*

Pages

Showing posts with label Info. Show all posts
Showing posts with label Info. Show all posts

Monday, 31 August 2020

Chengg Answer for Free

Do you want to unblur an answer of Chengg Question but there's don't have a Chengg subscription? Kindly check this site!

It is very easy to use. All you need to do is only typing your question and fill in your identity. That's all! The answer will be send to your email. It took about 3 hours - 1 day.

Share:

Sunday, 2 August 2020

Memaknai Qurban




Hi kenalin, ini alm. BATU namanya. Nama lengkapnya domBA ipA saTU (jaman sekolah SMA). Dia syahid dengan penuh kebahagiaan di tahun 2012. Eitssssss.. Nggak, disini aku nggak bakalan bahas tentang BATU ini, melainkan hal lain.

Sedikit memaknai lagi tentang qurban. Ust. Aam Amiruddin pernah menganalogikan seperti berikut, “Bayangkan diri Anda adalah tukang parkir yang dititipi mobil, saat urusan si pemilik mobil selesai dan ia ingin mengambil dan menggunakan mobilnya kembali, apakah Anda akan berontak dan klaim bahwa mobil yang ia parkirkan adalah milik Anda?”

Jawabannya pastilah tidak. Namun begitulah manusia, kadang lupa, bahwa semua yang dimiliki bukanlah benar-benar miliknya, melainkan titipan semata.

Seperti halnya zakat pada rukun islam, qurban merupakan amalan yang melibatkan orang lain. Hablumminallah dan hablumminannas. Berbahagialah bagi yang telah dimampukan untuk berqurban 😊


Wallahu a'lam bissawab


Share:

Thursday, 21 May 2020

Tasbih / Tally Counter



Apa yang terbesit dalam benak kalian ketika membaca judul yang aku sematkan? Sebagian besar dari kalian pasti bakalan jawab, ya itu mah alat bantu supaya pas lagi zikiran nggak lupa itungan aja sih ya. Atau ternyata ada hal lain? Boleh banget di-share di kolom komentarnya. Hehe



Disini aku nggak akan ‘men-tarbiyah’ tasbih itu apa, dzikir itu apa, dst. Tapi aku bermaksud membagikan hal yang mungkin terdengar biasa saja di telinga kalian, tapi ini tuh benar-benar membuat aku melek dan lebih aware lagi. Ini tentang hubunganku dengan mereka, tasbih digital itu, atau yang punya nama keren tally counter. Yang aku pahami tuh, yang namanya ibadah baiknya gak perlu diumbar-umbar, yes, pasti setuju semua dong. Nah, tapi aku sempat merasa ada satu hal yang kontradiksi gitu, “lah kok katanya jangan diumbar-umbar, tapi kenapa tasbih / tally counter ada di tangan, kan orang jadinya bisa liat”. Aku bertanya-tanya, tapi tetap dalam ruang husnudzan, inshaaAllah. Waktu itu mungkin aku juga lagi lupa, kalau ada sebuah hadits yang bunyinya seperti berikut. 

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِDari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Lagian kenapa pula aku mesti merhatiin sekitar ampe segitunya, kan? Tapi yang namanya kepo, tuh bikin pingin tahu banget (yaiyalah wkwk, kalau bikin jadi nggak pingin tahu malah aneh). Cuma gak mungkin juga kan tiba-tiba tanya stranger kayak gitu, bisa-bisa langsung kabur dianya.

Nah qadarullah, Allah tuh baik banget, ngasih aja gitu momen yang pas ke aku. Saat itu, aku lagi kumpul sama teman-teman, dan diantara teman yang ada tuh ada seseorang yang aku anggap paling paham dan ilmunya tinggi. Kutanya lah apa yang mengganjal di hati dan pikiranku selama ini. Kemudian dia diam sejenak dan menarik napas, lalu menjawab

“Gini teh. Memang betul segala bentuk ibadah itu baiknya hanya kita dan Allah saja yang mengetahui. Namun untuk kasus yang teteh tanyakan itu, situasinya agak berbeda. Berbedanya bagaimana? Kita ini manusia, seringnya lupa dan tak luput dari dosa. Jadi dengan adanya tasbih / tally counter di tangan kita, membuat kita yang awalnya sedang bengong aja itu, jadi ingat untuk merubah haluan jadi dzikiran. Anggap aja alat-alat tersebut itu sebagai perantara pengingat supaya tetap dan terus berdzikir. Gitu teh.”

Beliau menjawab dengan tenang, tertata dan lembut. Iya juga sih, terkadang kan ketika kita melakukan perjalanan dari rumah entah ke market, kampus, atau kemanapun itu, nah, pada saat di perjalanan mungkin malah bengong aja, memikirkan hal yang nggak jelas juga, tahu-tahu udah sampai aja di tempat tujuan. Agak sayang juga ya sama waktu yang ada yang sebenarnya bisa lebih bermanfaat.

Lagipula, berdzikir itu adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain dapat menenangkan hati, berdzikir juga bermanfaat untuk memberikan ketenangan pikiran. Rasulullah SAW juga sering menggunakan waktu luangnya untuk berdzikir. Karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk ibadah dan bisa dilakukan sebanyak-banyaknya. Sebagaimana yang tertulis dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 41, yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.”

Kemudian ibunda Aisyah r.a. berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
Artinya: “Rasulullah selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap kesempatannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Nah mungkin dari hal tersebut bakalan memicu pertanyaan selanjutnya, yaitu kalau nggak ada tasbih / tally counter bagaimana?
Inget ya, benda-benda tersebut tuh hanya perantara. Jangan sampai harus banget ada benda-benda tersebut (khawatir tanpa sengaja, kita jadi malah mencederai akidah jika bergantung pada keberadaannya). Jadi, dzikir itu mesti jalan terus ketika ada maupun tidak ada tasbih / tally counter ya! Tapi kalau tujuannya ingin keep on track udah berapa banyak dzikir kita, ini ada tips dari Wirda Mansur yang pernah aku lihat di channel youtube nya, diantaranya:
1.         Gunakan kertas yang disobek-sobek menjadi 33 bagian (kecil-kecil saja)
2.         Kemudian kertas-kertas tersebut dibuat bola-bola
3.         Ketika mau mulai berdzikir, simpan bola-bola tersebut di kanan (misal).
4.         Jika mulai menghitung, pindahkan bolanya ke kiri.
5.         Dan seterusnya.
Ada rasa menyenangkan juga, karena serasa sembari memainkan bola-bola tersebut, katanya.

Cerita Tentang Dzikir
Mungkin kita semua sudah tidak asing lagi dengan hadits berikut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi SAW bersabda,
كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang dicintai oleh Ar Rahman, ringan diucapkan di lisan, namun berat dalam timbangan (amalan) yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim (Maha Suci Allah, segala pujian untuk-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Mulia).” (HR. Bukhari no. 7563 dan Muslim no. 2694)

Nah, ada seorang temenku tuh yang mengamalkan ini, dia dawamkan terus. Voila! Kemudahan selalu menghampirinya. Lagi jalan, mau turun pakai lift (karena dia tinggal di lt. 5), eh liftnya langsung datang tanpa perlu dia nunggu lama. Ketika mau naik bis, sesampainya dia di halte tepat bersamaan dengan bis yang ingin ditujunya tiba. MashaaAllah banget lah kekuatan dzikir tuh.

Yaaa.... Aku memang belum ahlul dzikir, diantara kalian juga mungkin ada yang belum. Setidaknya kita semua berusaha ya! Kalau sudah ada kawan yang ahlul dzikir dan baca artikel ini, doakan kami para pejuang dzikir ini ya. Hehe

Oh ya, apakah teman-teman sudah pernah mendengar kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan tukang roti? Kisah ini tuh benar-benar melekat banget dipikiranku. Aku akan ceritakan ulang yaaa. Biar tidak menghilangkan esensinya, ceritanya ini akan aku sadur dari link ini.
Begini ceritanya...

Imam Ahmad bin Hanbal r.a. (murid Imam Syafi’i) yang dikenal sebagai Imam Hanbali. Di masa akhir hidup beliau bercerita, 
  “Suatu ketika (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak –dalam manaqib Imam Ahmad beliau menuju Bashrah.” 
Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat. Akhirnya Imam Ahmad bin Hanbal r.a. berangkat sendiri menuju ke kota Bashrah. 

Beliau meriwayatkan 
  “Saat tiba di sana waktu Isya’, saya ikut salat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian tiba-tiba saya ingin istirahat.”
Selepas salat dan jamaah bubar, Imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba sang marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya,
  “Kenapa Syaikh, mau ngapain di sini?" 
term “Syaikh” dalam tradisi Arab bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena imam Ahmad kelihatan sebagai orang tua.

Marbot tidak mengetahui kalau beliau adalah Imam Ahmad, dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. Di Irak, semua orang kenal siapa Imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadis, beliau hafal sejuta hadis, sangat saleh dan zuhud. Ketika itu belum ada teknologi kamera dan media sosial seperti sekarang, sehingga orang tidak tahu wajahnya, hanya saja namanya sudah terkenal. Kata Imam Ahmad bin Hanbal r.a., 
  “Saya ingin istirahat, saya musafir.” 
  “tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”, jawab marbotnya.  
Imam Ahmad melanjutkan bercerita, 
  “Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, maka dikuncilah pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.” 
Ketika sudah berbaring di teras masjid marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad.
  “Mau ngapain lagi, Syaikh?” tanya marbot. 
  “Mau tidur, saya musafir,” jawab Imam Ahmad. 
Lalu marbot berkata, 
  “Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh.” 
Imam Ahmad diusir. 

(Disini sesungguhnya aku agak keki, kok gitu amat ngusir-ngusirnya. Tapi Allah Maha Tahu yang terjadi selanjutnya...)

Imam Ahmad bercerita, 
  “Saya didorong-dorong sampai jalanan”. 
Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang mengolah adonan roti, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Saat Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, 
  “Mari Syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.” 
Imam Ahmad menyetujuinya. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir). 

Penjual roti ini punya perilaku yang bisa dibilang unik, kalau Imam Ahmad mengajak berbicara, maka ia jawab. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar. Saat meletakkan garam mengucap istighfar, memecahkan telur dengan istighfar, mencampur gandum mengucap lagi istighfar. Selalu mengucap istighfar. 

Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu imam Ahmad bertanya, 
  “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?” 
Orang itu menjawab, 
  “Sudah lama sekali Syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”
Imam Ahmad bertanya, 
  “Apa hasil dari perbuatanmu ini?”
Orang itu menjawab, 
  “(berkah wasilah istighfar) tiada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah, langsung dikabulkan”.

Nabi SAW pernah bersabda: “Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya”. 
Lalu orang itu melanjutkan, 
  “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan.”
Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya, 
  “Apa itu?”
Penjual roti menjawab, 
  “Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal.”
Sejurus kemudian Imam Ahmad bin Hanbal bertakbir, 
  “Allahu Akbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu.”

Penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Wallahu A’lam.

***

Jujur! Membaca kisah ini berkali-kali selalu memberikan efek yang sama ketika tiba di bagian akhir bacaan. Merinding dan terharu. Selalu begitu.

inshaaAllah kita juga bisa bercermin dari tersebut. Misal sedang cuci piring. Setiap sudah membasuh sebuah piring disertai satu istigfar, shalawat, maupun dzikir lainnya. Semoga dan semoga Allah senantiasa istiqamah dan dawamkan ya!
Allahumma aamiin.



Share:

Friday, 1 May 2020

Ust. Hanan Attaki - Siapa Orang yang Berusia 1400 Tahun?


Artikel ini berisi ringkasan materi atas ilmu yang diperoleh, dengan harapan membagikannya menjadikan amal jariyah dan menjadi pengingat dikala lupa. Allahumma aamiin.
Do’akan semoga istiqamah, ya!

“Siapa Orang yang Berusia 1400 Tahun?”
Oleh: Ustadz Hanan Attaki

 

Salah satu manfaat dari mempelajari sejarah terdapat pada Q.S. Hud ayat 120 yang berbunyi,
وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِى هَٰذِهِ ٱلْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
Terjemah: “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”

مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ = meneguhkan hati
Atau dengan kata lain, manfaat dari mempelajari sejarah adalah mempertajam nalar. Jadi ketika kita melihat sesuatu, kita mampu untuk langsung menyimpulkan dan memutuskan sikap apa yang harus diambil. Karena sesuatu tersebut bukanlah hal yang baru, melainkan pernah terjadi dan sudah ada hasilnya.

Sehingga, orang yang senang membaca sejarah bukanlah orang yang hidup 60 tahun, melainkan ribuan tahun. Sudah memiliki banyak pengalaman, sehingga takkan gelagapan dalam menghadapi suatu permasalahan. Ia bisa berusia 1000 tahun, 2000 tahun, tergantung sepanjang apa sejarah yang ia baca. Sejarah itu selalu terulang. Karena itu sunatullah. Jika mengikuti Rasulullah maka ini hasilnya. Jika mengingkari maka ini hasilnya.

Alur dampak dari banyak membaca sejarah

Realitas yang baru tetap harus dianalisa dan diperhatikan. Namun semua itu tidak terlepas dari pola kejadian sejarah. Realitas yang baru mungkin muncul pada hal-hal yang detail. Namun secara garis besar, hal tersebut pernah terjadi. Ingat pula kata para ahli, ”Siapa yang kehilangan akar / akses sejarah, maka ia kehilangan referensi bersikap.
    
Wallahu ‘alam bissawab.


Catatan: Tujuan saya menuliskan ceramah dari ustadz-ustadz yang saya dengar adalah sebagai obat saat terlupa. Baik itu lupa karena tidak dapat mengingat dengan baik, ataupun lupa karena khilaf. Terkhusus bagi saya, saya termasuk orang yang pelupa (tidak dapat mengingat dengan baik). Padahal saya sangat senang mendengarkan cerita sejarah, namun perihal nama tokoh dan waktu saya kurang dapat mengingatnya dengan baik. Harapannya dengan menuliskannya dapat menjadi obat. Obat ketika lupa dengan membacanya kembali atau dengan klik tautan videonya.

Dari penulis blog ini
Pada suatu waktu, saya sedang memiliki beban yang dirasa cukup berat dan dapat dikatakan cukup stressful dalam menghadapinya. Ternyata hal tersebut mempengaruhi ibu dan ayah saya dirumah, karena mereka senantiasa melihat aktivitas saya selama dirumah. Saya sungguh merasa bersalah karena membuat mereka memikirkan keadaan saya atas apa yang sedang saya rasakan saat itu, saya tidak pernah bermaksud melibatkan mereka. Segala cara telah ditempuh demi saya dapat merasa lebih tenang lagi dalam menjalani hari-hari. Alhamdulillah cukup berbuah. Meski kali ini saya lebih berhati-hati dikarenakan sesungguhnya tekanan itu masih ada, tapi saya coba sembunyikan dari mereka agar tidak membebani pikiran mereka yang pada dasarnya sudah memiliki banyak hal lain yang dipikirkan.
Situasi ini terjadi setelah sistem karantina dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19 dicanangkan, sehingga kami sekeluarga dapat shalat berjamaah dirumah lebih sering. Meski jadwal work from home (WFH) nya ayah silih bergantian dengan kolega kerjanya. Suatu hari, sebelum mendirikan shalat, ayah saya pernah bertanya kepada saya,
“Ka, apakah bisa ketika ada suatu masalah, terus bisa selesai gitu aja tanpa kita perlu ngapa-ngapain?”
Saya pun berpikir sejenak, karena saya menerka-nerka jawaban yang  ingin ayah dengar adalah candaan ataukah serius. Lalu saya menjawab,
“Kalau pakai logika manusia, nggak mungkin sih, yah. Tapi, kalau mau mengingat ke sirah nabawiyyah, kisahnya siti Maryam. Yang tiba-tiba Allah hadirkan buah-buahan....”
Belum juga saya menamatkan kalimat saya, ayah langsung memotong,
“Sip. Cukup. Nah itu paham, ya.”
“Rezeki itu datangnya dari arah tidak disangka-sangka”, saya ingin melanjutkan, namun ayah sudah langsung mengisyaratkan kepada saya agar segera mengumandangkan iqamah.
Disitu saya paham, sesungguhna orangtua saya juga sudah kebingungan untuk meng-encourage saya. Maafkan anandamu ini ya, ayah, ibu. Saya tak pernah bermaksud seperti itu.

Share:

Thursday, 30 April 2020

Ust. Salim A. Fillah - Zaman Khulafaur Rasyidin (Part 1) bag. 1


Artikel ini berisi ringkasan materi atas ilmu yang diperoleh, dengan harapan membagikannya menjadikan amal jariyah dan menjadi pengingat dikala lupa. Allahumma aamiin.
Do’akan semoga istiqamah, ya!

“Zaman Khulafaur Rasyidin (Part 1)”
Bagian 1
Oleh: Ustadz Salim A. Fillah


Pada tahun ke-10 H, Rasulullah SAW, sepulang dari haji wada, beliau memberikan isyarat bahwa akan segera meninggalkan umat. Dengan pada suatu hari berkhutbah di masjid Nabawi, beliau membacakan Q.S. AN-Nasr. Mendengar ayat ini dibacakan sayyidina Umar menangis tersedu-sedu, sedangkan yang lainnya bertakbir dan bertahmid, karena mendengarkan kabar gembira atas datangnya pertolongan Allah dan kemenangan, dapat dilihat bahwa orang-orang berbondong-bondong memasuki agama Allah SWT. Abu Bakar R.A. yang menangis tersedu-sedu, “ya Rasulullah, seandainya boleh. Akan kami jadikan ayah dan ibu kami sebagai tebusan untukmu ya Rasulullah.”. Kemudian orang-orang bertanya kepada Abu Bakar R.A., mengapa dirinya menangis padahal yang diberitakan adalah kabar yang baik. Abu Bakar Ash-Shiddiq mengatakan, “bukankah dengan begitu artinya tugas beliau telah selesai? Dan jika tugas beliau telah selesai, bukankah artinya beliau akan segera meninggalkan kita”.

Suatu hari Rasulullah SAW merasakan sakit kepala yang luar biasa, sehingga harus mengencangkan ikatan sorban di kepalanya agar berkurang rasa sakitnya. Rasulullah SAW berkata, “seorang hamba diberikan pilihan oleh Allah SWT untuk menjadi Rasul dan raja atau Rasul dan hamba, maka ia memilih untuk menjadi Rasul dan hamba. Dan Allah SWT memberikan pilihan: apakah kehidupan dunia dan kejayaannya atau ar-rafiqul ‘a-la, dan ia memilih ar-rafiqul ‘a-la”. Mendengar kata-kata Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. kembali menangis tersedu-sedu. Kemudian orang-orang bertanya, “mengapa kau ini, Rasulullah SAW bercerita tentang orang yang diberikan pilihan-pilihan, tapi kau menangis.” Kemudian Abu Bakar R.A. mengatakan, “tidakkah kalian tahu siapakah yang diberikan pilihan itu? Itu adalah Rasulullah SAW, yang beliau telah memilih ar-rafiqul ‘a-la yang berarti teman yang paling tinggi (yakni Allah SWT). Dia memilih untuk kembali kepada Allah SWT.”

Tidak lama kemudian Rasulullah SAW mulai sakit, sakit yang disertai demam tinggi dan kepalanya sakit. Sehingga beliau hanya bisa berbaring di rumah, mulai tidak bisa ke masjid. Rasulullah SAW memerintahkan agar Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. yang mengimami shalat berjamaah.

Pada suatu hari Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. datang terlambat ke masjid, karena jarak dari rumahnya menuju masjid yang cukup jauh. Sehingga Umar bin Khattab R.A. telah mengumandangkan takbir bersiap untuk mengimami shalat, karena orang-orang menyuruhnya. Rasulullah SAW mendengar bahwa bukan suara Abu Bakar R.A., beliau terbangun seraya berkata, “demi Allah! Allah dan Rasul-Nya tidak ridha kecuali Abu Bakar.”. Hal ini disampaikan ke masjid, sehingga Umar yang mendengar hal ini mundur dari pengimamannya kemudian menangis tersedu-sedu dan sangat ketakutan, “celakalah kalian! Kalian telah mendorongku ke tempat yang tidak seharusnya. Celakalah kalian! Mengapa kita tidak menunggu Abu Bakar datang.”, kemudian Abu Bakar datang dan mengimami orang shalat.

Hari berganti hari, penyakit Rasulullah SAW semakin parah. Sebagian mu’arrif (ahli sejarah) berpendapat bahwa racun yang dulu dibubuhkan oleh perempuan Yahudi dalam perang Khaibar itu turut memperparah kondisi Rasulullah SAW di akhir hayatnya tersebut.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW merasa mulai agak enakan dan berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah. Al-Abbas bin Abdul-Muththalib (paman Rasulullah SAW) dan Ali bin Abi Thalib (sepupu Rasulullah SAW) memapah beliau untuk ke masjid. Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. bertakbir, Rasulullah SAW didudukkan di belakang Abu Bakar Ash-Shiddiq. Merasa Rasulullah SAW ada di belakangnya, beliau mundur dari pengimaman. Namun Rasulullah SAW, menolaknya dengan mendorongnya kembali ke pengimaman. Abu Bakar maju sejauh pendorongan tangan Rasulullah SAW, tetapi ketika tangannya terlepas Abu Bakar kembali mundur. Begitu terus sampai tiga kali. Kemudian Abu Bakar R.A. duduk di samping Rasulullah SAW dengan mundur sedikit, dan beliau mengisyaratkan kepada jama’ah untuk melaksanakan shalat secara duduk. Agar Rasulullah SAW dapat mengimami shalat. Karena jikalau imamnya duduk, maka makmumnya juga harus duduk. Maka Rasulullah SAW mengimami shalat dalam keadaan duduk. Setelah shalat Rasulullah SAW menegur Abu Bakar, “ya Abu Bakar, mengapa engkau mundur? Padahal telah kuperintahkan kau menjadi imam.”, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A. menjawab, “sungguh ya Rasulullah, lebih baik tanah di depanku terbuka dan aku terperosok ke dalamnya, lalu bumi menghimpitku sampai aku binasa. Daripada aku menjadi imam, padahal di belakangku ada Rasulullah SAW”. Itu adalah bentuk adab penghormatan beliau kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pun bersabda, “jikalau boleh mengambil khalil (kekasih) dari kalangan manusia, maka akan kujadikan Abu Bakar sebagai khalil-ku”. Tetapi Allah SWT telah cukupkan diantara kami persahabatan dan persaudaraan.

Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan beberapa wasiat kepada para sahabat. Beliau berkata, “aku tinggalkan kalian dengan dua perkara ini. Kalian tidak akan tersesat jika berpegang pada kedua perkara tersebut, yakni a-qur’an dan sunnah.”

Tidak lama kemudian Rasulullah SAW wafat. Kabar tersebut begitu mengguncang Madinah, sebagian orang tidak percaya bahwa Rasulullah SAW wafat. Sayyidina Umar bin Khattab merasa sangat terguncang pula atas berita tersebut, karena betapa besarnya cintanya terhadap Rasulullah SAW. Didepan rumah ibunda Aisyah (tempat Rasulullah SAW menghembuskan nafas terakhir), Umar dengan menghunus pedangnya berjalan bolak-balik kian kemari, mengancam oang-orang yang mengatakan,”demi Allah! Rasulullah tidak wafat. Rasulullah hanya sedang menghadap Allah dan nanti akan kembali. Dulu juga Musa A.S. dikatakan mati, karena beliau bertemu dengan Allah selama 40 hari. Demi Allah! Rasulullah SAW pun demikian. Siapa orang munafik yang mengatakan Rasulullah wafat, maju kemari, akan kupotong lidahnya!”. Hingga akhirnya Abu Bakar (ayah dari Aisyah) datang dan masuk kedalam rumah. Sedangkan Umar tidak dapat masuk karena tidak ada hubungan dengan pemilik rumah, yaitu Aisyah. Beliau melihat dan mencium jasad Nabi seraya berkata, “betapa harumnya dirimu ya Rasulullah ketika engkau masih hidup. Dan betapa harumnya engkau ketika telah wafat. Jika ini kematianmu ya Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengumpulkan dua kematian padamu. Maka, selamat tinggal dan sampai jumpa, ya Rasulullah.”. Kemudian Abu Bakar keluar untuk menenangkan orang-orang. Umar masih tidak mau tenang hingga dibacakan sebuah ayat yang berarti, “siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad mati. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah kekal. Sesungguhnya Muhammad adalah rasul. Dan sebelumnya telah banyak rasul. Apakah setelah Muhammad mati kalian akan kembali ke belakang?”. Setelah mendengar ayat tersebut, Umar terkulai lemas dan berlutut, “seakan-akan ayat itu baru turun ketika Abu Bakar bacakan. Padahal ayat tersebut sering kami baca.”. Maka Abu Bakar berhasil mengatasi krisis pertama yang terjadi, yakni krisis ketika Rasulullah wafat. Abu Bakar memimpin pengurusan jenazah Rasulullah SAW, bersama Al-Abbas bin Abdul-Muththalib (paman Rasulullah SAW), Ali bin Abi Thalib (sepupu Rasulullah SAW), Fadl bin Abbas (putra sayyidina Abbas) dan Usamah bin Zaid di dalam rumah Rasulullah SAW. Kemudian orang-orang berdatangan untuk menyolatkan Rasulullah SAW.

Bersambung......

Wallahu ‘alam bissawab.

Catatan: Menit 0:0 hingga 12:15



Share:

Search in This Blog

Pesan untuk Penulis

Name

Email *

Message *

Another Blog

Tulisan Terbaru!

Witsqa Masak: Yumurtali Patates

DISCLAIMER!  Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasa...