*

Pages

Monday, 31 August 2020

Chengg Answer for Free

Do you want to unblur an answer of Chengg Question but there's don't have a Chengg subscription? Kindly check this site!

It is very easy to use. All you need to do is only typing your question and fill in your identity. That's all! The answer will be send to your email. It took about 3 hours - 1 day.

Share:

Thursday, 27 August 2020

Belajar Bahasa Turki

Galata Tower, Istanbul, Turki

Turki merupakan negara yang terletak di dua benua, yakni benua Asia dan Eropa. Kebanyakan orang Indonesia sudah tidak asing lagi jika mendengar tentang negara Turki. Tapi saya tidak akan membahas mengenai negara Turki tersebut. Di seri belajar bahasa Turki ini, saya akan mencoba menunjukkan keindahan bahasa Turki. Jujur, saya sangat terkesima dengan bahasa yang saya pelajari secara langsung di negaranya selama beberapa tahun. Semakin dipelajari semakin memahami keindahannya, bahwa kalimat yang sederhana (tidak panjang) bisa memberikan makna yang sangat mendalam.

Saya juga membahas mengenai belajar bahasa Turki di kanal youtube. Setelah ini, kita mulai belajar bersama ya!


Share:

Tuesday, 25 August 2020

[Book Review] Hikmah Luqman Al-Hakim

Judul Buku          :    Hikmah Luqman Al-Hakim
Penulis                 :    Adil Al-Ghiryani
Penerbit               :    TUROS (Khazanah Pustaka Islam)
Tahun                  :    Mei 2015 (Cetakan pertama)
Jumlah Halaman  :    145 hlm.

Luqman Al-Hakim berpesan pada anaknya, “wahai anakku, jadilah orang yang lemah lembut, mudah berbuat baik, banyak berpikir, sedikit berbicara kecuali dalam kebenaran, banyak menangis, jarang bergembira. Janganlah engkau bergurau, membuat gaduh dan berdebat! Jika engkau diam, diamlah dengan merenung. Dan, bila berbicara, maka berbicaralah dengan hikmah” – hlm. 104

-------- 

Siapa Luqman Al-Hakim?

Ini merupakan pertanyaan yang paling utama yang pastinya ada di benak kalian. Luqman Al-Hakim hanyalah seorang budak Habasyi (dari negeri Habasyah) dan seorang tukang kayu. Allah memberikan hikmah (kebijaksanaan) tapi tidak menganugerahinya kenabian. Kebijaksanaannya pula yang membuat dirinya merdeka.

Tentang buku ini...

Buku ini berisi butiran nasihat-nasihat dan perkataan penuh hikmah dari Luqman Al-Hakim sebanyak 88 butir. Bersumber dari kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, Tafsir Ibnu Katsir, dan masih banyak lagi.

Mungkin diantara kalian ada yang pernah membaca tulisan saya yang satu ini. Buku ini seperti meyakinkan saya akan tulisan itu. Berinteraksi dengan Q.S. Al-Luqman membuat diri ini seperti dihujani dengan nasihat-nasihat. Pesan moral dan nasihat yang disampaikan sangat sarat makna. Highly recommended!

 

Share:

Monday, 24 August 2020

A Reflection: Tamu Istimewa

 

Source Gambar

Suatu hari datang sesosok pria kerumahmu. Duduk di ruang tamumu. Ia yang sangat tampan hingga tak ada yang menandinginya di muka bumi ini. Ia perlambang filantropi sejati. Ia paling pemberani diantara pemberani. Namun, tetap sangat berlemah lembut. Apakah kamu akan sangat kegirangan?

 

Tapi apakah kamu akan tetap kegirangan jika tamu tersebut adalah tamu teristimewa, yang dinantikan kehadirannya di setiap rumah. Yang namanya senantiasa membasahi lisan kita. Saking seringnya kita menyebut namanya, Rasulullah SAW. Apakah sekarang kamu masih mampu membayangkannya?

 

Dengan menjadinya ia tamu istimewa dirumahmu, apa yang terlintas dalam pikiranmu? Menangis, malu, bahkan bertanya-tanya, “layakkah aku menjadi seorang tuan rumah?”. Menunjukkan batang hidung pun penuh ragu. Ragu seandainya tetiba saja dosa mempunyai rupa yang dapat dilihat oleh kekasih-Nya tersebut.....

 

Maka, jika Rasulullah SAW berkesempatan bertamu kerumahmu, akankah kamu menjadi seorang muslim yang ‘begini aja’?

 

***

 

Ilustrasi diatas dapat dijadikan bahan renungan, refleksi, dan muhasabah. Demi meraih kekhusyukan dalam ibadah, mungkin kita juga bisa mencoba membayangkan jikalau Rasulullah SAW-lah yang menjadi imam shalat kita. Akankah kita tidak khusyuk? Atau berusaha untuk lebih khusyuk, karena merasa dosa yang dipikul sudah tidak terhitung, tapi untuk ibadah kali ini ingin difokuskan 100%. It is hard, but we are all trying. We are striving and it will always be counted by Allah. inshaaAllah.

 

 

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Anas r.a. mengatakan:

كَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْمَلَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ

Beliau adalah orang yang paling dermawan, paling tampan dan paling pemberani [HR al-Bukhâri dan Muslim]

 

Allah SWT memaparkan budi pekerti beliau yang mulia dan perilaku beliau SAW yang indah dalam firman-Nya:

 ۖ فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. [Q.S Al-Imrân:159]


Referensi: https://almanhaj.or.id/3406-ciri-fisik-rasulullah-yang-sempurna.html

 

Share:

Sunday, 23 August 2020

Witsqa Masak: Namasu

Namasu ini  sebenarnya adalah salad yang terdiri dari wortel dan lobak. Tapi ya bisa disesuaikan aja lah ya bahan-bahannya dengan isi coolcase (dibaca: kulkas). Hehehe. Buat yang sering makan di Hoka-Hoka Bento pasti familiar banget sama salad yang satu ini. Bikinnya ternyata super mudah, dan yang terpenting karena bisa bikin sendiri, rasanya pun bisa di adjust sesuai dengan selera kita! Jujur aja nih ya, aku mah seneng banget. Favorit bangets! Ini cocok banget kalau ditemani beef teriyaki.

 

DISCLAIMER! Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasal dari mana saja; youtube, blog, resep turun-temurun, dll. Selamat mencoba!

 

Bahan-bahan:

  • ·         Wortel
  • ·         Kol
  • ·         Timun
  • ·         Air 350 ml / 1 gelas
  • ·         Cuka 4 sdm
  • ·         Gula 9 sdm
  • ·         Garam 2 sdt

 

Langkah-langkah:

  1. Rebus air. Campurkan gula, cuka garam sampai mendidih di api sedang. Lalu dinginkan.
  2. Sambil menunggu dingin, serut / potong korek wortel, timun, dan kol.
  3. Masukkan wortel, timun, dan kol yang sudah bersih ke dalam sebuah wadah yang ada tutupnya. Tuang larutan pada langkah 1 yang sudah dingin.
  4. Tutup wadah. Diamkan di suhu ruangan kurang lebih 1 jam. Masukkan kedalam kulkas sebelum disajikan. 

 

Catatan:

  • Salad tahan 1 minggu didalam kulkas.
  • Pastikan bahan dan alat yang digunakan bersih, agar salad tidak cepat basi.
  • Sayur yang dijadikan saladnya dapat dipilih sesuai selera ya. Kalau namasu yang original mah pakainya lobak sama wortel.

 

Referensi: Ini resep dari temenku! 😊






Share:

Wednesday, 5 August 2020

Semarak Idul Adha di SMAN 1 Baleendah



Keramaian di Kelas

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Bagaimana kabarnya teman-teman? Semoga selalu dalam lindungan-Nya ya. Allahumma aamiin.

Mumpung masih dalam atmosfir Idul Adha 1441 H nih. Aku ingin membagikan suatu hal sama kalian. Kira-kira apa yang kalian pikirkan mengenai partisipasi sekolah dalam menyemarakkan Idul Adha? Apakah cukup sebatas melaksanakan shalat ‘Ied saja? Atau tidak ada kegiatan apa-apa samasekali? Nah, mungkin ada sebuah program dari suatu sekolah yang bisa diadaptasi pada kurikulum sekolah kalian. Sekolah ini bukan sekolah dengan embel-embel IT dibelakangnya (seperti SDIT, SMPIT, dll). Hanya sebuah sekolah biasa yang menjunjung tinggi iman dan takwa dari para siswanya. Sekolah tersebut adalah almamaterku, SMAN 1 Baleendah.

 

Sejujurnya, menurutku, terdapat beberapa program di SMAN 1 Baleendah ini yang bisa dijadikan ‘contoh’ dan diimplementasikan di setiap sekolah. Namun, yang akan di highlight pada pembahasan kali ini adalah mengenai Semarak Idul Adha di SMAN 1 Baleendah. Memangnya apa yang berbeda? Setidaknya program ini diimplementasikan pada masa aku masih menjadi siswa aktif disana 2009-2012. Serangkaian program tersebut diantaranya:

1. Melaksanakan shalat idul adha berjamaah yang diimami oleh kepala sekolah SMAN 1 Baleendah.

Hal tersebut menyebabkan seluruh siswa berbondong-bondong datang sepagi mungkin.

Suasana shalat idul adha

2. Tiap kelas sudah menyiapkan untuk berqurban untuk masing-masing kelas.

Biasanya pengumpulan dana sudah dilakukan sejak awal masa pembelajaran. Unik dan serunya, tiap kelas berlomba-lomba untuk bisa membeli hewan qurban terbaik (kambing tergemuk). Sangat bersemangat sekali. Sehingga, tak ragu untuk terus mengumpulkan pundi-pundi uangnya. inshaaAllah semua dilakukan dengan penuh keikhlasan.

3. Panitia qurban dibentuk untuk masing-masing kelas.

Karena hewan qurban dibeli untuk masing-masing kelas, secara otomatis panitia qurban pun diatur sesuai kebijakan kelasnya masing-masing. Dari mulai jagal (yang menyembelih), membersihkan isi perut, menguliti, memotong daging, hingga menimbang. Para siswa tidak dilepas begitu saja, untuk jagal dan satu tugas lain (yang aku lupa apa itu), intensif dilatih dan diberikan bimbingan ketika mendekati hari-H. Ketika hari-H pun, jagal dan yang menguliti tetap didampingi oleh ahli pada menit-menit awal, ketika dirasa sudah dapat menangani dan melanjutkannya pendamping beralih ke kelompok siswa lainnya. Yang menjadi jagal pun diusahakan selalu berbeda setiap tahun. Tujuan dari hal ini adalah agar setiap siswa dapat memiliki tanggung jawab atas perannya dan belajar melakukan hal tersebut, sehingga jika suatu saat harus berada di lapangan, kita sudah siap menjalani apapun. That’s brilliant idea and I love it!

Jagal sudah mulai bersiap disini

4. Menikmati hidangan daging qurban.

Kami juga berhak menikmati hidangan qurban yang dijatahkan bagi pequrban, yakni kami sekelas. Meski pernah daging qurban yang kami dapati hanya sedikit (1 orang hanya dapat 2 tusuk sate wkwkw), kami tetap sangat bersyukur dan menikmatinya. Karena bagi kami yang berharga bukanlah perut kami yang penuh, melainkan kebersamaan yang kami jalin dalam kegiatan tersebut.

 

Berikut adalah beberapa dokumentasinya:


Inilah artis di hari Idul Adha

Aku bersama si calon kambing qurban



Ilustrasi keramaian, disana adalah tempat dipotongnya hewan qurban


Disini kami mulai bekerja mencacah tulang, memotong daging, dll


'Senjata' untuk meramaikan dalam menikmati hidangan kami nanti


Share:

Sunday, 2 August 2020

Memaknai Qurban




Hi kenalin, ini alm. BATU namanya. Nama lengkapnya domBA ipA saTU (jaman sekolah SMA). Dia syahid dengan penuh kebahagiaan di tahun 2012. Eitssssss.. Nggak, disini aku nggak bakalan bahas tentang BATU ini, melainkan hal lain.

Sedikit memaknai lagi tentang qurban. Ust. Aam Amiruddin pernah menganalogikan seperti berikut, “Bayangkan diri Anda adalah tukang parkir yang dititipi mobil, saat urusan si pemilik mobil selesai dan ia ingin mengambil dan menggunakan mobilnya kembali, apakah Anda akan berontak dan klaim bahwa mobil yang ia parkirkan adalah milik Anda?”

Jawabannya pastilah tidak. Namun begitulah manusia, kadang lupa, bahwa semua yang dimiliki bukanlah benar-benar miliknya, melainkan titipan semata.

Seperti halnya zakat pada rukun islam, qurban merupakan amalan yang melibatkan orang lain. Hablumminallah dan hablumminannas. Berbahagialah bagi yang telah dimampukan untuk berqurban 😊


Wallahu a'lam bissawab


Share:

Friday, 31 July 2020

Bahagia

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi


Adakah dirimu sepertiku?
Yang bahagia hanya dengan bergurau bersama dunia.
Memandangi indahnya sang permata.
Yang setiap manusia catutkan ia sebagai 'rumah',
namun nyatanya?
Kau sakiti dia yang kau sebut 'rumah'. 


Aku mampu, berduaan bersamamu begini saja.
Menatapmu sambil tersenyum.
Bahagia.


Inilah aku seorang anak manusia yang bahagia jika bersua dengan kehijauan dunia.
*smile*




Note:
Maaf ya kalau nggak nyambung banget. Disini aku ingin menyampaikan aja, betapa bahagianya aku ketika bisa berada di alam terbuka. Meski nyatanya banyak yang berkontribusi menorehkan luka pada sesuatu yang kusukai tersebut. Bahkan mungkin akupun turut berkontribusi :(
Share:

Atribut


Diclaimer: Mungkin pembaca tidak bisa terlalu memahami dan merasakan apa yang ingin disampaikan penulis. Namun harapannya terdapat sebuah kebaikan yang dapat diambil hikmahnya. Diharapkan berhati-hati dalam menilai, karena artikel kali ini mengandung unsur ke-baper-an.

 

Aku rindu mengenakan atribut ini.

“Huh nyombong”, mungkin ini yang akan kamu katakan ketika mendengar pernyataanku tersebut.

Tetapi, tidak. Tidak sama sekali. Lebih tepatnya perasaan yang kumiliki bukanlah itu, melainkan sangat bersyukur. Bersyukur karena atribut ini mengingatkan aku untuk menjadi manusia yang terus memanusiakan manusia. Mengingatkan aku untuk terus bersemangat dan ikhlas dalam pengabdian diri bagi masyarakat, terutama umat-Nya. Melelahkan? Ya pasti. Tapi jujur, bagiku kelelahan yang penuh kebahagiaan. Aku sangat ingat betul, seorang temanku pernah mengatakan, “Ingin beristirahat? Nanti aja di surga-Nya.”. Kurang lebih seperti itu setelah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Powerfull banget! Aku bener-bener nggak bisa lupakan dan bahkan selalu kuusahakan untuk selalu mengingat kalimat tersebut. Hal tersebut meyakinkanku bahwa dunia yang fana ini memang tempatnya berlelah-lelah. Semoga kelelahan yang dialami pun bukanlah yang sia-sia.

Itu tuh atribut apa sih? Itu merupakan lambang dari Yayasan Percikan Iman (YPI) yang dinaungi oleh Ust Aam Amiruddin. Tidak terasa sejak tahun 2018 aku bergabung menjadi relawan Percikan Iman (atau lebih akrab disapa Sahabat Percikan Iman) dan hingga saat ini inshaaAllah tidak ada niatan bagiku untuk benar-benar meninggalkannya. Sehingga, ini adalah idul adha ketiga-ku bersama YPI. Pada dasarnya aku adalah tipe orang yang jika sudah sangat cocok akan sesuatu, maka aku akan loyal/setia terhadap hal tersebut.

Suatu hari seorang temanku pernah menanyakan suatu hal,

“Nanti kalau udah mulai kuliah kamu bakalan berhenti dari kegiatan itu kan?”, tanyanya.

“Hah? Nggak lah. Kenapa juga? Kegiatannya hanya seminggu sekali ini, terkadang nggak setiap minggu juga. Lagipula suasana dan lingkungannya nyaman banget, aku seneng banget alhamdulillah.”, jawabku sumringah.

 Jujur memang lingkungannya sangat nyaman dan kondusif, aku bisa belajar banyak hal baru dan terpenting orang-orangnya sangat humoris. Namun dalam hal menjalankan program dan mencapai target, sangat patut diacungi jempol deh. mashaaAllah.

Jadi atribut ini bukanlah sekedar atribut, terdapat makna peluh namun pantang mengeluh, terdapat makna kekeluargaan, tawa, canda, dan bahagia. Yang terpenting terdapat makna keihklasan didalamnya. Iklas dalam memberi, melayani, mengayomi, membimbing dan semuanya.

Terima kasih ya Allah atas kesempatan berharga ini.

Terima kasih ayah dan ibu yang sudah berinisiatif menawariku untuk turut mengambil andil dalam syiar yang dilakukan oleh YPI.

Terima kasih kepada semua orang di YPI yang telah memberikan seorang Witsqa sebuah ruang dan kesempatan untuk dapat memasuki lingkaran kebaikan ini.

Terima kasih diriku, karena kamu udah berusaha mengejar kesempatan ini dan tidak menyiakannya begitu saja.

 


Share:

Friday, 10 July 2020

Sebuah alasan.

Ini hanya sedikit opini dariku, seorang insan biasa yang masih sering melakukan salah dan dosa, tidak sempurna dalam mengamalkan apa yang keluar dari lisannya, tetapi selalu mengharap kasih-Nya. A note to myselfin case I forget why I decided this kind of choice.



Pernahkah kamu bertanya-tanya, “kenapa sih suka ada orang yang tidak berkenan memasang foto yang visual dirinya di ranah publik, feed instagram misalnya?

Mungkin ada pendapat yang saling sahut-menyahut seperti, “wah, doi insecure ini mah, pasti.” atau “ukhti-ukhti, wajar.” atau “nggak ada kuota kali ya”, dll.

Terlepas dari apapun alasannya, hal mendasar yang harus kita pahami adalah bahwa itu merupakan hak dirinya pribadi. Mau nge-post sesuatu atau tidak, tidak lantas membuat pengaruh yang signifikan dalam hidupmu, bukan? Lagipula, sudah seharusnya kita untuk selalu berusaha berhusnudzan kepada semua orang. Biar nggak bikin ribet diri sendiri, gitu aja sih.

 

Aku akan kilas balik ke kejadian beberapa tahun yang lalu, saat masih duduk di bangku kuliah S1. Mungkin ingatanku kurang sempurna dalam menggambarkan setiap detailnya, namun aku bertujuan untuk menyampaikan poin pentingnya.

Hari itu cukup cerah, betapa sumringah dan merekahnya hati ini ketika mendapatkan informasi bahwa akan ada kegiatan yang diselenggarakan di Wisma Duta KBRI Ankara. Bagaikan angin segar bagi para diaspora Indonesia disana, aku dengan sangat antusias ingin menghadirinya. “Modus” bagi para perantau yang berkesempatan hadir di kegiatan-kegiatan KBRI adalah bisa membayar rindu akan masakan nusantara yang agak sulit untuk di-eksekusi di dapur apartemennya masing-masing.

Tak kusangka selain hari yang cerah, hari tersebut juga cukup baik untuk mengubah persepsiku atas sesuatu yang awalnya tak kuanggap “serius”. Seusai kegiatan di Wisma, kami semua bergegas untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Bukan maksud hati mencuri dengar, tapi memang terdengar dengan sangat jelas di telingaku, sebuah percakapan yang membuatku tak enak hati jika tak bereaksi apa-apa. Percakapan antar anak lelaki sebayaku,

“eh, kamu tahu nggak si AAA (menyebut nama seorang gadis)?”, tanya anak laki-laki pertama.

“nggak, kenapa? Cantik nggak anaknya?”, tanya anak laki-laki kedua.

“beuh.. cantik banget. Gak percaya? Nih liat instagramnya.”, anak laki-laki pertama menunjukkan sesuatu.

“wah... si BBB juga oke tau (sambil mencoba mencari instagramnya)”, anak laki-laki kedua menyela.

Entah kalian mau menilai aku apa atas responku kemudian, tetapi aku sebagai seorang perempuan yang mendengar degan jelas hal tersebut, dan mereka tahu aku sedang berada di lingkungannya, merasa....sangat.....tidak....nyaman. Aku pun berkata halus pada mereka,

“ih kalian teh liat-liat instagram cewek.”, sambil berusaha mengontrol kata-kata yang akan kulontarakan.

“ya gak apa-apa lah, kan dianya juga upload (sembil terus scroll, karena ingin memperlihatkan foto yang katanya ‘oke’ tersebut)”, jawab laki-laki kedua santai sambil terus menatap layar telepon genggam di tangannya.

DEG! Disitu aku merasa TEMAN-TEMANKU TERSEBUT SEDANG MELIHAT-LIHAT KATALOG, terus scroll up - scroll down. Yep katalog? Yang menjual suatu produk. Dan aku tidak ingin menyamakan diri ini dengan sebuah produk, yang bisa sesuka hati dilihat-lihat.

Hari itu merupakan turning point bagiku. Aku disadarkan akan dark side dari media sosial, meskipun tidak sekelam itu. Tapi hal tersebut cukup memberikan tamparan yang keras bagiku. Memang akupun masih belum sempurna. Masih ada pula fotoku yang bertebaran, bahkan terkadang memang sengaja publikasi untuk tujuan “have fun”. Namun jauh di lubuk hati, aku inginkan untuk meminimalisir hal tersebut. Aku tidak ingin orang dengan mudahnya melihat-lihat “katalog” beratasnamakan diriku.

 

Oh iya, tentang kedua temanku tersebut. Tenang, mereka sesungguhnya anak yang sangat baik. Hanya berbeda perspektif denganku. Bisa jadi juga mereka memiliki intention lain dari hal tersebut. Kisah ini mengingatkan aku juga akan perkataan yang disampaikan oleh seorang teman yang lain,

“Wits, kamu kan aktif banget ya anaknya. Selalu ada di setiap kegiatan. Tapi kok nggak ada ya anak laki-laki yang ngomongin kamu?”, tanya temanku.

Aku sangat kaget mendengar pernyataan sekaligus diberikan pertanyaan seperti itu. Aku tidak menjawabnya, hanya menjatuhkan pandangan isyarat aku tidak memahami maksud dari ucapannya barusan.

“Iya kan kita cowok-cowok kalau kumpul tuh suka ngomongin cewek. Misalnya sih teteh A karena blablabla, teteh B karena bliblibli, atau C karena blublublu (secara fisik, karakteristik, dsb). Tapi kamu tuh nggak sama sekali. Aku nggak pernah denger ada yang bicara tentang kamu.”, katanya panjang lebar.

Sebenarnya itu hak mereka dan bukan urusanku juga. Tapi disitu, hati ini tidak bisa merasa tenang. Aku kesal karena merasa harga diri sebagai perempuan sedang dicabik-cabik saat itu. Meski yang dibicarakan bukanlah tentangku, tapi aku merasa tidak sampai hati mendengar yang dibicarakan tentang teman-temanku. Jujur setelah hari itu aku jadi seperti illfeel. Saat itu mataku juga seperti membendung air mata, tak kuasa menahan sesak di dada, namun aku tak boleh keluarkan. Aku menjawab,

“Hah? Kalian kalau ngumpul suka ngomongin perempuan? Kayak nggak ada kerjaan aja deh. Dan satu lagi, nggak ada cowok yang ngomongin aku? Alhamdulillah banget ya Allah. Aku mah bersyukur banget. Karena aku nggak mau dan nggak berharap juga ada cowok-cowok yang ngomogin aku untuk perihal semacam itu (bukan dalam konteks yang penting dan bermanfaat).”, cecarku.

Tidak ada sedikitpun rasa iri karena perempuan lain lebih sering dibicarakan. Aku malah akan merasa sangat takut jika ada orang yang membicarakanku dalam konteks seperti itu. Well, setidaknya hari itu aku jadi mengetahui setitik debu sudut dunia yang lain, dunianya anak laki-laki.

Dia malah bertanya lagi, “kalian kalau cewek-cewek suka ngomongin cowok nggak pas lagi ngumpul?”

“nggak lah (dalam konteks yang seperti mereka lakukan). Ngapain juga.”, jawabku yang mulai agak sewot dan malas menjawab pertanyaannya.

 

Dua kejadian yang bisa kukatakan cukup menaikkan pitamku namun memberikanku banyak ruang untuk membentuk sudut pandang yang baru agar lebih bijak lagi dalam bertindak. Kalau kalian perhatikan, aku menyebut teman-temanku tersebut sebagai “anak laki-laki”, karena imo not mature enough for doing such things. inshaaAllah di hari ini aku yakin, para “anak laki-laki” itu sudah menjadi para “pria” yang pastinya menghargai perempuan. Allahumma aamiin.

 

Kalau kata temenku, “I need a man, not a boy”.

Eh bentar kok jadi gak nyambung ya? Maap maap. WKWK


Share:

Search in This Blog

Pesan untuk Penulis

Name

Email *

Message *

Another Blog

Tulisan Terbaru!

Witsqa Masak: Yumurtali Patates

DISCLAIMER!  Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasa...