalah mengenai “hal paling memalukan yang pernah dialami”. Bukan aku yang dapat giliran menjawab, Alhamdulillah. Kemudian yang mendapatkan giliran pun menjawab, "(Tuttt tuttt tutt tut)". *saya sensor ya.

Semua tertawa mendengar jawabannya, terkecuali saya yang agak berat jika harus menertawakan. Saya cenderung turut merasa malu atas jawaban tersebut, mungkin orang bakalan mikir kalau saya orangnya nggak fun kali ya? Tapi saya sebenarnya hanya mencoba memilah mana yang entertaining dan mana yang tidak seharusnya dijadikan bahan candaan.

Saat itu kami duduk melingkar di rerumputan, saya tidak menyadari juga bahwa ternyata ada orang  yang duduk tidak jauh dari saya juga tidak tertawa, dia hanya sibuk memainkan ranting kering sambil berkata setengah berbisik,
"Allah tuh udah baik banget nutupin aib kita, eh ini kok malah kita umbar-umbar. Terus  ngetawain lagi.", matanya masih terus menunduk memandangi ranting di tangannya yang ia adukan dengan rumput.

Jarak duduk kami nggak deket loh, tapi entah kenapa di ramainya suara tawa, celotehannya dia tuh bisa kedengaran dengan jelas dan terserap sempurna oleh pendengaran saya. Disitu Allah sedang bekerja, Allah ingin ingatkan saya melalui perantara teman saya tersebut. Wallahu ‘alam.

Lanjut ke ceritanya....

Jleb, disitulah saya seperti mendapatkan tamparan keras dari perkataan teman saya tersebut. Jangan-jangan selama ini saya menikmati respon orang atas aib yang diumbar.
Setelah hari itu saya mulai untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkata-kata dan bersenda gurau. Saya sadar sepenuhnya kalau saya masih jauh banget dari kata sempurna, mungkin kalian yang membaca ini bisa aja mengatakan, “Witsqa itu hypocrite, karena pernah juga ngelakuin hal tersebut.”, kalau iya, saat itu mungkin saya sedang khilaf. Maka tolong ingatkan, ya 😊

At least, here I want to share one of a great value that I've ever received in this unimmortal world.
Sayang banget kan kalau nggak dibagikan?

#ntms #tulisanWFA

Share:

Thursday, 19 March 2020

Witsqa Masak: Mie Ayam



DISCLAIMER!
Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasal dari mana saja; youtube, blog, resep turun-temurun, dll. Selamat mencoba!

Mie Ayam ala Witsqa

Bahan-bahan:
  • Mie secukupnya
  • Ayam secukupnya
  • 1 batang sereh, digeprek
  • 3 lembar daun salam
  • 3,5 sdm kecap manis
  • 1 sdm kecap asin
  • 1 sdt merica
  • Penyedap rasa daging
  • Sawi secukupnya
  • Minyak sayur
  • Garam dan gula secukupnya
  • Air secukupnya


Bumbu yang dihaluskan:
  • 8 butir bawang merah
  • 5 siung bawang putih
  • 2 butir kemiri disangrai
  • 1 ruas kunyit
  • 1 ruas jahe


Langkah-langkah:

  1. Buat topping untuk mie ayam.
    Cara pembuatannya ada di bawah ya.
    Topping mie ayam
  2. Rebus mie secukupnya.
    Saya tambahkan minyak sayur ketika merebusnya agar tidak lengket.

  3. Tiriskan mie yang sudah direbus.
  4. Rebus sawi yang telah dipotong-potong.
    Baiknya sebelum direbus, sawi direndam sesaat dulu menggunakan air garam, agar ‘makhluk-makhluk’ yang menetap didalam sawi bisa secara natural pergi.

  5. Tiriskan rebusan sawi tersebut.
  6. Mie ayam siap dihidangkan.


Topping mie ayam: (Bisa untuk 3 porsi)
  1. Ambil bagian daging ayamnya saja, kemudian dipotong kotak-kotak.
  2. Tumis bumbu halus dengan sereh dan daun salam hingga harum dan matang.
    Bumbu halus, bisa diblender atau ulek ya
  3. Masukkan daging ayam, tumis hingga berubah warna tambahkan kecap, merica, garam, penyedap, gula dan air kaldu secukupnya.
  4. Ketika kuah mulai menyusut, cicipi (kecap bisa ditambah sesuai selera) Masak sampai ayam empuk dan bumbu meresap. Topping mie ayam siap digunakan.


Referensi:
(dengan adjustment seperlunya)
Mie ayam mie ayam
 Catatan:
  • Mie yang saya gunakan dapat dibeli di pasar.
  • Untuk jahe, sebenarnya bisa digeprek saja, tetapi saya ingin agar jahe dapat dikonsumsi juga secara maksimal, sehingga turut dihaluskan.
  • Penyedap yang saya gunakan rasa daging, seharusnya rasa ayam. Karena saya tidak membuat kaldu ayam.
  • Jika ingin menambah cita rasa, bisa tambahkan potongan dadu-dadu dari jamur kancing pada tumisan topping ayam.

Mie ayam yang sudah diaduk

Jika ingin diunduh dalam bentuk gambar, dapat gunakan gambar berikut.







Share:

Friday, 13 March 2020

Witsqa Masak: Ayam Ungkep Bumbu Kuning

DISCLAIMER! Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasal dari mana saja; youtube, blog, resep turun-temurun, dll. Selamat mencoba!


Bahan-bahan:
Bahan yang digunakan
1.       1/2 kg Ayam Kampung
2.       1 batang Sereh (Geprek)
3.       1 Daun Jeruk
4.       2 Daun Salam
5.       1 ruas Lengkuas (Geprek)
6.       Garam
7.       Air
Bahan bumbu halus :
1.       3 Bawang Putih
2.       1 st Ketumbar
3.       1 ruas Kunyit
4.       1 ruas Jahe

Yang itu tuh resep orijinalnya, berhubung di dapur tidak melulu lengkap isinya dan agak mager buat keluar lagi, jadi ada bahan yang aku substitusi dan aku tambahkan, diantaranya:

  • Ayamnya aku kasih perasan jeruk, dimarinasi sebentar aja
  • Bawang putihnya aku substitusi dengan bawang bombay
  • Aku tambah cabai, tapi rasanya nggak ada sensasi pedes juga sih hihi




Langkah -langkah:
1.       Cuci bersih ayam potong, kemudian rebus sebentar, lalu airnya dibuang.

2.       Haluskan bawang putih, ketumbar, jahe dan kunyit, lalu tumis masukan lengkuas dan serai yg sudah digeprek, daun jeruk dan daun salam, aduk sampe wangi.
Tumis semuanyaaa
3.   Masukan 1 gelas air, tunggu sebentar lalu masukan ayam, beri garam secukupnya, aduk rata dan check rasa. Jika sudah pas, tunggu sampai airnya sedikit surut. Matikan kompor.    

4. Langsung goreng atau bisa disimpan di kulkas untuk digoreng saat diinginkan.
Siap disantappppp


Berikut adalah poster dari resep ini



Share:

Friday, 25 October 2019

[Book Review] Pernah Tenggelam

Judul Buku           :    Pernah Tenggelam
Penulis                 :    Fuadh Naim
Penerbit               :    Alfatih Press
Tahun                  :    September 2019 (Cetakan pertama)
Jumlah Halaman   :    225 hlm.


Gue hijrah bukan karena dikatain anak alay
Gue hijrah bukan karena diledekin pengikut dajjal
Gue hijrah bukan karena disebut pecinta plastik

Gue hijrah karena suatu hari gue mulai menemukan diri gue berdiri di sebuah persimpangan jalan antara Islam dan Hallyu..
Ada banyak hal yang Islam larang namun Hallyu lakukan
Sebaliknya, ada banyak yang Islam perintahkan namun Hallyu abaikan
Identitas gue mulai dipertanyakan. Apakah gue lebih memilih sejarah menulis gue sebagai seorang Muslim... atau K-Wavers?
--------

Pernah Tenggelam berisi tentang kisah nyata seorang mantan K-Wavers yang kemudian tersadar dan memutuskan untuk meninggalkannya.

Adapun daftar isi dari buku ini adalah sebagai berikut:
Pendahuluan
BAB 1 : Gelombang Oppa
BAB 2 : Bermain ombak
BAB 3 : Pernah tenggelam
BAB 4 : Ada apa dengan Korea?
BAB 5 : Dehallyusinasi
BAB 6 : Comeback stage
Penutup

QUOTES
Kalau al-qur’an aja nggak bisa menyadarkanmu, apalagi hanya seonggok buku semurah ini? – hlm. 7
Kita muslim, beriman kepada Allah dengan segenap aturan-Nya. Korea atheis, tidak percaya Allah palagi syariat-Nya. Maka aneh kalau kedua hal ini bisa berjalan mesra. – hlm. 46
Kamu mungkin tidak Gay atau Lesbian, namun sangat mungkin memaklumi perilaku Oppa sayang-sayangan. Semua tergantung informasi apa yang sering kita telan. Sering salah makan, semakin nikmat yang harusnya menjijikkan. – hlm. 63
Kita sering kecewa dan tidak bahagia, karena tontonan ajarkan tuk mengejar dunia. Kita sering putus asa dan tak berdaya, karena tontonan ajarkan bahwa Tuhan tak berkuasa. – hlm. 99
Kita akan menghadapi fan-war sesungguhnya. Nanti kamu masuk fandom yang mana, tergantung hasil latihan di dunia. Dulu terbiasa belain siapa? – hlm. 160
Semoga kita nggak salah menentukan pilihan, dan kelak bisa sama-sama berada di surga-Nya, saling berbincang tentang lucunya kita dulu di dunia, yang pernah salah mencinta. – hlm. 224




PERSPEKTIF SAYA
“Wah apaan nih? Oh tentang pecinta Korea-an yang hijrah. Nggak butuh lah kayaknya aku baca buku itu. Aku kan ndak korea-an, nggak suka fangirling-an.”, itu yang pertama kali terlintas di pikiran saya ketika melihat buku ini.

Saya yang menonton reality show, film atau drama korea alakadarnya saja yang bukan termasuk golongan garis keras merasa tidak terlalu penting juga membaca buku ini. Namun, ternyata saya salah. Buku yang dapat dilahap dalam satu hari saja ini pun, dapat menyentil hati saya.

Saya yang notabene bukan pecinta Korea-an banget saja terkadang merasa ‘offended’ ketika membaca lembar demi lembar dari buku ini. Terkadang selalu ‘denying’ seraya berkata, “Kan aku nggak segila itu Koreaannya.”

Ketika membaca buku ini kalian akan dibuat kaget karenaa penulis semasa dahulu benar-benar merupakan penggila Korea. Sampai- sampai hal yang tidak lumrah dilakukan sebagai seorang berkewarganegaraan Indonesia pun dilakukannya.

Kira-kira apa sih kisah yang sesungguhnya? Penasaran kan? Langsung aja cusss baca bukunya.

Terakhir. Banyak sekali hal yang bisa saya dapatkan dari catatan hati kang Fuadh Naim ini. Membuat saya ingin tetap terus berusaha untuk menjadi sebaik-baiknya umat Rasulullah SAW. Semoga Allah senantiasa mampukan.

Pokoknya buku ini highly recommended!

Share:

Wednesday, 14 August 2019

Witsqa Masak: Beef Teriyaki


DISCLAIMER! Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasal dari mana saja; youtube, blog, resep turun-temurun, dll. Selamat mencoba!

Beef Teriyaki a la WFA


Bahan-bahan:
·       Daging sapi yang sudah dipotong melebar (ukuran sedang) 500 gr
·       Saori saus teriyaki (saya pakai saus lada hitam, karena yang teriyakinya habis) 1 bks
·       Jahe 2cm
·       Bawang putih 3 siung
·       Bawang bombay 1 siung
·       Kecap manis 3 sdm
·       Garam secukupnya
·       Gula secukupnya
·       Lada hitam secukupnya
·       Air sedikit saja
·       Minyak goreng
·       Margarin blue band

Langkah-langkah:
1.     Potong daging sapi lebar-lebar dengan ukuran sedang kemudian tusuk-tusuk dengan menggunakan garpu (tujuannya agar bumbunya dapat meresap kedalam)
2.     Cucilah daging tersebut.
3.     Ulek bawang putih dan jahe yang telah dikupas dan dicuci.
4.     Masukkan hasil ulekan kedalam mangkuk berisi daging.
5.     Masukkan pula kecap, saori, garam, gula, lada dan sedikit minyak. Kemudian aduk merata.
6.     Diperoleh seperti gambar 2. Proses marinasi pun dimulai. Simpan kedalam kulkas selama 30 menit – 1 jam.
gambar 2
7.     Sementara menunggu, iris bawang bombay sesuai selera.
8.     Setelah proses marinasi selesai, daging yang telah berbalur bumbu digoreng di wajan dengan api sedang yang sudah panas, dengan diberi minyak sedikit saja di wajan.
9.     Saat bersamaan masukkan bawang bombay yang telah diiris.
10. Ketika terlihat sudah matang semua, masukkan margarin secukupnya.
11. Selesai.

Referensi:
Channel Youtube Jadi Emak-emak (https://www.youtube.com/watch?v=PSkRe5pO5vo)


Share:

Search in This Blog

Pesan untuk Penulis

Name

Email *

Message *

Another Blog

Tulisan Terbaru!

Witsqa Masak: Yumurtali Patates

DISCLAIMER!  Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasa...