*

Pages

Showing posts with label Cerita Super Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Super Pendek. Show all posts

Wednesday, 10 June 2020

Cerita tentang Berfokus

Beberapa waktu yang lalu, saya berjalan didalam rumah kemudian terduduk di bangku ruang tengah. Saya fokus dengan makanan yang sedang saya nikmati, karena saya purna menyelesaikan shaum saya di hari itu (bandelnya saya tidak makan di meja makan hari itu). Sewaktu saya berjalan, saya merasa kaki saya menginjak sesuatu, dan lagi-lagi cerobohnya saya, saya hanya coba singkirkan tanpa melihatnya. Saya yang sedang terfokus dan asyik dengan hidangan yang sedang dinikmati merasakan ada yang aneh dengan telapak kaki saya itu, seperti terasa perih.  

Ilustrasi

Saya pun melirik telapak kaki saya, kaget bukan main karena darah terlihat keluar dari telapak kaki saya tersebut. Saya kaget melihat darah sendiri dan badan ini seperti membeku. Ternyata bisa jadi serpihan kaca tersebut berasal dari jam dinding yang tergedor saat kami sedang memindahkan barang-barang beberapa hari sebelumnya.

Setelah direnungkan, value yang dapat disimpulkan dari kisah ini adalah....
Jika kita fokus dengan apa yang kita kerjakan, distraksi apapun dari luar bisa terabaikan.

Starve your distractions, feed your focus 😃

Note: I am still learning though
Share:

Sunday, 26 April 2020

Masih pantaskah kami, duhai Aleppo?


“Udah jam 9 malem nih, tidur duluan ah ya!”, ujarku pada kawan sekamarku.
“Iya.”, jawabnya lembut sambil terus menatap layar telepon genggamnya.
Perkiraanku, tepat sepuluh menit setelah aku mematikan lampu kamar, kemudian tergantikan dengan cahaya rembulan yang menyusup malu-malu lewat tirai, kawanku juga turut bergegas mengistirahatkan seluruh otot-ototnya yang cukup mengencang, setelah seharian beraktivitas di musim panas terik kota metropolitan Turki, Ankara.
“Kriiiiiiiiiiiiiinggggg...”
Telepon genggamku berdering dengan sangat kencang dan membuatku terperanjat. Dari balik telepon aku mendengar sebuah keresahan dan kegelisahan yang mendalam, diiringi dengan pertanyaan bertubi dan emosi yang meninggi,
“Wits, kamu lagi apa?”, tanyanya buru-buru.
“Ehhh.... Lagi ti...”, belum lengkap aku menyelesaikan kalimatku.
“Jangan bilang kamu lagi tidur?! Wits!!! Diluar lagi ada rame-rame! Bisa-bisanya kamu tidur?”, pertanyaan yang cukup tendensius terlontar dari mulut kakak kelasku.
“Eh iya, ada apa ini? Biar aku ke kak Jes.”, jawabku seketika tersadar.
“Yaudah. Kontak terus ya kalau ada apa-apa. Assalamu ‘alaikum.”.
Aku masih agak bengong, masih sedikit bergetar, bukan karena dikagetkan dengan telepon yang mendadak di tengah malam. Tapi karena hingar bingar yang tercipta dari luar. Kulihat jam yang terpampang jelas di hape-ku -----pukul sebelas malam-----. Apa yang terjadi diluar sana?
“Maw.. bangun! Itu diluar ada ribut-ribut. Bangun dulu yuk, eh. Cepet!”, ujarku meraih badannya yang masih terbujur kaku dibalik selimut kegelapan malam.
Aku bergegas menemui kakak kelasku yang sedang duduk termangu menatap nanar ke layar komputer lipatnya.
“Kudeta.”, ujarnya.
“Hah? Apa kak?”, tanyaku tak mengerti.
“Iya, lagi terjadi kudeta. Tentara Turki sedang berusaha mengambil alih pemerintahan, masyarakat mengamuk, semua kacau.”, jelasnya terpatah-patah.
“Tapi kenapa? Nga....”, belum sempat aku menyambung kata.
Debum!!!!!!!!
Terdengar sebuah debuman sangat keras yang cukup menggetarkan jendela-jendela flat kami. Dentuman saling bersahutan satu dengan yang lainnya. Dilansir bahwa beberapa oknum telah berulah.
Sonic boom. Itulah dentuman yang berkali-kali kami dengar. Cukup membuat jantung serasa berhenti berdetak untuk sejenak. Sonic boom adalah suara yang berasal dari gerakan suatu benda yang kecepatannya melebihi kecepatan suara. Biasanya, suara-suara tersebut dihasilkan oleh pesawat yang berkecepatan tinggi, contohnya supersonic. Sebelum mengangkat kaki ke atas ranjang sungguh aku telah curiga dengan pesawat-pesawat yang terbang sangat rendah dan terdengar sampai flat kami ini.
Araya bi gidelim1!”, sahut teman Turki kami, yang artinya ayo pergi ke lorong.
Seraya memberikan instruksi kepada kami agar tidak berdekatan dengan jendela. Sonic boom itu lagi-lagi terdengar, kini diikuti dengan shalawat yang terdengar hawar-hawar dari pengeras suara di masjid. Tak lama, terdengar sebuah pengumuman dari pengeras suara tersebut. Berisi ajakan dan himbauan kepada seluaruh masyarakat untuk berbondong-bondong turun ke jalan, simbol perlawanan atas upaya penaklukan yang dilancarkan oleh beberapa anggota tentara Turki. Lalu, sonic boom kembali terdengar.
Seketika itu aku langsung menghubungi keluargaku, untuk sekedar mengatakan aku baik-baik saja atas kekeacauan yang sedang terjadi di tanah ranntau ini, serta meminta maaf atas segala salah, dan memasrahkan diri atas apa yang sedang dan akan terjadi. Dengan harapan, jika terjadi sesuatu padaku, maka keluargaku sudah mengikhlaskannya sedari waktu itu. Jantungku terus berdetak dengan cepatnya.
Tiba-tiba sekelibat ingatan akan kejadian dan kejahatan kemanusiaan di Aleppo membayangiku. Air mata ini tak terbendung lagi dari pelupuk. Ia menjatuhkan diri. Bukan karena aku takut akan apa yang terjadi. Tapi pikiranku saat itu hanya tentang aku disini yang baru mendengar sonic boom dan beberapa keributan saja sudah sangat kocar-kacir dan ingin kembali ke tanah air. Apalagi saudara kita disana, yang sehari-harinya mendengar dentuman bom. Mayat berjatuhan didepan mata. Gedung-gedung yang sudah tidak seperti sedikala. Segala fasilitas yang sudah tak berdaya. Tak ada tempat lain yang dapat mereka sebut sebagai ‘rumah’. Karena rumah-rumah mereka lah yang diluluh-lantakkan oleh manusia-manusia tidak bertanggung jawab. Tidak. Tidak bertanggung jawab sangatlah kurang sesuai, keji. Ya, rumah-rumah mereka diluluh-lantakkan oleh manusia-manusia yang keji. Tidak beradab.
Lalu, bagaimana dengan kami? Masih pantaskah kami mengaku-ngaku saudaramu, Aleppo? Masih pantaskah kami yang sering mati denyut simpati dan empatinya mengaku-ngaku saudaramu, Aleppo? Masih pantaskah? Masih pantaskah Allah SWT menghitung setiap tetes air mata kami yang terjatuh untukmu, Aleppo? Masih pantaskah?
Semoga tak pernah terlambat bagi kami untuk menyuarakan suara kalian yang tak pernah didengar. Semoga tak pernah terlambat bagi kami untuk menghidupkan kembali roh-roh yang mengaku bernama simpati dan empati di hati saudara-saudara kami. Semoga tak pernah terlambat bagi kami untuk memikirkanmu, duhai Aleppo.
Maafkan atas hati yang sempat tertutup debu. Atas mata yang tertutup pembatas tak berwujud. Semoga masih ada kesempatan bagi kami untuk menyelamatkanmu, Aleppo.
***

Pernah dikirimkan untuk berkontribusi dalam buku Antologi Cinta Untuk Aleppo*
29/12/2016 16:32 TRT
*Namun tidak ada informasi lebih lanjut.

Share:

Saturday, 25 April 2020

BEDUG tanpa SAHUR


“Dug..dug..dug.. Sahuuurr...sahuur...”
Senyum simpul dari bibir tipisku disela ketiadaannya cahaya malam itu, membuatku tak lupa untuk senantiasa mengucap syukur pada Sang Maha Kuasa atas masih diberikannya usia. Alhamdulillaaaaahhhh….
***
Brukk!!!
“Ah hanya bunga tidur.”, ujarku seraya menempas kesedihan.
Ini adalah Ramadan ketigaku di tanah orang. Sebuah negara yang keindahannya selalu dielu-elukan oleh siapa saja yang mendengarnya. Negara yang pertama kali membudidayakan bunga tulip, bunga berwarna-warni nan cantik yang memiliki kelopak bunga yang ramping dan lancip, serta memiliki jarak antar helai yang cukup sempit.
Belanda? SALAH BESAR. Aku tidak sedang berdiaspora ke negara kincir angin tersebut, melainkan Turki. Dalam benak beberapa orang masih sangat mungkin tertanam sebuah paradigma bahwa bunga tulip itu berasal dari Kompeni. Faktanya, orang-orang Turki lah yang pertama kali membudidayakan bunga ini pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, lebih tepatnya pada masa kekuasaan Sultan Ahmed III (1703-1730), sampai-sampai masa itu disebut sebagai “Era Bunga Tulip”. Lalu, mengapa bunga tulip bisa tersohor dari Belanda? Karena bunga-bunga tulip tersebut dibawa ke Belanda oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul, dan dengan segala kelihaiannya, Kompeni membudidayakan dan mengekspor bunga tulip secara meluas. Bahkan, tulip menjadi salah satu komoditi andalan Negeri van Oranje tersebut!
Tiga kali menemui Ramadan di perantauan memang benar dapat memberikan indikasi yang sangat berbahaya bagi yang mengalaminya. Homesick menggejala, baper ----istiah yang digunakan oleh "remaja akhir zaman" yang merupakan sebuah akronim dari bawa perasaan---- merajalela, dan terkadang terasa menggigil sepanjang malam (ada survey yang mengatakan bahwa orang yang kesepian cenderung selalu merasa kedinginan).
Sejujurnya, tahun lalu aku sempat berpulang ke tanah air, meski hanya sekedar untuk melepas rindu akan masakan ibu ataupun demi mencium debu kampung halaman. Separuh Ramadan kemarin kuhabiskan di bumi pertiwi, hingga membuatku termenung, mengingatkanku akan sesuatu,
“Aku rindu mendengar bedug sahur..”, ujarku dengan air mata yang terbendung di pelupuk.
Huh..
Kulirik jam yang berdetik dari arloji-ku, ah baru pukul satu malam.
Kebanyakan orang disini berusaha untuk tidak terlelap hingga waktu sahur tiba. Imsak yang diikuti dengan adzan shubuh sekitar pukul 03.29 EET dan fajar yang terbenam sekitar pukul 20.29 EET ini mengharuskan umat muslim disini untuk menahan dahaga, lapar, serta hawa nafsu selama lebıh kurang 17 jam lamanya. Belum lagi terik matahari yang senantiasa menemani kemanapun kaki ini melangkah, menambah cobaan bagi siapapun yang melaksanakan titah-Nya.
Aku terbiasa mempersiapkan sahur sekitar pukul dua dini hari. Itu artinya masih ada satu jam tersisa hingga waktunya tiba. Kunyalakan handphone-ku untuk sekedar membaca artikel-artikel yang telah kusimpan secara offline yang kuanggap menarik. Akupun beralih bertadarus akan kalimat-kalimat-Nya. Ketika sedang tenggelam bersama kalam-Nya, sebuah suara mengalihkan perhatianku. Malam yang panas menuntutku untuk membuka lebar jendela kamarku 24/7. Dan suara itu benar-benar menyelusup kedalam kamarku tanpa filter.
“Dug..dug dug dug..dug dug..”, suara drum ditabuh saling bersahutan.
Aku menyembulkan kepalaku diantara tirai-tirai yang menutupi jendela kamarku, mata ini mencoba mencari sumber suara. Menatapnya nanar. Kini tak mampu kubendung lagi…
“Disini juga ada bedug sahur…..meski tanpa teriakan sahur”, ucapku pelan seraya menghapus air mata.
***

Tulisan ini pernah saya kirimkan ke sebagai bentuk kontribusi PPI Turki dan PPI Sudan
30/06/2016 22:01 TRT
Disunting kembali 21/04/2020 17:50 WIB

Share:

Thursday, 23 April 2020

Buat Lu: Sani! (Jeritan Hati Seorang Sahabat)



“Nanda! Lu gak bisa ya pergi kemana-mana sendiri? Maunya ditemenin mulu.”, ujar Sani ketus.
Gue Nanda, 21 tahun, Mahasiswi Perfilman tahun terakhir, akhir-akhir ini gue udah terbiasa ngedenger omongannya Sani yang suka celetuk gitu aja. Kadang tanpa mikirin perasaan si lawan bicara. Gue gak tau, dari belahan bumi mana anak itu lahir, bisa jadi ampe kayak begitu. Yang jelas itu anak, kadang bikin gue keki, geleng-geleng kepala sendiri ampe puyeng.
Sebenernya Sani itu anak yang cerdas, pintar, cantik, baik, dan yang terpenting care sama sohib-sohibnya. Tapi, semua berubah semenjak negara api menyerang, eh, maksud gue semua berubah semenjak ada cowok yang berhasil mencuri hatinya dan merobohkan benteng pertahanan yang ia buat dengan susah payah dan sangat kuat.
Sebelum bareng sama si doi, Sani sering banget hangout sama gue. Kalau diibaratkan tuh ya, kita itu kayak sepatu deh! Yang gak mungkin jalan masing-masing. Pasti kudu ada sepasang. Gue cerita kayak gini bukan karna gue iri soalnya Sani udah ada yang ngegaet. Tapi ini udah keterlaluan. Kelewat batesan. Menyalahi hak asasi persahabatan yang udah kami berdua ikrarkan dibawah pohon cabe dibelakang rumahnya mpok Sari, yang cerewetnya minta ampun dah!
Emang semenjak sama si doi, Sani jadi rajin masak, dan makin cewek banget. Masakannya? Hmmm… Jangan ditanya. Maknyus dah! Kalah deh itu hotel bintang-bintang sama masakannya sohib gue yang satu ini. Yaaaa….. Itu awalnya doang sih, si Sani rajin masak makanan enak, terus gue disuruh jadi tester nya dulu sebelum mendarat di lidah sang pujaan hati. Gue mah seneng banget lah disuruh begituan. Makan enak dan gratis. Yuhuu. Eh, semakin lama hubungan mereka berjalan, Sani kayaknya lupa punya sahabat macem gue. Ketika dia masak, gue dikasih gorengan sebiji,  lah doi-nya? Sewadah. Itu juga hasil gue pasang wajah mupeng (muka pengen) aja di hadapan dia.
Sani bener-bener udah gak punya lagi waktu ama gue. Buat sekedar ngupil bareng juga kagak ada (ups Sorry!). Suatu hari gue ngajak dia buat makan diluar, karena di kost-an emang lagi kagak ada apa-apa dan gue lagi males berjibaku di dapur.
“San, maksi (makan siang) yuk! Lu yang traktir gue deeh. Heheh”, ajak gue sembari cengengesan.
“Lu pergi aja sendiri, gue mau makan bareng ama yayang gue nih.”, jawab dia lempeng.
“Lu beneran ya….”, ujar gue sungkan buat ngelanjutin.
“…”, dia cuma asik duduk sms-an sembari ketawa-ketiwi kayak mak lampir digelitikin bulu ayam.
***

Kali ini gue ngobrol santai ama Sani di kost-an.
“Eh, gue belum pernah ke taman jomblo loh. Gimana sih caranya kesana?”, tanya gue penasaran sembari ngarep dia mau nemenin gue kesana.
“Oh itu mah gampang. Lu tinggal jalan aja dari yang tulisan DAGO ampe sono. Pergi aja lu sendiri kesono, rame deh.”, jawab Sani super duper singkat.
Jleb! Biar gue tekenin lagi, Sani bilang, “…pergi aja lu sendiri kesono…”, sendiri! Oke cukup tau. Semenjak itulah gue kalau kemana-mana langsung cabut aja sendiri. Kagak pernah ajak-ajak orang.
San.. Kalau lu mau tau, bukannya gue gak suka melakukan apa-apa ataupun pergi kemana-mana sendiri. Tapi kalau sama lu (sahabat gue), bukankah hal sederhana bakal kerasa lebih menyenangkan?
***


Tulisan ini pernah saya kirimkan ke basabasi.co

02/09/2015 21:38 TRT
Disunting kembali pada 21/04/2020 17.31 WIB


Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam setiap postingan artikel yang saya buat.
Semoga dapat diambil manfaatnya..



Share:

Wednesday, 22 April 2020

Persahabatan dibawah janji Illahi


Halo perkenalkan, namaku Dhila. Aku adalah putri kedua dari dua orang bersaudara. Ya, aku si bungsu. Namun, tidak seperti anak bungsu pada umumnya, aku mandiri dan tidak manja, loh! Aku berani jamin deh. Alhamdulillah, aku terlahir dari keluarga yang memegang erat agama Islam. Jadi, kurang lebihnya aku sedikit memahami tentang Islam. Aku adalah mahasiswa tingkat tiga semester ganjil jurusan Statistika di salah satu Universitas ternama didaerahku. Sudah cukup kan berkenalan denganku?
Inilah hariku.
“cuit…cuit…cuit…”
Kicauan burung yang bertengger dekat jendela kamar di pagi hari ini membangunkanku dari tidur lelapku.
“Alhamdulillah. Sudah pagi.”, ujarku dengan penuh rasa semangat.
Tiba-tiba saja aku merasa ada yang kurang dipagi hari yang indah ini.
“Astagfirullah. Jam berapa ini? Duhhh..kesiangan shalat shubuh kan, Dhil!! Cepetan shalat, cepetan shalat.”
Lalu aku lekas mengambil air wudhu dan shalat shubuh. Tak peduli itu jam berapa, yang penting aku tak mau meninggalkan shalatku. Aku tahu, yang aku lakukan itu tak sepenuhnya benar, namun apa mau dikata, daripada tidak samasekali, kan?
Seusai shalat, aku bersiap-siap untuk bergabung sarapan bersama dengan keluargaku yang sederhana ini. Aku menuruni tangga untuk mencapai ruang makan keluarga kami.
“Selamat pagi, anandaku tersayang.”, sapa ibuku dengan penuh senyuman kehangatan, sembari menyiapkan sarapan untuk kami.
“Hari ini hari Sabtu, kamu ada acara gak, nak?”, tanya ayahku yang sedang asyik membaca koran pagi.
“Hmm…Rasanya aku punya janji. Oh, iya temanku dari luar kota mau datang kemari, mau menginap disini, boleh kan? Dhila juga mau ajak dia jalan-jalan disini.”, jawabku.
Tiba-tiba datang sesosok laki-laki bertubuh tambun dengan rambut agak keriting dan agak acak-acakan seperti belum disisir. Siapa lagi? Tidak lain tidak bukan, dia adalah kakak laki-lakiku, Ari.
“Ciye..asik nih yang temennya mau datang. Dari luar kota lagi! Cantik gak? Boleh dong, dikenalin sama kakak.”, timpalnya.
“Wuuh… maunya!!”, jawabku ketus.
***

Seusai sarapan aku bergegas kembali ke kamarku yang nyaman. Kutengok jam yang mengalun berdenting.
“Jam 8? Waaah.. harus cepat-cepat ini. Dhila kamu tuh ya..”, ujarku mengomeli diri sendiri.
Ya, ketika melakukan kesalahan ataupun lalai, aku terbiasa memarahi diri sendiri. Dan berharap keesokannya takkan terulang lagi. Namanya manusia, tidak 100% seperti apa yang diinginkan. Hehehe..
Janjiku bertemu dengan Lestari di stasiun kereta pukul 9 pagi ini, tak ingin aku hancurkan. Seusai mandi dan bersiap, aku dengan mengendarai motor bebek kesayanganku melesat ke stasiun Kereta Api di kawasan Cimanuk.
“Pukul 09.05 WIB, aduh aku terlambat nih. Sekar dimana ya? Jangan-jangan saking lamanya dia nunggu dia balik lagi deh ke Surabaya. Aduh gimana nih ya Allah? Sekar dimana sih kamu?”, bisikku pada diri sendiri.
“DORR!!! Dhilaaaaa…. Finally, kita ketemu lagi Dhil. Kangen kamu pake banget deh Dhil.”
“Duh.. kamu emang paling bisa ya ngagetin orang, tuh! Huh!”, aku berpura-pura marah padanya.
Sekar adalah temanku sewaktu di SMA Nusa Bangsa dulu. Kami bukan sekedar teman, aku merasa dia sudah seperti saudaraku sendiri. Kami memang dekat, sangat dekat. Sekar lebih memilih melanjutkan kuliah perfilman di Surabaya sana. Semenjak lulus SMA, kami berpisah. Raga boleh berpisah, namun hati tetap satu, kami tetap menjaga silaturahmi kami. Pernah pula aku mengunjungi dia di Surabaya, karena memang waktu itu ada saudaraku yang melangsungkan pelaminan di Surabaya.
“Yuk antar aku ke Otista.”, Sekar mengangkat bicara.
Otista itu adalah nama kerennya dari Otto Iskandar Dinata. Sebuah daerah di kotaku tecinta ini, Bandung.
“Ngapain ke Otista? Mau langsung jalan-jalan? Apa gak lebih baik simpan dulu barang-barang kamu, baru kita jalan?”, tanyaku penuh keheranan.
“Aku gak mau nginep ditempat kamu, ah! Ntar abang kamu gangguin aku lagi. Hehehe. Bercanda, Dhil. Keluarga sepupuku yang dari Jakarta rumahnya di Otista. Mereka baru pindah beberapa pecan lalu. Aku juga diamanatin buat nginep disana aja sama papa dan mamaku.”, ujarnya menjelaskan.
“Oh..”, jawabku singkat tanda aku mengerti.
Tanpa pikir panjang, langsung kutancap gas. Melesatlah kami ke Otista.
***

Aku tak pernah tahu Sekar punya sepupu laki-laki. Rafli namanya, tubuhnya semampai menjulur ke langit bak tangga untuk manjat pohon. Penampilannya rapi dan sopan, juga cukup menawan. Hus, istigfar!
“Kenalin ini bestfriend aku, Raf, namanya Dhila. Dhil, ini sepupu aku Rafli, ganteng kan? Hahaha. Rafli ini satu kampus loh sama kamu, Dhil. Dia satu tahun diatas kita, gak tau tuh makannya apaan dia pinter banget, SD sampai SMA kerjaannya dapet kelas akselerasi melulu. Makanya, jangan aneh ya kalau dia panggil aku mba.”, Sekar menjelaskan seluk-beluk sepupunya itu.
“Salam kenal. Aku Dhila, tahun ketiga jurusan Statistika.”, aku berusaha berkenalan dengan sesopan-sopannya.
“Aku Rafli. Jurusan Teknik Komputer. Tahun terakhir.
Eh, mba Sekar, makan dulu yuk. Terus nanti aku kenalin sama dua orang temanku.”, ujar Rafli yang kemudian mengacuhkanku, seolah aku tak ada.
“Mba udah makan, makasih Raf. Sekarang mba pengen beres-beres dulu terus mau jalan-jalan sama Dhila. Kamu sama teman-temanmu mau ikut?”, tawar Sekar kepada Rafli yang tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu.
Aku menatap Sekar berharap telepati hadir diantara kita. Namun, tidak, Sekar tidak memahamiku saat itu. Satu jam kemudian kami semua bersiap untuk jalan-jalan ke sebuah taman rekreasi. Berbekalkan makanan lezat yang dibuat oleh ibunya Rafli, kami berlima berangkat dengan mobil milik Rafli. Oh iya, hampir saja lupa. Kedua temannya Rafli bernama Fahmi dan Aditya.
Aku tidak berekspektasi terlalu banyak mengenai jalan-jalan kami hari ini. Namun, aku merasa ada yang berbeda. Sikap cuek Rafli memang tiada tara. Tapi tidak tahu mengapa, hati ini sedikit bergetar ketika berada didekatnya. Oh, Rafli….. Tidak!! Aku belum mau jatuh cinta. Ini belum saatnya. Jalanku masih panjang, banyak hal lain yang lebih penting yang harus kupikirkan.
Hari itu benar-benar indah, kami makan bersama dan berfoto bersama. Kuberikan flashdisk Toshiba 4GB yang berwana hitam milikku itu untuk meng-copy semua foto yang mengukir kenangan indah di hari itu. Entah aku yang berprasangka lebih atau apa. Kuakui setelah hari itu, Rafli tak pernah lekang dari pikiranku. Sungguh menggelikan! Tidak suka dengan keadaan seperti ini. Aku takut semua hanya anganku saja.
Kupandang lekat-lekat foto-foto kami berlima itu. Di beberapa foto kami berdiri berdampingan. Aku yang memiliki postur tubuh sedikit lebih tinggi daripada Rafli itu terlihat sangat menggelikan jika disandingkan berdua. Tidak! Khayalanku teramat jauh. Sudah melampaui batas. Kuputuskan untuk tidak menghiraukan getaran yang aku rasakan di hari itu. Mungkin itu hanya perasaanku. Mungkin karena selama ini aku jarang sekali berdekatan dengan lawan jenis sedekat itu. Ya, itu benar. Mungkin karena diluar kebiasaanku, jadi muncul perasaan diluar biasanya.
Hari demi hari berlalu, tak pernah kuhiraukan perasaan itu merajai kalbu. Kuacuhkan semua rasaku. Karna aku tahu pasti, perasaan ini salah, tak sebaiknya ada di waktuku sekarang ini. Jalanku masih panjang, banyak hal yang belum kutempuh. Hal sekecil ini tak boleh melenakanku.
Sayangnya, tekadku yang kuat itu berdiri tegap tanpa tameng penghalang. Sedikit sedikit aku mulai goyah. Setiap paginya aku selalu bertemu Rafli, tak bisa kuurungkan, rasanya ingin meledakkan perasaan ini. Aku berusaha menahan semuanya agar dalam kendali. Aku ingat Sang Illahi, memohonkan petunjuk untuk rasa yang membuatku gundah gulana berhari-hari. Hingga akhirnya kuputuskan, bersikap seperti biasa saja. “Ya!! Aku pasti bisa…”, ujarku meyakinkan diri sendiri.
***
Hingga tibalah di suatu hari yang cerah. Angin sepoi menyapu pipi ini, kami sedang terdiam di halaman kampus kami. Benar-benar tanpa sepengetahuanku Rafli ada disitu juga. Rasanya ingin melarikan diri dari tempat itu. Namun, aku bukanlah kucing yang takut dikejar anjing, aku berusaha biasa saja, seolah tidak menyadari kehadirannya. Lama kelamaan, terdengar suara langkah kaki mendekat, ya suara sepatu kets yang tidak asing di telingaku. Siapa lagi, kalau bukan Rafli. Dia mendekat, semakin mendekat. Jantungku berdetak cepat, rasanya ingin pergi dari sini L
“Dhila, sebenarnya aku suka padamu, bukan sejak awal kita berkenalan. Tapi semenjak awal masuk kuliah. Sadarkah kamu? Aku selalu memerhatikan gerak-gerik dirimu. Pertama kali aku melihatmu, biasa saja, namun seiring berjalannya waktu aku jatuh hati padamu. Kamu tau kenapa? Kamu sosok wanita yang shalehah, namun tidak mau terlihat lemah, itu yang aku kagumi pada dirimu. Kamu itu berbeda. Sangat berbeda. Kurang lebih tiga tahun aku memendam rasaku ini padamu, Dhil. Jangankan untuk menyatakan perasaanku padamu, untuk sekedar menyapa saja aku malu. Sekarang aku tlah mengumpulkan semua keberanianku, aku sudah menyatakan perasaanku yang sesungguhnya padamu dan sekarang aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Dhila maukah kamu menjadi kekasihku?”, tanya Rafli, setelah ia panjang lebar mengungkapkan perasaannya kepadaku.
Aku terdiam. Tenggorokanku seperti tercekat beberapa saat.
“Jujur, aku terkejut dan tersanjung, aku tak menyangka kamu menyukaiku selama ini. Dan sebenarnya aku juga memiliki perasaan yang sama padamu. Diawali pada saat kita berlima berjalan-jalan bersama. Tapi, aku ragu, Raf, aku takut. Setiap harinya aku berusaha menghilangkan perasaanku yang aku anggap salah ini. Sebenarnya perasaan ini tak salah, tapi kamu tahu kan didalam Islam tidak ada istilah pacaran? Aku takut, aku takut sama Allah, Raf. Aku harap kamu mengerti, Raf. Maaf L”, jawabku tanpa ingin sedikitpun menyakiti hatinya.
“Aku mengerti maksudmu, Dhil.”, senyum kecut tersungging di wajah rupawan Rafli.
“Mmmm.. Kali ini aku yang mau menyatakan sesuatu, boleh kan? Maukah kamu menjadi sahabatku, Rafli?”, tanyaku dengan suara agak bergetar.
Bisu tak ada jawaban, senyuman mengiris merekah dari bibir Rafli. Isyarat ia bersedia. Hati ini pun turut teriris namun merasa lega. Harapku, semoga inilah yang terbaik bagi kami. Persahabatan dibawah janji Illahi.
***

“Maukah kamu menjadi sahabat hidupku sampai akhir hayatku, Rafli.”, ujarku didalam hati, tak berani aku ungkapkan. Inilah yang sesungguhnya terbisik didalam hati, yang tak mampu, tak mungkin, dan belum saatnya untuk diungkapkan.
Ya Allah, jika dia jodohku dekatkanlah kami dimasa yang engkau ridhai dengan caraMu yang engkau ridhai pula. Namun jika dia bukan jodohku, maka berikanlah ia kebahagiaan dan berikanlah jodoh yang shalehah dan terbaik yang akan menemaninya hingga akhirat kelak.
“Nantikanku di batas waktu, Raf”, bisikku lagi didalam hati.

Lantunan lagu Edcoustic yang berjudul Nantikanku di Batas Waktu menemaniku seraya menutup hari itu.
***

“Aku akan selalu menunggumu Dhila, aku akan terus bersamamu hingga penghujung hidupku. Aku tahu, kamulah yang terbaik untukku. Kamulah tulang rusukku yang hilang.”, bisikan hati Rafli diam-diam.
***



Tulisan ini pernah saya kirimkan ke basabasi.co
02/09/2015 21:38 TRT
Disunting kembali pada 21/04/2020 17.31 WIB


Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam setiap postingan artikel yang saya buat.
Semoga dapat diambil manfaatnya..

Share:

Search in This Blog

Pesan untuk Penulis

Name

Email *

Message *

Another Blog

Tulisan Terbaru!

Witsqa Masak: Yumurtali Patates

DISCLAIMER!  Witsqa Masak merupakan kumpulan resep yang terhitung berhasil untuk dipraktekkan oleh saya. Sumber resepnya sendiri bisa berasa...