Do you want to unblur an answer of Chengg Question but there's don't have a Chengg subscription? Kindly check this site!
It is very easy to use. All you need to do is only typing your question and fill in your identity. That's all! The answer will be send to your email. It took about 3 hours - 1 day.
Monday, 31 August 2020
Chengg Answer for Free
Thursday, 27 August 2020
Belajar Bahasa Turki
Turki merupakan negara yang terletak di dua benua, yakni benua Asia dan Eropa. Kebanyakan orang Indonesia sudah tidak asing lagi jika mendengar tentang negara Turki. Tapi saya tidak akan membahas mengenai negara Turki tersebut. Di seri belajar bahasa Turki ini, saya akan mencoba menunjukkan keindahan bahasa Turki. Jujur, saya sangat terkesima dengan bahasa yang saya pelajari secara langsung di negaranya selama beberapa tahun. Semakin dipelajari semakin memahami keindahannya, bahwa kalimat yang sederhana (tidak panjang) bisa memberikan makna yang sangat mendalam.
Saya juga membahas mengenai belajar bahasa Turki di kanal youtube. Setelah ini, kita mulai belajar bersama ya!
Tuesday, 25 August 2020
[Book Review] Hikmah Luqman Al-Hakim
Penulis : Adil Al-Ghi
Penerbit : TUROS (Khazanah Pustaka Islam)
Tahun : Mei 2015 (Cetakan pertama)
Jumlah Halaman : 145 hlm.
Luqman Al-Hakim berpesan pada anaknya, “wahai anakku, jadilah orang yang lemah lembut, mudah berbuat baik, banyak berpikir, sedikit berbicara kecuali dalam kebenaran, banyak menangis, jarang bergembira. Janganlah engkau bergurau, membuat gaduh dan berdebat! Jika engkau diam, diamlah dengan merenung. Dan, bila berbicara, maka berbicaralah dengan hikmah” – hlm. 104
--------
Siapa Luqman Al-Hakim?
Ini
merupakan pertanyaan yang paling utama yang pastinya ada di benak kalian. Luqman
Al-Hakim hanyalah seorang budak Habasyi (dari negeri Habasyah) dan seorang
tukang kayu. Allah memberikan hikmah (kebijaksanaan) tapi tidak menganugerahinya
kenabian. Kebijaksanaannya pula yang membuat dirinya merdeka.
Tentang buku ini...
Buku ini berisi butiran
nasihat-nasihat dan perkataan penuh hikmah dari Luqman Al-Hakim sebanyak 88
butir. Bersumber dari kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Tafsir Ibnu Katsir, dan masih
banyak lagi.
Mungkin diantara kalian ada yang pernah membaca tulisan saya yang satu ini. Buku ini seperti meyakinkan saya akan tulisan itu. Berinteraksi dengan Q.S. Al-Luqman membuat diri ini seperti dihujani dengan nasihat-nasihat. Pesan moral dan nasihat yang disampaikan sangat sarat makna. Highly recommended!
Monday, 24 August 2020
A Reflection: Tamu Istimewa
| Source Gambar |
Suatu hari datang sesosok pria kerumahmu. Duduk
di ruang tamumu. Ia yang sangat tampan hingga tak ada yang menandinginya di
muka bumi ini. Ia perlambang filantropi sejati. Ia paling pemberani diantara
pemberani. Namun, tetap sangat berlemah lembut. Apakah kamu akan sangat
kegirangan?
Tapi apakah kamu akan tetap kegirangan
jika tamu tersebut adalah tamu teristimewa, yang dinantikan kehadirannya di
setiap rumah. Yang namanya senantiasa membasahi lisan kita. Saking seringnya
kita menyebut namanya, Rasulullah SAW. Apakah sekarang kamu masih mampu membayangkannya?
Dengan menjadinya ia tamu istimewa dirumahmu,
apa yang terlintas dalam pikiranmu? Menangis, malu, bahkan bertanya-tanya, “layakkah
aku menjadi seorang tuan rumah?”. Menunjukkan batang hidung pun penuh ragu. Ragu
seandainya tetiba saja dosa mempunyai rupa yang dapat dilihat oleh kekasih-Nya
tersebut.....
Maka, jika Rasulullah SAW berkesempatan
bertamu kerumahmu, akankah kamu menjadi seorang muslim yang ‘begini aja’?
***
Ilustrasi diatas dapat dijadikan bahan
renungan, refleksi, dan muhasabah. Demi meraih kekhusyukan dalam ibadah,
mungkin kita juga bisa mencoba membayangkan jikalau Rasulullah SAW-lah yang
menjadi imam shalat kita. Akankah kita tidak khusyuk? Atau berusaha untuk lebih
khusyuk, karena merasa dosa yang dipikul sudah tidak terhitung, tapi untuk
ibadah kali ini ingin difokuskan 100%. It is hard, but we are all trying. We
are striving and it will always be counted by Allah. inshaaAllah.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Anas r.a. mengatakan:
كَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْمَلَ النَّاسِ
وَأَشْجَعَ النَّاسِ
Beliau adalah orang yang paling dermawan,
paling tampan dan paling pemberani [HR al-Bukhâri dan Muslim]
Allah SWT memaparkan budi pekerti beliau
yang mulia dan perilaku beliau SAW yang indah dalam firman-Nya:
ۖ فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ
لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi
berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. [Q.S Al-Imrân:159]
Referensi:
https://almanhaj.or.id/3406-ciri-fisik-rasulullah-yang-sempurna.html
Sunday, 23 August 2020
Witsqa Masak: Namasu
Namasu ini sebenarnya adalah salad yang terdiri dari wortel dan lobak. Tapi ya bisa disesuaikan aja lah ya bahan-bahannya dengan isi coolcase (dibaca: kulkas). Hehehe. Buat yang sering makan di Hoka-Hoka Bento pasti familiar banget sama salad yang satu ini. Bikinnya ternyata super mudah, dan yang terpenting karena bisa bikin sendiri, rasanya pun bisa di adjust sesuai dengan selera kita! Jujur aja nih ya, aku mah seneng banget. Favorit bangets! Ini cocok banget kalau ditemani beef teriyaki.
DISCLAIMER! Witsqa Masak merupakan kumpulan resep
yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri
bisa berasal dari mana saja; youtube, blog, resep turun-temurun, dll. Selamat
mencoba!
Bahan-bahan:
- · Wortel
- · Kol
- · Timun
- · Air 350 ml / 1 gelas
- · Cuka 4 sdm
- · Gula 9 sdm
- · Garam 2 sdt
Langkah-langkah:
- Rebus air. Campurkan gula, cuka garam sampai mendidih di api sedang. Lalu dinginkan.
- Sambil menunggu dingin, serut / potong korek wortel, timun, dan kol.
- Masukkan wortel, timun, dan kol yang sudah bersih ke dalam sebuah wadah yang ada tutupnya. Tuang larutan pada langkah 1 yang sudah dingin.
- Tutup wadah. Diamkan di suhu ruangan kurang lebih 1 jam. Masukkan kedalam kulkas sebelum disajikan.
Catatan:
- Salad tahan 1 minggu didalam kulkas.
- Pastikan bahan dan alat yang digunakan bersih, agar salad
tidak cepat basi.
- Sayur yang dijadikan saladnya dapat dipilih sesuai selera
ya. Kalau namasu yang original mah pakainya lobak sama wortel.
Referensi: Ini resep dari temenku! 😊
Wednesday, 5 August 2020
Semarak Idul Adha di SMAN 1 Baleendah
| Keramaian di Kelas |
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Bagaimana kabarnya teman-teman? Semoga selalu dalam
lindungan-Nya ya. Allahumma aamiin.
Mumpung masih dalam atmosfir Idul Adha 1441 H nih. Aku ingin membagikan suatu hal sama kalian. Kira-kira apa yang kalian pikirkan mengenai partisipasi sekolah dalam menyemarakkan Idul Adha? Apakah cukup sebatas melaksanakan shalat ‘Ied saja? Atau tidak ada kegiatan apa-apa samasekali? Nah, mungkin ada sebuah program dari suatu sekolah yang bisa diadaptasi pada kurikulum sekolah kalian. Sekolah ini bukan sekolah dengan embel-embel IT dibelakangnya (seperti SDIT, SMPIT, dll). Hanya sebuah sekolah biasa yang menjunjung tinggi iman dan takwa dari para siswanya. Sekolah tersebut adalah almamaterku, SMAN 1 Baleendah.
Sejujurnya, menurutku, terdapat beberapa program di SMAN 1 Baleendah ini yang bisa dijadikan ‘contoh’ dan diimplementasikan di setiap sekolah. Namun, yang akan di highlight pada pembahasan kali ini adalah mengenai Semarak Idul Adha di SMAN 1 Baleendah. Memangnya apa yang berbeda? Setidaknya program ini diimplementasikan pada masa aku masih menjadi siswa aktif disana 2009-2012. Serangkaian program tersebut diantaranya:
1. Melaksanakan shalat idul adha berjamaah yang diimami oleh kepala sekolah SMAN 1 Baleendah.
Hal tersebut
menyebabkan seluruh siswa berbondong-bondong datang sepagi mungkin.
| Suasana shalat idul adha |
Biasanya pengumpulan dana sudah dilakukan sejak awal masa pembelajaran. Unik dan serunya, tiap kelas berlomba-lomba untuk bisa membeli hewan qurban terbaik (kambing tergemuk). Sangat bersemangat sekali. Sehingga, tak ragu untuk terus mengumpulkan pundi-pundi uangnya. inshaaAllah semua dilakukan dengan penuh keikhlasan.
3. Panitia qurban dibentuk untuk masing-masing kelas.
Karena hewan qurban dibeli untuk masing-masing kelas, secara otomatis panitia qurban pun diatur sesuai kebijakan kelasnya masing-masing. Dari mulai jagal (yang menyembelih), membersihkan isi perut, menguliti, memotong daging, hingga menimbang. Para siswa tidak dilepas begitu saja, untuk jagal dan satu tugas lain (yang aku lupa apa itu), intensif dilatih dan diberikan bimbingan ketika mendekati hari-H. Ketika hari-H pun, jagal dan yang menguliti tetap didampingi oleh ahli pada menit-menit awal, ketika dirasa sudah dapat menangani dan melanjutkannya pendamping beralih ke kelompok siswa lainnya. Yang menjadi jagal pun diusahakan selalu berbeda setiap tahun. Tujuan dari hal ini adalah agar setiap siswa dapat memiliki tanggung jawab atas perannya dan belajar melakukan hal tersebut, sehingga jika suatu saat harus berada di lapangan, kita sudah siap menjalani apapun. That’s brilliant idea and I love it!
| Jagal sudah mulai bersiap disini |
4. Menikmati hidangan daging qurban.
Kami juga berhak
menikmati hidangan qurban yang dijatahkan bagi pequrban, yakni kami sekelas. Meski
pernah daging qurban yang kami dapati hanya sedikit (1 orang hanya dapat 2 tusuk
sate wkwkw), kami tetap sangat bersyukur dan menikmatinya. Karena bagi kami
yang berharga bukanlah perut kami yang penuh, melainkan kebersamaan yang kami
jalin dalam kegiatan tersebut.
Berikut adalah beberapa dokumentasinya:
| Inilah artis di hari Idul Adha |
| Aku bersama si calon kambing qurban |
| Ilustrasi keramaian, disana adalah tempat dipotongnya hewan qurban |
| Disini kami mulai bekerja mencacah tulang, memotong daging, dll |
| 'Senjata' untuk meramaikan dalam menikmati hidangan kami nanti |
Sunday, 2 August 2020
Memaknai Qurban
Hi kenalin, ini alm. BATU namanya. Nama lengkapnya domBA ipA
saTU (jaman sekolah SMA). Dia syahid dengan penuh kebahagiaan di tahun 2012.
Eitssssss.. Nggak, disini aku nggak bakalan bahas tentang BATU ini, melainkan
hal lain.
Sedikit memaknai lagi tentang qurban. Ust. Aam Amiruddin pernah
menganalogikan seperti berikut, “Bayangkan diri Anda adalah tukang parkir yang
dititipi mobil, saat urusan si pemilik mobil selesai dan ia ingin mengambil dan
menggunakan mobilnya kembali, apakah Anda akan berontak dan klaim bahwa mobil
yang ia parkirkan adalah milik Anda?”
Jawabannya pastilah tidak. Namun begitulah manusia, kadang
lupa, bahwa semua yang dimiliki bukanlah benar-benar miliknya, melainkan
titipan semata.
Seperti halnya zakat pada rukun islam, qurban merupakan
amalan yang melibatkan orang lain. Hablumminallah dan hablumminannas. Berbahagialah
bagi yang telah dimampukan untuk berqurban 😊
Wallahu a'lam bissawab
Friday, 31 July 2020
Bahagia
| dokumentasi pribadi |
Atribut
Diclaimer: Mungkin pembaca tidak bisa terlalu memahami dan merasakan apa yang
ingin disampaikan penulis. Namun harapannya terdapat sebuah kebaikan yang dapat
diambil hikmahnya. Diharapkan berhati-hati dalam menilai, karena artikel kali
ini mengandung unsur ke-baper-an.
Aku rindu mengenakan
atribut ini.
“Huh nyombong”, mungkin
ini yang akan kamu katakan ketika mendengar pernyataanku tersebut.
Tetapi, tidak. Tidak sama
sekali. Lebih tepatnya perasaan yang kumiliki bukanlah itu, melainkan sangat
bersyukur. Bersyukur karena atribut ini mengingatkan aku untuk menjadi
manusia yang terus memanusiakan manusia. Mengingatkan aku untuk terus bersemangat
dan ikhlas dalam pengabdian diri bagi masyarakat, terutama umat-Nya. Melelahkan?
Ya pasti. Tapi jujur, bagiku kelelahan yang penuh kebahagiaan. Aku sangat ingat
betul, seorang temanku pernah mengatakan, “Ingin beristirahat? Nanti aja di
surga-Nya.”. Kurang lebih seperti itu setelah dialihbahasakan ke bahasa
Indonesia. Powerfull banget! Aku bener-bener nggak bisa lupakan dan
bahkan selalu kuusahakan untuk selalu mengingat kalimat tersebut. Hal tersebut
meyakinkanku bahwa dunia yang fana ini memang tempatnya berlelah-lelah. Semoga kelelahan
yang dialami pun bukanlah yang sia-sia.
Itu tuh atribut apa sih? Itu
merupakan lambang dari Yayasan Percikan Iman (YPI) yang dinaungi oleh Ust Aam
Amiruddin. Tidak terasa sejak tahun 2018 aku bergabung menjadi relawan Percikan
Iman (atau lebih akrab disapa Sahabat Percikan Iman) dan hingga saat ini inshaaAllah
tidak ada niatan bagiku untuk benar-benar meninggalkannya. Sehingga, ini adalah
idul adha ketiga-ku bersama YPI. Pada dasarnya aku adalah tipe orang yang jika sudah
sangat cocok akan sesuatu, maka aku akan loyal/setia terhadap hal tersebut.
Suatu hari seorang temanku
pernah menanyakan suatu hal,
“Nanti kalau udah mulai
kuliah kamu bakalan berhenti dari kegiatan itu kan?”, tanyanya.
“Hah? Nggak lah. Kenapa juga?
Kegiatannya hanya seminggu sekali ini, terkadang nggak setiap minggu juga.
Lagipula suasana dan lingkungannya nyaman banget, aku seneng banget
alhamdulillah.”, jawabku sumringah.
Jujur memang lingkungannya sangat nyaman dan
kondusif, aku bisa belajar banyak hal baru dan terpenting orang-orangnya sangat
humoris. Namun dalam hal menjalankan program dan mencapai target, sangat patut
diacungi jempol deh. mashaaAllah.
Jadi atribut ini bukanlah
sekedar atribut, terdapat makna peluh namun pantang mengeluh, terdapat makna
kekeluargaan, tawa, canda, dan bahagia. Yang terpenting terdapat makna
keihklasan didalamnya. Iklas dalam memberi, melayani, mengayomi, membimbing dan
semuanya.
Terima kasih ya Allah atas
kesempatan berharga ini.
Terima kasih ayah dan ibu
yang sudah berinisiatif menawariku untuk turut mengambil andil dalam syiar yang
dilakukan oleh YPI.
Terima kasih kepada semua
orang di YPI yang telah memberikan seorang Witsqa sebuah ruang dan kesempatan
untuk dapat memasuki lingkaran kebaikan ini.
Terima kasih diriku,
karena kamu udah berusaha mengejar kesempatan ini dan tidak menyiakannya begitu
saja.
Friday, 10 July 2020
Sebuah alasan.
Pernahkah kamu bertanya-tanya, “kenapa sih suka ada orang yang tidak berkenan memasang foto yang visual dirinya di ranah publik, feed instagram misalnya?
Mungkin ada pendapat yang
saling sahut-menyahut seperti, “wah, doi insecure ini mah, pasti.” atau “ukhti-ukhti,
wajar.” atau “nggak ada kuota kali ya”, dll.
Terlepas dari apapun
alasannya, hal mendasar yang harus kita pahami adalah bahwa itu merupakan hak
dirinya pribadi. Mau nge-post sesuatu atau tidak, tidak lantas membuat
pengaruh yang signifikan dalam hidupmu, bukan? Lagipula, sudah seharusnya kita
untuk selalu berusaha berhusnudzan kepada semua orang. Biar nggak bikin ribet
diri sendiri, gitu aja sih.
Aku akan kilas balik ke
kejadian beberapa tahun yang lalu, saat masih duduk di bangku kuliah S1. Mungkin
ingatanku kurang sempurna dalam menggambarkan setiap detailnya, namun aku bertujuan
untuk menyampaikan poin pentingnya.
Hari itu cukup cerah, betapa
sumringah dan merekahnya hati ini ketika mendapatkan informasi bahwa akan ada
kegiatan yang diselenggarakan di Wisma Duta KBRI Ankara. Bagaikan angin segar
bagi para diaspora Indonesia disana, aku dengan sangat antusias ingin menghadirinya.
“Modus” bagi para perantau yang berkesempatan hadir di kegiatan-kegiatan KBRI adalah
bisa membayar rindu akan masakan nusantara yang agak sulit untuk di-eksekusi di
dapur apartemennya masing-masing.
Tak kusangka selain hari
yang cerah, hari tersebut juga cukup baik untuk mengubah persepsiku atas
sesuatu yang awalnya tak kuanggap “serius”. Seusai kegiatan di Wisma, kami
semua bergegas untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Bukan maksud
hati mencuri dengar, tapi memang terdengar dengan sangat jelas di telingaku,
sebuah percakapan yang membuatku tak enak hati jika tak bereaksi apa-apa. Percakapan
antar anak lelaki sebayaku,
“eh, kamu tahu nggak si AAA
(menyebut nama seorang gadis)?”, tanya anak laki-laki pertama.
“nggak, kenapa? Cantik nggak
anaknya?”, tanya anak laki-laki kedua.
“beuh.. cantik banget. Gak
percaya? Nih liat instagramnya.”, anak laki-laki pertama menunjukkan sesuatu.
“wah... si BBB juga oke tau
(sambil mencoba mencari instagramnya)”, anak laki-laki kedua menyela.
Entah kalian mau menilai
aku apa atas responku kemudian, tetapi aku sebagai seorang perempuan yang mendengar
degan jelas hal tersebut, dan mereka tahu aku sedang berada di lingkungannya,
merasa....sangat.....tidak....nyaman. Aku pun berkata halus pada mereka,
“ih kalian teh liat-liat
instagram cewek.”, sambil berusaha mengontrol kata-kata yang akan kulontarakan.
“ya gak apa-apa lah, kan
dianya juga upload (sembil terus scroll, karena ingin memperlihatkan
foto yang katanya ‘oke’ tersebut)”, jawab laki-laki kedua santai sambil terus
menatap layar telepon genggam di tangannya.
DEG! Disitu aku merasa TEMAN-TEMANKU
TERSEBUT SEDANG MELIHAT-LIHAT KATALOG, terus scroll up - scroll down.
Yep katalog? Yang menjual suatu produk. Dan aku tidak ingin menyamakan diri ini
dengan sebuah produk, yang bisa sesuka hati dilihat-lihat.
Hari itu merupakan turning
point bagiku. Aku disadarkan akan dark side dari media sosial,
meskipun tidak sekelam itu. Tapi hal tersebut cukup memberikan tamparan yang
keras bagiku. Memang akupun masih belum sempurna. Masih ada pula fotoku yang
bertebaran, bahkan terkadang memang sengaja publikasi untuk tujuan “have fun”.
Namun jauh di lubuk hati, aku inginkan untuk meminimalisir hal tersebut. Aku tidak
ingin orang dengan mudahnya melihat-lihat “katalog” beratasnamakan diriku.
Oh iya, tentang kedua
temanku tersebut. Tenang, mereka sesungguhnya anak yang sangat baik. Hanya berbeda
perspektif denganku. Bisa jadi juga mereka memiliki intention lain dari
hal tersebut. Kisah ini mengingatkan aku juga akan perkataan yang disampaikan oleh
seorang teman yang lain,
“Wits, kamu kan aktif
banget ya anaknya. Selalu ada di setiap kegiatan. Tapi kok nggak ada ya anak laki-laki
yang ngomongin kamu?”, tanya temanku.
Aku sangat kaget mendengar
pernyataan sekaligus diberikan pertanyaan seperti itu. Aku tidak menjawabnya,
hanya menjatuhkan pandangan isyarat aku tidak memahami maksud dari ucapannya
barusan.
“Iya kan kita cowok-cowok
kalau kumpul tuh suka ngomongin cewek. Misalnya sih teteh A karena blablabla, teteh
B karena bliblibli, atau C karena blublublu (secara fisik, karakteristik, dsb).
Tapi kamu tuh nggak sama sekali. Aku nggak pernah denger ada yang bicara
tentang kamu.”, katanya panjang lebar.
Sebenarnya itu hak mereka
dan bukan urusanku juga. Tapi disitu, hati ini tidak bisa merasa tenang. Aku
kesal karena merasa harga diri sebagai perempuan sedang dicabik-cabik saat itu.
Meski yang dibicarakan bukanlah tentangku, tapi aku merasa tidak sampai hati mendengar
yang dibicarakan tentang teman-temanku. Jujur setelah hari itu aku jadi seperti
illfeel. Saat itu mataku juga seperti membendung air mata, tak kuasa
menahan sesak di dada, namun aku tak boleh keluarkan. Aku menjawab,
“Hah? Kalian kalau
ngumpul suka ngomongin perempuan? Kayak nggak ada kerjaan aja deh. Dan satu
lagi, nggak ada cowok yang ngomongin aku? Alhamdulillah banget ya Allah. Aku mah
bersyukur banget. Karena aku nggak mau dan nggak berharap juga ada cowok-cowok
yang ngomogin aku untuk perihal semacam itu (bukan dalam konteks yang penting
dan bermanfaat).”, cecarku.
Tidak ada sedikitpun rasa
iri karena perempuan lain lebih sering dibicarakan. Aku malah akan merasa
sangat takut jika ada orang yang membicarakanku dalam konteks seperti itu. Well,
setidaknya hari itu aku jadi mengetahui setitik debu sudut dunia yang lain,
dunianya anak laki-laki.
Dia malah bertanya lagi, “kalian
kalau cewek-cewek suka ngomongin cowok nggak pas lagi ngumpul?”
“nggak lah (dalam konteks
yang seperti mereka lakukan). Ngapain juga.”, jawabku yang mulai agak sewot dan
malas menjawab pertanyaannya.
Dua kejadian yang bisa
kukatakan cukup menaikkan pitamku namun memberikanku banyak ruang untuk
membentuk sudut pandang yang baru agar lebih bijak lagi dalam bertindak. Kalau kalian
perhatikan, aku menyebut teman-temanku tersebut sebagai “anak laki-laki”,
karena imo not mature enough for doing such things. inshaaAllah di hari
ini aku yakin, para “anak laki-laki” itu sudah menjadi para “pria” yang pastinya
menghargai perempuan. Allahumma aamiin.
Kalau kata temenku, “I need a man, not
a boy”.
Eh bentar kok jadi gak nyambung ya? Maap
maap. WKWK


















