*

Pages

Sunday, 23 August 2020

Witsqa Masak: Namasu

Namasu ini  sebenarnya adalah salad yang terdiri dari wortel dan lobak. Tapi ya bisa disesuaikan aja lah ya bahan-bahannya dengan isi coolcase (dibaca: kulkas). Hehehe. Buat yang sering makan di Hoka-Hoka Bento pasti familiar banget sama salad yang satu ini. Bikinnya ternyata super mudah, dan yang terpenting karena bisa bikin sendiri, rasanya pun bisa di adjust sesuai dengan selera kita! Jujur aja nih ya, aku mah seneng banget. Favorit bangets! Ini cocok banget kalau ditemani beef teriyaki.

 

DISCLAIMER! Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasal dari mana saja; youtube, blog, resep turun-temurun, dll. Selamat mencoba!

 

Bahan-bahan:

  • ·         Wortel
  • ·         Kol
  • ·         Timun
  • ·         Air 350 ml / 1 gelas
  • ·         Cuka 4 sdm
  • ·         Gula 9 sdm
  • ·         Garam 2 sdt

 

Langkah-langkah:

  1. Rebus air. Campurkan gula, cuka garam sampai mendidih di api sedang. Lalu dinginkan.
  2. Sambil menunggu dingin, serut / potong korek wortel, timun, dan kol.
  3. Masukkan wortel, timun, dan kol yang sudah bersih ke dalam sebuah wadah yang ada tutupnya. Tuang larutan pada langkah 1 yang sudah dingin.
  4. Tutup wadah. Diamkan di suhu ruangan kurang lebih 1 jam. Masukkan kedalam kulkas sebelum disajikan. 

 

Catatan:

  • Salad tahan 1 minggu didalam kulkas.
  • Pastikan bahan dan alat yang digunakan bersih, agar salad tidak cepat basi.
  • Sayur yang dijadikan saladnya dapat dipilih sesuai selera ya. Kalau namasu yang original mah pakainya lobak sama wortel.

 

Referensi: Ini resep dari temenku! 😊






Share:

Wednesday, 5 August 2020

Semarak Idul Adha di SMAN 1 Baleendah



Keramaian di Kelas

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Bagaimana kabarnya teman-teman? Semoga selalu dalam lindungan-Nya ya. Allahumma aamiin.

Mumpung masih dalam atmosfir Idul Adha 1441 H nih. Aku ingin membagikan suatu hal sama kalian. Kira-kira apa yang kalian pikirkan mengenai partisipasi sekolah dalam menyemarakkan Idul Adha? Apakah cukup sebatas melaksanakan shalat ‘Ied saja? Atau tidak ada kegiatan apa-apa samasekali? Nah, mungkin ada sebuah program dari suatu sekolah yang bisa diadaptasi pada kurikulum sekolah kalian. Sekolah ini bukan sekolah dengan embel-embel IT dibelakangnya (seperti SDIT, SMPIT, dll). Hanya sebuah sekolah biasa yang menjunjung tinggi iman dan takwa dari para siswanya. Sekolah tersebut adalah almamaterku, SMAN 1 Baleendah.

 

Sejujurnya, menurutku, terdapat beberapa program di SMAN 1 Baleendah ini yang bisa dijadikan ‘contoh’ dan diimplementasikan di setiap sekolah. Namun, yang akan di highlight pada pembahasan kali ini adalah mengenai Semarak Idul Adha di SMAN 1 Baleendah. Memangnya apa yang berbeda? Setidaknya program ini diimplementasikan pada masa aku masih menjadi siswa aktif disana 2009-2012. Serangkaian program tersebut diantaranya:

1. Melaksanakan shalat idul adha berjamaah yang diimami oleh kepala sekolah SMAN 1 Baleendah.

Hal tersebut menyebabkan seluruh siswa berbondong-bondong datang sepagi mungkin.

Suasana shalat idul adha

2. Tiap kelas sudah menyiapkan untuk berqurban untuk masing-masing kelas.

Biasanya pengumpulan dana sudah dilakukan sejak awal masa pembelajaran. Unik dan serunya, tiap kelas berlomba-lomba untuk bisa membeli hewan qurban terbaik (kambing tergemuk). Sangat bersemangat sekali. Sehingga, tak ragu untuk terus mengumpulkan pundi-pundi uangnya. inshaaAllah semua dilakukan dengan penuh keikhlasan.

3. Panitia qurban dibentuk untuk masing-masing kelas.

Karena hewan qurban dibeli untuk masing-masing kelas, secara otomatis panitia qurban pun diatur sesuai kebijakan kelasnya masing-masing. Dari mulai jagal (yang menyembelih), membersihkan isi perut, menguliti, memotong daging, hingga menimbang. Para siswa tidak dilepas begitu saja, untuk jagal dan satu tugas lain (yang aku lupa apa itu), intensif dilatih dan diberikan bimbingan ketika mendekati hari-H. Ketika hari-H pun, jagal dan yang menguliti tetap didampingi oleh ahli pada menit-menit awal, ketika dirasa sudah dapat menangani dan melanjutkannya pendamping beralih ke kelompok siswa lainnya. Yang menjadi jagal pun diusahakan selalu berbeda setiap tahun. Tujuan dari hal ini adalah agar setiap siswa dapat memiliki tanggung jawab atas perannya dan belajar melakukan hal tersebut, sehingga jika suatu saat harus berada di lapangan, kita sudah siap menjalani apapun. That’s brilliant idea and I love it!

Jagal sudah mulai bersiap disini

4. Menikmati hidangan daging qurban.

Kami juga berhak menikmati hidangan qurban yang dijatahkan bagi pequrban, yakni kami sekelas. Meski pernah daging qurban yang kami dapati hanya sedikit (1 orang hanya dapat 2 tusuk sate wkwkw), kami tetap sangat bersyukur dan menikmatinya. Karena bagi kami yang berharga bukanlah perut kami yang penuh, melainkan kebersamaan yang kami jalin dalam kegiatan tersebut.

 

Berikut adalah beberapa dokumentasinya:


Inilah artis di hari Idul Adha

Aku bersama si calon kambing qurban



Ilustrasi keramaian, disana adalah tempat dipotongnya hewan qurban


Disini kami mulai bekerja mencacah tulang, memotong daging, dll


'Senjata' untuk meramaikan dalam menikmati hidangan kami nanti


Share:

Sunday, 2 August 2020

Memaknai Qurban




Hi kenalin, ini alm. BATU namanya. Nama lengkapnya domBA ipA saTU (jaman sekolah SMA). Dia syahid dengan penuh kebahagiaan di tahun 2012. Eitssssss.. Nggak, disini aku nggak bakalan bahas tentang BATU ini, melainkan hal lain.

Sedikit memaknai lagi tentang qurban. Ust. Aam Amiruddin pernah menganalogikan seperti berikut, “Bayangkan diri Anda adalah tukang parkir yang dititipi mobil, saat urusan si pemilik mobil selesai dan ia ingin mengambil dan menggunakan mobilnya kembali, apakah Anda akan berontak dan klaim bahwa mobil yang ia parkirkan adalah milik Anda?”

Jawabannya pastilah tidak. Namun begitulah manusia, kadang lupa, bahwa semua yang dimiliki bukanlah benar-benar miliknya, melainkan titipan semata.

Seperti halnya zakat pada rukun islam, qurban merupakan amalan yang melibatkan orang lain. Hablumminallah dan hablumminannas. Berbahagialah bagi yang telah dimampukan untuk berqurban 😊


Wallahu a'lam bissawab


Share:

Friday, 31 July 2020

Bahagia

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi


Adakah dirimu sepertiku?
Yang bahagia hanya dengan bergurau bersama dunia.
Memandangi indahnya sang permata.
Yang setiap manusia catutkan ia sebagai 'rumah',
namun nyatanya?
Kau sakiti dia yang kau sebut 'rumah'. 


Aku mampu, berduaan bersamamu begini saja.
Menatapmu sambil tersenyum.
Bahagia.


Inilah aku seorang anak manusia yang bahagia jika bersua dengan kehijauan dunia.
*smile*




Note:
Maaf ya kalau nggak nyambung banget. Disini aku ingin menyampaikan aja, betapa bahagianya aku ketika bisa berada di alam terbuka. Meski nyatanya banyak yang berkontribusi menorehkan luka pada sesuatu yang kusukai tersebut. Bahkan mungkin akupun turut berkontribusi :(
Share:

Atribut


Diclaimer: Mungkin pembaca tidak bisa terlalu memahami dan merasakan apa yang ingin disampaikan penulis. Namun harapannya terdapat sebuah kebaikan yang dapat diambil hikmahnya. Diharapkan berhati-hati dalam menilai, karena artikel kali ini mengandung unsur ke-baper-an.

 

Aku rindu mengenakan atribut ini.

“Huh nyombong”, mungkin ini yang akan kamu katakan ketika mendengar pernyataanku tersebut.

Tetapi, tidak. Tidak sama sekali. Lebih tepatnya perasaan yang kumiliki bukanlah itu, melainkan sangat bersyukur. Bersyukur karena atribut ini mengingatkan aku untuk menjadi manusia yang terus memanusiakan manusia. Mengingatkan aku untuk terus bersemangat dan ikhlas dalam pengabdian diri bagi masyarakat, terutama umat-Nya. Melelahkan? Ya pasti. Tapi jujur, bagiku kelelahan yang penuh kebahagiaan. Aku sangat ingat betul, seorang temanku pernah mengatakan, “Ingin beristirahat? Nanti aja di surga-Nya.”. Kurang lebih seperti itu setelah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Powerfull banget! Aku bener-bener nggak bisa lupakan dan bahkan selalu kuusahakan untuk selalu mengingat kalimat tersebut. Hal tersebut meyakinkanku bahwa dunia yang fana ini memang tempatnya berlelah-lelah. Semoga kelelahan yang dialami pun bukanlah yang sia-sia.

Itu tuh atribut apa sih? Itu merupakan lambang dari Yayasan Percikan Iman (YPI) yang dinaungi oleh Ust Aam Amiruddin. Tidak terasa sejak tahun 2018 aku bergabung menjadi relawan Percikan Iman (atau lebih akrab disapa Sahabat Percikan Iman) dan hingga saat ini inshaaAllah tidak ada niatan bagiku untuk benar-benar meninggalkannya. Sehingga, ini adalah idul adha ketiga-ku bersama YPI. Pada dasarnya aku adalah tipe orang yang jika sudah sangat cocok akan sesuatu, maka aku akan loyal/setia terhadap hal tersebut.

Suatu hari seorang temanku pernah menanyakan suatu hal,

“Nanti kalau udah mulai kuliah kamu bakalan berhenti dari kegiatan itu kan?”, tanyanya.

“Hah? Nggak lah. Kenapa juga? Kegiatannya hanya seminggu sekali ini, terkadang nggak setiap minggu juga. Lagipula suasana dan lingkungannya nyaman banget, aku seneng banget alhamdulillah.”, jawabku sumringah.

 Jujur memang lingkungannya sangat nyaman dan kondusif, aku bisa belajar banyak hal baru dan terpenting orang-orangnya sangat humoris. Namun dalam hal menjalankan program dan mencapai target, sangat patut diacungi jempol deh. mashaaAllah.

Jadi atribut ini bukanlah sekedar atribut, terdapat makna peluh namun pantang mengeluh, terdapat makna kekeluargaan, tawa, canda, dan bahagia. Yang terpenting terdapat makna keihklasan didalamnya. Iklas dalam memberi, melayani, mengayomi, membimbing dan semuanya.

Terima kasih ya Allah atas kesempatan berharga ini.

Terima kasih ayah dan ibu yang sudah berinisiatif menawariku untuk turut mengambil andil dalam syiar yang dilakukan oleh YPI.

Terima kasih kepada semua orang di YPI yang telah memberikan seorang Witsqa sebuah ruang dan kesempatan untuk dapat memasuki lingkaran kebaikan ini.

Terima kasih diriku, karena kamu udah berusaha mengejar kesempatan ini dan tidak menyiakannya begitu saja.

 


Share:

Friday, 10 July 2020

Sebuah alasan.

Ini hanya sedikit opini dariku, seorang insan biasa yang masih sering melakukan salah dan dosa, tidak sempurna dalam mengamalkan apa yang keluar dari lisannya, tetapi selalu mengharap kasih-Nya. A note to myselfin case I forget why I decided this kind of choice.



Pernahkah kamu bertanya-tanya, “kenapa sih suka ada orang yang tidak berkenan memasang foto yang visual dirinya di ranah publik, feed instagram misalnya?

Mungkin ada pendapat yang saling sahut-menyahut seperti, “wah, doi insecure ini mah, pasti.” atau “ukhti-ukhti, wajar.” atau “nggak ada kuota kali ya”, dll.

Terlepas dari apapun alasannya, hal mendasar yang harus kita pahami adalah bahwa itu merupakan hak dirinya pribadi. Mau nge-post sesuatu atau tidak, tidak lantas membuat pengaruh yang signifikan dalam hidupmu, bukan? Lagipula, sudah seharusnya kita untuk selalu berusaha berhusnudzan kepada semua orang. Biar nggak bikin ribet diri sendiri, gitu aja sih.

 

Aku akan kilas balik ke kejadian beberapa tahun yang lalu, saat masih duduk di bangku kuliah S1. Mungkin ingatanku kurang sempurna dalam menggambarkan setiap detailnya, namun aku bertujuan untuk menyampaikan poin pentingnya.

Hari itu cukup cerah, betapa sumringah dan merekahnya hati ini ketika mendapatkan informasi bahwa akan ada kegiatan yang diselenggarakan di Wisma Duta KBRI Ankara. Bagaikan angin segar bagi para diaspora Indonesia disana, aku dengan sangat antusias ingin menghadirinya. “Modus” bagi para perantau yang berkesempatan hadir di kegiatan-kegiatan KBRI adalah bisa membayar rindu akan masakan nusantara yang agak sulit untuk di-eksekusi di dapur apartemennya masing-masing.

Tak kusangka selain hari yang cerah, hari tersebut juga cukup baik untuk mengubah persepsiku atas sesuatu yang awalnya tak kuanggap “serius”. Seusai kegiatan di Wisma, kami semua bergegas untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Bukan maksud hati mencuri dengar, tapi memang terdengar dengan sangat jelas di telingaku, sebuah percakapan yang membuatku tak enak hati jika tak bereaksi apa-apa. Percakapan antar anak lelaki sebayaku,

“eh, kamu tahu nggak si AAA (menyebut nama seorang gadis)?”, tanya anak laki-laki pertama.

“nggak, kenapa? Cantik nggak anaknya?”, tanya anak laki-laki kedua.

“beuh.. cantik banget. Gak percaya? Nih liat instagramnya.”, anak laki-laki pertama menunjukkan sesuatu.

“wah... si BBB juga oke tau (sambil mencoba mencari instagramnya)”, anak laki-laki kedua menyela.

Entah kalian mau menilai aku apa atas responku kemudian, tetapi aku sebagai seorang perempuan yang mendengar degan jelas hal tersebut, dan mereka tahu aku sedang berada di lingkungannya, merasa....sangat.....tidak....nyaman. Aku pun berkata halus pada mereka,

“ih kalian teh liat-liat instagram cewek.”, sambil berusaha mengontrol kata-kata yang akan kulontarakan.

“ya gak apa-apa lah, kan dianya juga upload (sembil terus scroll, karena ingin memperlihatkan foto yang katanya ‘oke’ tersebut)”, jawab laki-laki kedua santai sambil terus menatap layar telepon genggam di tangannya.

DEG! Disitu aku merasa TEMAN-TEMANKU TERSEBUT SEDANG MELIHAT-LIHAT KATALOG, terus scroll up - scroll down. Yep katalog? Yang menjual suatu produk. Dan aku tidak ingin menyamakan diri ini dengan sebuah produk, yang bisa sesuka hati dilihat-lihat.

Hari itu merupakan turning point bagiku. Aku disadarkan akan dark side dari media sosial, meskipun tidak sekelam itu. Tapi hal tersebut cukup memberikan tamparan yang keras bagiku. Memang akupun masih belum sempurna. Masih ada pula fotoku yang bertebaran, bahkan terkadang memang sengaja publikasi untuk tujuan “have fun”. Namun jauh di lubuk hati, aku inginkan untuk meminimalisir hal tersebut. Aku tidak ingin orang dengan mudahnya melihat-lihat “katalog” beratasnamakan diriku.

 

Oh iya, tentang kedua temanku tersebut. Tenang, mereka sesungguhnya anak yang sangat baik. Hanya berbeda perspektif denganku. Bisa jadi juga mereka memiliki intention lain dari hal tersebut. Kisah ini mengingatkan aku juga akan perkataan yang disampaikan oleh seorang teman yang lain,

“Wits, kamu kan aktif banget ya anaknya. Selalu ada di setiap kegiatan. Tapi kok nggak ada ya anak laki-laki yang ngomongin kamu?”, tanya temanku.

Aku sangat kaget mendengar pernyataan sekaligus diberikan pertanyaan seperti itu. Aku tidak menjawabnya, hanya menjatuhkan pandangan isyarat aku tidak memahami maksud dari ucapannya barusan.

“Iya kan kita cowok-cowok kalau kumpul tuh suka ngomongin cewek. Misalnya sih teteh A karena blablabla, teteh B karena bliblibli, atau C karena blublublu (secara fisik, karakteristik, dsb). Tapi kamu tuh nggak sama sekali. Aku nggak pernah denger ada yang bicara tentang kamu.”, katanya panjang lebar.

Sebenarnya itu hak mereka dan bukan urusanku juga. Tapi disitu, hati ini tidak bisa merasa tenang. Aku kesal karena merasa harga diri sebagai perempuan sedang dicabik-cabik saat itu. Meski yang dibicarakan bukanlah tentangku, tapi aku merasa tidak sampai hati mendengar yang dibicarakan tentang teman-temanku. Jujur setelah hari itu aku jadi seperti illfeel. Saat itu mataku juga seperti membendung air mata, tak kuasa menahan sesak di dada, namun aku tak boleh keluarkan. Aku menjawab,

“Hah? Kalian kalau ngumpul suka ngomongin perempuan? Kayak nggak ada kerjaan aja deh. Dan satu lagi, nggak ada cowok yang ngomongin aku? Alhamdulillah banget ya Allah. Aku mah bersyukur banget. Karena aku nggak mau dan nggak berharap juga ada cowok-cowok yang ngomogin aku untuk perihal semacam itu (bukan dalam konteks yang penting dan bermanfaat).”, cecarku.

Tidak ada sedikitpun rasa iri karena perempuan lain lebih sering dibicarakan. Aku malah akan merasa sangat takut jika ada orang yang membicarakanku dalam konteks seperti itu. Well, setidaknya hari itu aku jadi mengetahui setitik debu sudut dunia yang lain, dunianya anak laki-laki.

Dia malah bertanya lagi, “kalian kalau cewek-cewek suka ngomongin cowok nggak pas lagi ngumpul?”

“nggak lah (dalam konteks yang seperti mereka lakukan). Ngapain juga.”, jawabku yang mulai agak sewot dan malas menjawab pertanyaannya.

 

Dua kejadian yang bisa kukatakan cukup menaikkan pitamku namun memberikanku banyak ruang untuk membentuk sudut pandang yang baru agar lebih bijak lagi dalam bertindak. Kalau kalian perhatikan, aku menyebut teman-temanku tersebut sebagai “anak laki-laki”, karena imo not mature enough for doing such things. inshaaAllah di hari ini aku yakin, para “anak laki-laki” itu sudah menjadi para “pria” yang pastinya menghargai perempuan. Allahumma aamiin.

 

Kalau kata temenku, “I need a man, not a boy”.

Eh bentar kok jadi gak nyambung ya? Maap maap. WKWK


Share:

Sunday, 28 June 2020

Witsqa Masak: Rabokki (Ramyeon + Tteokbokki)

Rabokki merupakan akronim dari Ramyeon dan Tteokbokki, termasuk snack yang biasa dihidangkan di negeri ginseng. Ternyata membuatnya nggak sulit! Ada solusi sebagai pengganti dari gochujang, yang cukup pricy jika di Indonesia. Karena saya orang sunda, jadi emang seneng banget ama si tteok ini. Cobain deh! Semoga cocok juga ya di lidah kalian. Bahan-bahannya cukup mudah untuk ditemukan.
DISCLAIMER! Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasal dari mana saja; youtube, blog, resep turun-temurun, dll. Selamat mencoba!
Rabokki

Bahan-bahan:
Tteokbokki
·  Tepung beras 6 sdm
·  Tepung Tapioka 5sdm
·  Air mendidih 13-14 sdm
·  Garam ½ sdm

Saus
  • Saos sambal 3 sdm
  • Saus tiram 1 sdm
  • Saus tomat 1 sdm
  • Kecap manis 1 sdm
  • Cabe bubuk 1 sdm
  • Gula pasir 1 sdm
  • Air 250 ml
·        Ekstra
  •       Telur
  •       Mie instan kering
  •       Keju
·      
      Langkah-langkah:
Tteok
  1.  Sangrai tepung beras yang akan digunakan.
  2.  Campurkan tepung beras yang telah disangrai, tepung tapioka dan garam. Aduk merata.
  3.  Masukkan air mendidih.
  4.  Uleni hingga kalis.
  5.  Dipotong-potong seukuran tteok sesuai selera Anda.
  6.  Rebus tteok hingga matang

 Rabokki
  1.   Masukkan bahan sausnya ke dalam wajan.
  2.   Tuangkan 250 ml air, aduk hingga merata.
  3.   Masukkan tteok yang telah matang, telur yang telah direbus, mie instan kering, keju.
  4.   Tunggu hingga mie nya matang.
  5.   Rabokki siap dihidangkan.

 Tips:
  • Menyangrai tepung beras tujuannya untuk menghilangkan bau. Tapi, saya kelupaan nggak sangrai dulu, tapi tetap aman. Karena tepung tapioka yang digunakannya cukup banyak.
  • Uleni selagi panas. Jangan menunggu dingin. (harus gunakan air panas)
    Kalau terlalu panas, gunakan sendok dulu, kemudian setelah menghangat uleni dengan tangan sampai berbentuk adonan.
  • Supaya menjamin tteoknya matang hingga bagian dalam. Dapat dilubangi dengan tusuk gigi ataupun tusuk sate.
  • Untuk ekstra dapat menggunakan bahan-bahan sesuai selera. Bisa gunakan sosis, bisa taburkan daun bawang dan wijen, dll. 


Referensi:

Berikut adalah resep diatas dalam bentuk gambar




Share:

Wednesday, 10 June 2020

Diet Sosial Media dan Gadget

Pernah nggak sih kalian ngerasa penat banget? Tapi nggak tahu apa penyebabnya dan bagaimana solusinya? Disini aku bakalan share opiniku mengenai hal tersebut and how I cope with it.

Kesehatan atas pikiran kita adalah tanggung jawab dari diri kita masing-masing, setuju nggak? Di era yang semudah sentuhan jari untuk memperoleh berbagai informasi ini, nampaknya tidak selalu memberikan dampak yang positif. At least, buat aku. Hal ini aku sadari semenjak aku duduk di bangku kuliah S1, tidak ingat betul sejak tahun ke berapa, namun aku benar-benar mulai merutinkan self-detox dalam bentuk diet sosmed itu di awal tahun ketiga.

Aku merasa terlalu banyak informasi yang kuterima dengan aku membuka sosial media. Bahkan ada masanya informasi yang menurutku seharusnya aku bisa saja tidak mengetahuinya, jadi malah tahu. Contoh real-nya nih ya, di sosial media kan aku terhubung dengan teman-temanku dan ternyata dia disitu ada membagikan fotonya dengan seorang pria yang katanya kekasih hatinya. Di satu sisi, aku merasa tidak perlu mengetahui informasi semacam itu dan takutnya dari situ terpercik lah dosa meski sedikit demi sedikit. Intinya itu yang ada di mindset aku sewaktu dahulu. Kalian mungkin bakalan pikir, I was too naive. Tapi itu yang benar-benar aku pikirkan saat itu.

Aku nggak merutinkan diet sosmed-ku secara teratur sih. Hanya jika sudah mulai merasa overflowing by informations yang ditandai dengan emosi kurang stabil dan hilangnya kedamaian dalam pikiran. I stop for awhile. Lebih dari itu nggak hanya diet sosmed, aku juga lakukan diet gadget (utamanya handphone). Biasanya maksimal aku nggak lihat handphone itu sampai tiga hari (dengan kondisi memang tidak ada hal penting yang sedang kukerjakan yang menuntut koordinasi dengan orang lain), tapi untuk diet sosmed minimal durasinya selama satu minggu. Setelah itu biasanya aku merasa lebih segar lagi.

Tanpa disadari, banyak banget hal yang lebih bermanfaat yang kulakukan ketika diet sosmed dan gadget. Aku bisa lebih banyak bermuhasabah / berkontemplasi, banyak membaca (baik itu buku, berita maupun artikel), dan masih banyak lagi.

Aku mencoba mengidentifikasi lagi, apakah itu dikarenakan aku terlalu banyak bermain sosial media? Tidak juga. Aku mengatur batas waktu untuk tiap jenis aplikasi yang kugunakan. Yaaaa suka ngelanggar juga sih (soalnya alokasi waktu yang aku kasih hanya 1 jam untuk sosmed itu, guys wkwk), tapi aku merasa masih dalam batas manusiawi. Mungkin karena memang informasi-informasi telah terlalu bertumpuk di kepalaku tanpa kusadari, atau kondisiku pada saat itu sedang banyak yang harus dikerjakan, idk either. Kalau diilustrasikan, saat-saat seperti itu kepalaku itu isinya seperti benang yang kusut. Sehingga beberapa waktu berjarak dengan mereka adalah sebagai upaya untuk mengatur benang kusut tersebut agar kembali rapi dan lurus.

Ingat sekali ketika berkesempatan untuk diskusi dengan beberapa kakak angkatanku (ciwi-ciwi) saat S1 dulu, kami membahas tentang platform instagram. Seorang kakak kelasku mengatakan dengan penuh antusias bahwa instagram itu untuk refreshing. Scroll scroll untuk refreshing. Kemudian aku mengemukakan pendapatku yang sebaliknya, bahwa terkadang ia menambah kepenatan. Namun nampaknya aku minoritas disitu wkwk, bahkan hanya aku saja yang memiliki perspektif seperti itu. Oh iya, kenapa mesti banget aku mention kalau aku diskusi dengan ciwi-ciwi aka perempuan? Karena cara berpikir perempuan dan laki-laki itu jauh berbeda, katanya. Bisa jadi menurut laki-laki, hal sepele seperti ini mah bodo amat, yaaa aku nggak tahu.

Mungkin kalian bakal mikir, "njeh Witsqa ribet amat, yaudah close aja tuh sosial media."
Aku udah pernah lakukan itu berkali-kali, bukan karena engaging yang membuat aku kembali membukanya, tetapi dikarenakan masih ada kewajiban yang mengharuskanku memiliki sosial media dan banyak juga akun-akun yang aku ikuti dan memberikan faedah yang cukup banyak, yang nggak bakal lama aku temukan jika hanya mengurut dari buku bacaan. That's it. Mungkin aku yang harus lebih mengontrol diri aja dan menyaring informasi-informasi yang aku terima. Aku masih butuh banyak belajar. Apakah kalian memiliki pendapat?

Ini ceritaku, nggak ada yang benar dan nggak ada yang salah, yang ada hanya yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, setuju?!

Wallahu a'lam
Share:

Cerita tentang Berfokus

Beberapa waktu yang lalu, saya berjalan didalam rumah kemudian terduduk di bangku ruang tengah. Saya fokus dengan makanan yang sedang saya nikmati, karena saya purna menyelesaikan shaum saya di hari itu (bandelnya saya tidak makan di meja makan hari itu). Sewaktu saya berjalan, saya merasa kaki saya menginjak sesuatu, dan lagi-lagi cerobohnya saya, saya hanya coba singkirkan tanpa melihatnya. Saya yang sedang terfokus dan asyik dengan hidangan yang sedang dinikmati merasakan ada yang aneh dengan telapak kaki saya itu, seperti terasa perih.  

Ilustrasi

Saya pun melirik telapak kaki saya, kaget bukan main karena darah terlihat keluar dari telapak kaki saya tersebut. Saya kaget melihat darah sendiri dan badan ini seperti membeku. Ternyata bisa jadi serpihan kaca tersebut berasal dari jam dinding yang tergedor saat kami sedang memindahkan barang-barang beberapa hari sebelumnya.

Setelah direnungkan, value yang dapat disimpulkan dari kisah ini adalah....
Jika kita fokus dengan apa yang kita kerjakan, distraksi apapun dari luar bisa terabaikan.

Starve your distractions, feed your focus 😃

Note: I am still learning though
Share:

Thursday, 4 June 2020

Kematian




Hari ini tiba-tiba ibu membahas mengenai hal ini, kemudian kami bicara. 
"Ibu nggak mau kalau ditinggal ayah, maunya ibu yang duluan", sembari menitikkan air mata. 
"Kamu nggak tau rasanya, berbeda antara ditinggal orangtua dan pasangan.", melanjutkan.
Ya, mungkin karena kita hanya tinggal dengan orangtua hingga seperempat abad, namun bersama pasangan hingga penghujung usia. Oleh sebab itu pernikahan disebut dengan ibadah terlama.
"Dia yang sudah memahami baik buruknya kita dan bersabar dengannya, bersabar pula dalam menuntun menuju kebaikan. Teman yang selalu ada membersamai."
Aku hanya dapat menatap wajah ibu.

Usut punya usut, rupanya pagi sekali ayah membuka topik mengenai hal ini.
"Ayah gak bisa kayaknya kalau ditinggal ibu, ibu harus sehat. Inginnya nanti ayah yang duluan", katanya.
Ibu yang mendengar ucapan ayah merespon, “yaudah, berdoanya biar bareng-bareng aja”. 
Aku sesungguhnya tak kuasa menahan air mata saat itu. 

***

Teringat beberapa tahun silam ibu pernah mengungkapkan keinginannya untuk menghembuskan nafas terakhir di tanah suci. Alhamdulillah ibu sempat diberangkatkan haji pada tahun 2015, namun terpisah dengan ayah yang diberangkatkan pada tahun 2016, karena kekeliruan urusan administrasi membuat ayah dan ibu terpisah jauh.

Ingat kan apa yang terjadi pada angkatan haji tahun 2015? Terdapat kejadian crane yang roboh. Sesaat setelah mendengar informasi tersebut, aku sangat tidak tenang. Aku pun sulit menghubungi ibu. Ku telepon-telepon tapi tak ada jawaban. Sampai-sampai orang-orang yang mengetahui bahwa ibuku sedang beribadah di tanah suci, menghubungiku secara beruntun, menanyakan kabar dan keadaannya (ada beberapa yang langsung menasihati untuk siap bersabar dengan segala ketentuan-Nya).

Aku menangis dan menangis takut ibu dilanda kesulitan, tak pernah berani memikirkan kemungkinan terburuk. Saat itu tak ada ayah yang menemani ibu. Ibu berangkat seorang diri (meski pada praktiknya bersama rombongan). Aku pun teringat harapan ibu yang selalu diungkapkan di hari-hari sebelum keberangkatannya, tentang ibu yang ingin menghembuskan nafas terakhir di tanah suci.

Aku mengangkat kedua tanganku dengan berat dan namun terus berurai air mata, 
“ya Allah aku ikhlaskan segala ketentuan-Mu atas ibuku. Aku ikhlaskan segala skenario-Mu.”
Berat sekali aku mengungkapkan kalimat-kalimat itu. Tercekat di tenggorokanku. Tapi di lain sisi, muncul ketakutanku, jika doa-doaku sebelumnya malah memberatkan ibu. Ibu yang ingin menghembuskan nafas terakhir di tanah suci. Karena memang setiap berdoa aku selalu menyatakan ketidakmauanku ditinggalkan ibu, sangat tidak mau. Setelah itu, aku mempertanyakan diriku sendiri, 
"Apakah selama ini aku bukanlah anak baik? Karena tidak mengikhlaskan dan mengamini keinginan ibunya sendiri."

Tak berselang lama, beberapa jam atau hari setelah itu rasanya (aku lupa). Ada telepon masuk, ternyata dari ibuku! Beliau hanya dapat berbicara sebentar. Karena saat keberangkatan aku tidak di Indonesia, aku tidak dapat memastikan segala kebutuhan ibuku terutama mengenai komunikasi. Sehingga komunikasi kami seperti benar-benar terputus.

Setelah ibu menelpon, aku langsung mengisi pulsa telepon internasional dan menelpon ibuku. Rupanya selama ini ibuku terlalu memfokuskan diri beribadah sehingga tidak menyadari ada telepon dariku. Lalu, aku bermaksud memastikan keadaan ibuku dan menanyakan tentang kejadian crane jatuh tersebut. Qadarullah, Allah maha baik. Crane terjatuh sesaat setelah ibuku kembali ke tempat istirahat, kurang lebih satu jam selisih waktunya. Tipis sekali. 

Hanya sepuluh menit kami dapat berbicara, karena terbatas atas pulsaku yang habis dan ibu yang ingin melanjutkan beribadah. Tetapi hal tersebut sudah cukup membuatku merasa lega.

***

Mengingat kejadian tersebut, aku yang biasanya langsung menyatakan, "Jangan berdo'a kayak gitu"
Hanya bisa terdiam. Karena aku mulai memahami, bisa jadi itu adalah cita-cita tertinggi seorang hamba. Hamba dengan tulang rusuknya. Aku hanya bisa menangis dan memeluk ibuku erat.






Share:

Search in This Blog

Pesan untuk Penulis

Name

Email *

Message *

Another Blog

Tulisan Terbaru!

Witsqa Masak: Yumurtali Patates

DISCLAIMER!  Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasa...